TelAviv, LiputanIslam.com – Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Gadi Eizenkot, menilai keputusan penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari Suriah sebagai peristiwa penting, tetapi tak perlu dibesar-besarkan.

“Selama bertahun-tahun kami telah berurusan dengan front ini sendirian, dan tentara Israel telah bekerja secara independen di daerah ini bahkan dalam beberapa tahun terakhir. Kami bekerja untuk memastikan kepentingan Israel,” kata Eizenkot pada konferensi “Tentara dan Masyarakat Israel” yang diselenggarakan oleh Pusat Herzliya, Ahad (23/12/2018).

Mengenai Rusia dia mengatakan, “Kehadiran Rusia di Suriah telah menciptakan situasi baru dan sangat mempengaruhi cara kami menggunakan kekuatan.”

Dia kemudian menyebut Iran dengan bertutur, “Bekerja melawan keinginan Teheran untuk mengembangkan kemampuannya dari Iran melalui Irak ke Suriah dan Libanon telah menjadi upaya utama IDF selama empat tahun terakhir… Ancaman ini disembunyikan dari mata masyarakat Israel, dan kami telah menginvestasikan sumber daya intelijen dan udara yang sangat besar dalam pertempuran ini.”

Senada dengan ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam rapat mingguan kabinetnya mengatakan, “Keputusan penarikan 2.000 tentara AS dari Suriah tidak akan mengubah kebijakan kami… Kami akan terus bekerja melawan kehadiran Iran di Suriah dan, jika perlu, memperluas kegiatan kami di sana. Saya meyakinkan semua orang bahwa kerja sama yang sangat baik dengan AS terus berlanjut sepanjang waktu.”

Statemen Netanyahu dan Eisenkot ini dilontarkan manakala berbagai analisis di Israel menilai keputusan Trump sebagai pukulan bagi Israel, dan tindakannya meninggalkan Israel sendirian dalam upaya mengeluarkan Iran dari Suriah.

Beberapa analisis bahkan menganggap keputusan Trump sebagai bukti “kelemahan dan bisa jadi pengkhianatan” Washington terhadap para sekutunya di kawasan. (mm/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*