Washington, LiputanIslam.com – Gedung Putih mengumumkan bahwa sekira 200 pasukan AS yang disebutnya “penjaga perdamaian” akan tetap bertahan di Suriah di luar rencana penarikan pasukan AS pada musim semi ini.

Pengumuman itu dinyatakan oleh sekretaris pers Gedung Putih, Sarah Sanders, tanpa menyebutkan di mana pasukan itu berbasis, apa tanggung jawab mereka, atau berapa lama mereka akan tinggal, di luar “seperiode waktu.”

Seorang pejabat Amerika Serikat (AS) lain yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa 200 pasukan akan “terbelah tengah” antara daerah-daerah yang dikuasai Kurdi Suriah di timur laut negara itu, dan garnisun Tanf di Suriah tenggara . Pejabat itu mengatakan bahwa totalnya bisa jadi sedikit lebih banyak dari angka itu.

Keputusan itu menunjukkan bahwa instruksi Presiden AS Donald Trump yang diumumkan pada bulan Desember bahwa 2000 tentara AS akan ditarik dari Suriah tidak sepenuhnya dijalankan. Padahal, saat itu Trump beralasan bahwa ribuan tentara itu akan ditarikan karena kelompok teroris ISIS sudah kalah, dan penarikan secara total diharapkan dapat dilakukan pada akhir April mendatang.

Trump memastikan ISIS sudah kalah, namun pejabat pertahanan, anggota parlemen dan beberapa asisten di Gedung Putih justru mengaku prihatin bahwa puluhan ribu teroris tetap tersebar di Suriah dan Irak.

Prancis dan Inggris, yang juga memiliki pasukan di Suriah, menolak permintaan AS agar meninggalkan pasukan di sana demi melanjutkan operasi melawan sisa-sisa gerilyawan dan untuk berpatroli di “zona aman” di sepanjang perbatasan timur laut Suriah dengan Turki, kecuali beberapa pasukan AS tetap ada.

Turki awalnya mengusulkan zona aman 20 mil untuk mencegah apa yang disebutnya serangan lintas-perbatasan Unit Perlindungan Rakyat (YPG), milisi Kurdi yang mendominasi aliansi Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang bersekutu dengan AS. (mm/anadolu/gulfnews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*