presiden suriah bashar assadDamaskus, LiputanIslam.com –   Presiden Suriah Bashar al-Assad menyatakan bahwa tuntasnya perang di Aleppo akan menjadi “terminal besar” menuju berakhirnya perang yang melanda negaranya selama lebih dari lima tahun, dan pihak lawan mengemis gencata karena nasibnya sudah berada di ujung tanduk.

Dalam wawancara dengan al-Watan yang dimuat  hari ini, Kamis (08/12/2016), dia mengatakan, “Memang, perang Aleppo akan menjadi keuntungan, tapi agar kita realitis, ini tidak berarti berakhirnya perang di Suriah,  melainkan terminal besar menuju berakhirnya perang.”

Dia melanjutkan, “Tapi perang di Suriah tidak akan berakkhir kecuali setelah teroris terbasmi sepenuhnya. Para teroris masih ada di kawasan-kawasan lain. Walaupun kami dapat menyudahi perang di Aleppo, kami masih akan melanjutkan perang terhadap mereka.”

Al-Assad berkata demikian setelah Pasukan Arab Suriah (SAA) dan sekutunya mengalami  kemajuan pesat dalam operasi penumpasan kawanan bersenjata yang dimulai sejak pertengahan November. Sejauh ini SAA berhasil merebut kembali sebagian besar kawasan Aleppo timur yang semula dikuasai oleh kawanan bersenjata sejak 2012.

SAA sekarang bahkan dilaporkan telah menguasai 80 persen wilayah Aleppo Timur, dan kekalahan perang kawanan bersenjata dinilai  sebagai kunci SAA dalam penyelesaian tragedi pemberontakan.

“Kegagalan (kawanan bersenjata dan para pendukungnya di luar negeri) di Aleppo merupakan perubahan proses perang di semua bagian Suriah, dan pada gilirannya merupakan kekandasan agenda asing, baik regional  maupun Barat,” ujar al-Assad.

Mengenai gencatan senjata di Aleppo dia mengatakan, “Mereka, terutama Amerika Serikat (AS), bersikeras menuntut gencatan senjata, karena para teroris yang menjadi antek mereka sudah berada dalam posisi sulit.”

Sebagaimana disebutkan dalam statemen yang dirilis kantor kepresidenan Perancis, sebanyak enam negara Barat, yaitu AS, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Kanada, Rabu (7/12/2016) menyerukan gencatan senjata secepatnya di Aleppo demi mengakhiri “tragedi kemanusiaan” .  Mereka menyerukan kepada Iran dan Rusia supaya menggunakan pengaruhnya terhadap pemerintah Suriah agar menerapkan gencatan senjata.

Suriah dilanda gejolak pemberontakan sejak tahun 2011, yang kemudian diperparah oleh fenomena terorisme. Akibatnya, lebih dari 300,000 orang tewas, sejumlah besar fasilitas infrastruktur hancur, dan lebih dari setengah penduduk negara ini mengungsi di dalam dan di luar negeri. (mm/afp)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL