LiputanIslam.com—Amerika tampaknya sedang mengklaim bahwa pertempurannya yang kini tengah berlangsung melawan kelompok teroris ISIS adalah pertempuran yang terakhir. Presiden Trump berteriak mengumumkan akhir hayat kelompok teroris tersebut dalam pertempuran yang sedang berlangsung di Suriah. Meski begitu, klaim dan pengumuman yang terkesan heroik itu nyatanya begitu menyesatkan dan cenderung lebih dimaksudkan untuk menipu orang-orang Amerika serta membentuk opini yang salah bagi publik. Sederhananya, kesesatan tindakan Trump itu bisa terbuka lebar apabila kita menyadari bahwa ISIS tidak bisa dilenyapkan dengan cara perang.

Sejarah peperangan melawan berbagai organisasi teroris semacam ini menjadi bukti atas hal itu. Pada 1996, Angkatan Udara AS membombardir markas-markas Al-Qaeda dan beberapa kamp Osama Bin Laden di Sudan. Pada 2001, militer AS melakukan invasi ke Afghanistan, menggulingkan rezim Taliban, dan kemudian berkoar-koar di muka dunia bahwa dirinya telah berhasil menyapu Al-Qaeda, yang dianggap melakukan serangan 11 September di New York dan Washington. Pada 2003, sedikit banyak, AS telah menghancurleburkan Irak, kecuali yang belakangan diketahui, kamp-kamp Abu Musab Al-Zarqawi pencetak para pemuda yang bahkan lebih ekstrem dari Al-Qaeda, dan organisasi teroris sejenisnya.

Semua aktivitas perang yang dilakukan oleh AS dan sekutunya untuk menghapus organisasi ekstrem telah gagal, dan hasil dari peperangan itu adalah kerusakan seperti terlihat sekarang. Tak perlu laporan dari para ahli untuk menjelaskan kegagalan tersebut. Jika serangan AS ke Sudan pada 1996 itu berhasil, Al-Qaeda mungkin tidak akan mampu melakukan serangan 9/11. Jika invasi militer AS ke Afghanistan itu sukses, maka Al-Zarqawi bersama dengan kamp-kampnya itu tidak akan pernah muncul di Irak. Jika agresi AS ke Irak itu sukses menyapu para teroris, maka kita mungkin tidak akan pernah menemukan kelompok teroris yang sama (ISIS) di Suriah. Kenyataan sudah cukup menjelaskan bahwa perang AS telah gagal menghapus teroris dan ekstremis secara menyeluruh.

Setiap kali kantong-kantong teroris diserang, maka kantong-kantong lainnya kembali muncul dan bisa melemahkan sebuah negara. Namun perlu diingat bahwa kerusakan yang disebabkan oleh perang Amerika itu harus dibayar mahal oleh masyarakat sipil setempat. (Mereka kehilangan mata pencaharian, tempat tinggal, dan bahkan sebagian besar harus mengungsi ke negara-negara lain dengan kehidupan yang tak menentu-ed)

Mengapa memberantas kelompok teroris dengan cara perang itu gagal?

Organisasi teroris tidak seperti struktur militer formal, layaknya militer sebuah negara, yang bisa dikalahkan dengan melancarkan perang seperti pada umumnya. Hal yang paling penting adalah bahwa SDM yang mengisi kelompok-kelompok teroris biasanya adalah anak-anak muda yang frustasi. Para pemuda ini putus asa untuk mewujudkan perubahan politik secara damai dan frustasi untuk menjadi pertisipan politik. Rata-rata mereka berasal dari negara-negara yang kurang menegakkan demokrasi dan HAM, termasuk kebebasan berpendapat. Dalam keadaan frustasi semacam itu, orang-orang semacam ini percaya bahwa kekerasan adalah satu-satunya cara untuk membuat perubahan. Hal ini menjelaskan kenapa ISIS muncul dari puing-puing revolusi Arab Spring dan menjadi respon kontra-revolusioner yang telah menghancurkan harapan terciptanya perubahan politik yang damai di sepanjang Timur Tengah.

Demokrasi, menjunjung tinggi kebebasan dan menghormati HAM adalah satu-satunya cara untuk menghapus habis kekerasan dan terorisme, serta kelompok-kelompok bersenjata yang menyertai mereka. Pemberontakan bersenjata benar-benar sudah tidak diperlukan lagi di negara-negara yang mengedepankan nilai-nilai yang sudah disebutkan itu di tengah masyarakat. Para pemuda akan merasa bahwa berpartisipasi dalam politik yang damai itu bermanfaat, dan mereka akan menjauh dari ekstremisme dan kekerasan.

Bom, rudal, dan serangan militer mungkin akan membunuh beberapa petarung ISIS, tapi tidak akan membunuh ideologi yang mengisi perjuangan mereka. Jika AS dan sekutunya ingin menghapus ISIS dan semua organisasi teroris serupa, maka berhentilah mendukung rezim-rezim tiran di dunia Arab. Mulailah bekerja untuk mewujudkan negara-negara modern yang demokratis.(fd/memo)

 

Tulisan ini diterjemahkan dari sebuah artikel yang berjudul “Daesh cannot be defeated by war” karya Mohammad Ayesh dan diterbitkan oleh middle east monitor.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*