saudi-oil-reutRiyadh, LiputanIslam.com — Arab Saudi dilaporkan mencari pinjaman sebesar $6-8 miliar, dan ha ini merupakan salah satu pinjaman yang paling signifikan yang dilakukan oleh kerajaan selama lebih dari satu dekade.

Saudi, mencari pinjaman untuk menutupi finansialnya yang mengalami defisit. Seperti yang dilaporkan The Independent (10/3/2016), Saudi berusaha mencari pinjaman dalam jangka 5 tahun dan meminta opsi untuk meningkatkan jumlah pinjaman dari batas awal yang ditetapkan.

Seperti diketahui, pada tahun 2015 saja, Saudi mengalami defisit hingga £ 100 miliar.Karenanya, Saudi pun harus menjual aset-asetnya di luar negeri dan menerbitkan obligasi domestik untuk mengurangi defisit.

Penyebab dari defisit ini adalah anjloknya harga minyak, yang berkisar $100 per barel pada tahun 2014, menjadi sekitar $30 per barel pada hari ini.

Saudi juga telah menaikkan harga bensin di dalam negeri hingga 40% dan mengatur tentang pencabutan subsidi untuk air, listrik dan bensin. Selain itu, rakyat Saudi juga mulai dikenakan pajak.

Sebelum harga minyak bumi jatuh sejak pertengahan 2014, Saudi, seperti halnya negara penghasil minyak lainnya di Jazirah Arab, sangat sedikit meminjam uang dari bank-bank internasional. Banyak negara diperkirakan bakal meningkatkan pinjaman mereka pada saat keuangan mereka tak bisa lagi membayar utang-utang dalam negeri.

Pada Januari lalu, Qatar meminjam 5,5 miliar dollar AS dan pada waktu yang hampir bersamaan, Pemerintah Oman juga meminjam 1 miliar dollar AS dari bank-bank internasional. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL