Sumber: Mongabay

LiputanIslam.com — Hamparan air laut yang luas telah menutupi sebagian besar permukaan bumi. Air laut tidak hanya mendukung kehidupan, tetapi juga merupakan mesin yang membuat planet kita terus beroperasi. Apa yang akan terjadi jika kita kehilangan air laut?

Jika dilihat dari luar angkasa, planet kita berwarna permata biru dan putih di tengah kegelapan. Sebagian besar warna khas Bumi berasal dari sejumlah besar air yang menutupi permukaannya, yang kemudian menghamburkan cahaya dari langit di atas.

Tetapi bagaimana jika lautan tiba-tiba menghilang, hilang dalam sekejap mata? Ini tentu akan menjadi berita buruk bagi kehidupan laut yang kaya dan puluhan juta orang yang mencari nafkah dari laut.

Namun, lautan juga merupakan bagian penting dari siklus air planet ini, yang pada gilirannya mendorong cuaca dan iklim. Dengan hanya sedikit air segar di Bumi, marmer biru kecil kita yang subur akan cepat mengering.

Diperkirakan, hampir 40 juta orang di seluruh dunia, penghidupannya bergantung langsung pada lautan. Baik di pesisir, maupun mereka yang menjelajah lautan untuk memanfaatkan isinya. Di sektor ekonomi dunia langsung terdampak, tentunya akan menjalar ke sektor lain seperti industri perkapalan, industri makanan, retail, dan lainnya.

Tentu yang pertama menjadi ‘korban’ hilangnya lautan adalah makhluk hidup yang hidupnya di lautan, atau di air asin. Mereka akan cepat mati. Miliaran makluk hidup besar maupun kecil yang mati ini akan tercecer di pantai dan dasar lautan yang telah kering, dan tak lama tubuhnya membusuk. Tentu akan sulit membayangkan, namun miliaran organisme yang membusuk ini akan mengeluarkan bau tak sedap luar biasa, tak tertahankan.

Hilangnya air lautan akan meninggalkan kekosongan ruang sebesar 1.3 miliar kilometer kubik yang sebelumnya terisi air, yang serta-merta udara akan memasuki ruang kosong tersebut. Ini menyebabkan menurun drastisnya densitas atmosfer. Udara [oksigen] di tempat-tempat yang sejajar dengan permukaan lautan menjadi tipis, seolah berada di ketinggian. Dan tentu saja, mereka yang tinggal di dataran tinggi akan menderita karena udara sangat tipis, seperti kondisi di Death Zone, Gunung Everest. Cuaca global juga akan turun drastis, karena menurunnya molekul udara di atmosfer pada ketinggian tersebut.

Dengan hilangnya 97 persen air dunia, maka siklus air global akan runtuh, hujan maupun salju akan turun makin tipis, yang menyebabkan danau-danau, telaga, dan reservoir akan kering dan hilang secara cepat. Volume air tawar global sebesar 10.633.450 km kubik akan turun drastis dalam waktu singkat.

Awan di langit kita sebagian besar juga akan hilang, dan permukaan Bumi terpapar langsung sinar matahari. Kawasan-kawasan yang dilewati khatulistiwa akan mengalami cuaca amat panas, sementara di bagian lain Bumi, glacier dan es akan dengan cepat mencair dan menguap. Saat ini, volume air tawar, glacier, dan salju abadi di seluruh dunia mencapai 24.064.000 km kubik.

Phytoplankton lautan selama ini memproduksi 2/3 oksigen dunia dan menyerap karbon dari atmosfer. Hilangnya lautan akan membuat phytoplankton otomatis menghilang, membuat kadar oksigen turun, dan di saat yang sama kadar karbon dioksida naik.

Tanaman dengan cepat mati dan kering. Kebakaran akan dengan sangat mudah terpicu di hutan-hutan, padang rumput, tundra, dan tempat lain yang menyebabkan hilangnya banyak sumber makanan makhkuk hidup. Kebakaran ini juga akan menghasilkan banyak gas rumah kaca berbahaya, menghilangkan penghasil-penghasil oksigen selama ini.

Bagaimana dengan manusia? Hilangnya sumber makanan dan air membuat kehidupan manusia takkan bertahan lama. Dalam waktu tak terlalu lama, Bumi akan menjadi planet yang tak bisa ditinggali makhluk hidup, kecuali organisme-organisme seperti tardigrada.

Baca juga: Gletser Mencair, Lima Pulau Baru Ditemukan

Dalam rentang waktu geologi lama, tanpa adanya hujan dan glacier yang meluluhkan bebatuan, pegunungan akan membesar, dan angin yang dipicu oleh arus termal akan mengikis permukaan Bumi pelan-pelan. Dalam jangka waktu lama, permukaan Bumi akan sangat berbeda dengan yang kita kenal saat ini.

Tak lagi perlu menahan beban es dan air lautan maka kerak bumi akan menyeruak, menyebabkan kenaikan aktivitas vulkanik global.

Massa Planet Bumi juga akan berubah lebih ringan, dalam rentang jutaan tahun. Hal ini akan mengubah orbit bumi, menjauhkannya dari matahari dan membuatnya menjadi planet mati. (Ay/BBC/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*