Sumber: gasworld

LiputanIslam.com — Konsentrasi gas rumah kaca yang membuat iklim semakin panas telah mencapai rekor tertinggi, menurut laporan dari Organisasi Meteorologi Dunia PBB (WMO).

Lompatan gas-gas utama yang diukur pada tahun 2018 lalu menunjukkan bahwa gas tersebut di atas rata-rata selama dekade terakhir. Hal ini mengindikasikan aksi darurat iklim sampai saat ini tidak memiliki efek apapun di atmosfir. WMO mengatakan ada kesenjangan antara target aksi dan kenyataan.

Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca akibat peningkatan emisi global yang tak terhindarkan di tahun 2018. Para ilmuwan dunia berharap bahwa emisi tersebut harus turun hingga setengahnya pada 2030 mendatang, agar memberikan peluang yang baik untuk membatasi pemanasan global menjadi 1.5C. Selain itu juga ratusan juta orang akan menderita lebih banyak lagi akibat gelombang panas, seperti kekeringan, banjir, dan kemiskinan.

Tetapi Petteri Taalas, sekretaris jenderal WMO, mengatakan: “(Meski tahun terus bertambah dan aksi darurat iklim terus dilakukan), tidak tanda-tanda pelambatan, apalagi penurunan, terlepas dari semua komitmen di bawah perjanjian Paris tentang perubahan iklim. Kita perlu meningkatkan tingkat ambisi demi kesejahteraan umat manusia di masa depan.”

“Perlu diingat bahwa terakhir kali Bumi mengalami konsentrasi karbon dioksida yang sebanding adalah 3-5 miliar tahun yang lalu. Saat itu, suhu 2-3C lebih hangat dan permukaan laut 10-20 meter lebih tinggi dari sekarang.”

Tiga perempat dari pengurangan emisi yang dijanjikan oleh negara-negara di bawah perjanjian Paris tahun 2015 lalu terbukti “sama sekali tidak terwujud”, menurut laporan analisis yang diterbitkan sebelumnya pada bulan November, menunjukkan bahwa dunia berada pada jalur menuju bencana iklim.

“Angka [konsentrasi CO2] adalah yang paling dekat dengan Doomsday Clock di dunia nyata, dan ini mendorong kita semakin dekat ke tengah malam,” kata John Sauven, kepala Greenpeace UK.

“Kemampuan kita untuk melestarikan peradaban seperti yang kita harapkan, mencegah kepunahan massal spesies, dan meninggalkan planet yang sehat bagi anak-anak kita bergantung pada usaha kita untuk segera menghentikan peningkatan gas rumah kaca.”

Laporan WMO, yang diterbitkan pada hari Senin (25/11), menyimpulkan bahwa konsentrasi rata-rata global CO2 mencapai 407,8 bagian per juta pada tahun 2018, naik dari 405,5 ppm pada tahun 2017. Sekarang 50% lebih tinggi daripada tahun 1750, sebelum revolusi industri memicu pembakaran batu bara yang besar.

Sejak 1990, peningkatan kadar gas rumah kaca telah membuat efek pemanasan atmosfer 43% lebih kuat. Sebagian besar dari itu – empat perlima – disebabkan oleh CO2. Tetapi konsentrasi metana dan dinitrogen oksida, dua gas rumah kaca utama lainnya, juga melonjak pada tahun 2018 dengan jumlah yang lebih tinggi daripada rata-rata tahunan selama dekade terakhir.

Metana, yang dihasilkan dari ternak, sawah dan eksploitasi bahan bakar fosil, menjadi penyebab sebesar 17% dari efek pemanasan global. Konsentrasinya sekarang lebih dari dua kali lipat tingkat pra-industri.

Nitro oksida, yang berasal dari penggunaan pupuk berat dan pembakaran hutan, sekarang 23% lebih tinggi dari tahun 1750. Pengamatan dilakukan oleh jaringan Global Atmosphere Watch, yang mencakup stasiun di Kutub Utara, pegunungan tinggi dan pulau-pulau tropis.

Baca juga: Krisis Iklim, Pasokan Pangan, dan Kurang Gizi

“Kenaikan rekor konsentrasi gas rumah kaca adalah pengingat bahwa semua kemajuan nyata dalam teknologi bersih belum menghentikan peningkatan emisi global,” kata Nick Mabey, kepala eksekutif think tank E3G.

“Sistem iklim tidak bisa dinegosiasikan. Sampai kita benar-benar menghentikan investasi dalam bahan bakar fosil dan meningkatkan tenaga hijau secara besar-besaran, risiko dari bencana perubahan iklim akan terus meningkat.”

Ketika negara-negara di dunia menyetujui kesepakatan Paris pada 2015, mereka berjanji untuk meningkatkan pengurangan emisi yang dijanjikan oleh KTT iklim tahunan PBB pada 2020, yang akan diselenggarakan oleh Inggris di Glasgow. KTT tahun ini perlu melakukan pekerjaan persiapan penting dan dimulai pada 2 Desember nanti di Madrid, Spanyol. Sebelumnya Chili telah ditetapkan menjadi tuan rumah tetapi dibatalkan karena kerusuhan sipil.

Richard Black, direktur Unit Intelejen Energi dan Iklim di Inggris, mengatakan: “Tingkat rekor gas rumah kaca ini sebagai pengingat serius bagi pemerintah bahwa sejauh ini mereka secara kolektif mengingkari janji yang mereka buat di KTT Paris. Jendela kehancuran iklim itu semakin dekat, dan Chili, Italia, dan Inggris [harus] menggunakan semua alat diplomatik yang mereka miliki untuk menempatkan emisi pada lintasan yang lebih dekat dengan apa yang direkomendasikan sains dan yang diinginkan masyarakat.” (Ay/Guardian)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*