Sumber: Merdeka

LiputanIslam.com — Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kerusakan hutan hujan tropis di seluruh dunia telah menambah emisi gas rumah kaca yang berdampak pada iklim.

Penelitian yang dipimpin oleh Universitas Queensland tersebut telah menemukan dampak iklim dari penebangan selektif, penebangan habis-habisan dan kebakaran di hutan hujan tropis antara tahun 2000 dan 2013 yang membiarkan 6,53 miliar ton CO2 tak terserap dengan baik.

James Watson dari University of Queensland dan Wildlife Conservation Society mengatakan: “Kami telah memperlakukan hutan sebagai satu dimensi yang cantik, tetapi kami tahu degradasi hutan akan berdampak pada jumlah karbon.”

Ketika negara-negara menyatakan bahwa emisi gas rumah kaca makin meningkat akibat perubahan hutan, mereka tidak memperhitungkan CO2 yang hutan akan terus rendam selama beberapa dekade seandainya hutan tidak ditebangi atau rusak.

Studi tersebut diterbitkan dalam jurnal Science Advances. Studi tersebut juga memperhitungkan emisi hingga tahun 2050 – jangka waktu yang relevan dengan perjanjian perubahan iklim global Paris.

Studi ini menemukan bahwa terdapat 6,53 miliar ton CO2 yang terhambur akibat kerusakan hutan dan dampak kerusakan lainnya yang tidak terhitung.

Sebagai perbandingan, hingga Maret 2019, emisi Australia mencapai 538,9 juta ton CO2e (setara karbon dioksida) – atau 0,54 miliar ton CO2e. Emisi global dari pembakaran batubara pada 2017 adalah 14,6 miliar ton CO2.

“Terus terang, di dalam gerakan lingkungan telah ada dorongan besar untuk menangani emisi berbasis batubara, dan peran transportasi dan pesawat terbang. Itu penting, tetapi yang kemudian dilupakan adalah hutan,” kata Watson.

Studi ini hanya menghitung emisi dari hutan tropis saja. Secara total, hutan dunia menyerap sekitar 28% dari emisi yang disebabkan manusia antara 2007 hingga 2016. Hutan tropis menyumbang sekitar setengah dari penyerapan tersebut.

“Kami hanya melihat hutan tropis dan kami belum melihat hutan lainnya. Tentu angkanya akan sangat mengejutkan,” kata Watson.

“Dari sudut pandang kebijakan, ini adalah sebuah kisah yang cukup horor, tetapi ini juga menunjukkan sebuah solusi sederhana,” katanya, seraya menambahkan bahwa menjaga hutan tetap utuh dan memperhitungkan manfaatnya dengan benar akan membuat negara-negara lebih unggul dan kompetitif.

Baca juga: Gletser Mencair, Lima Pulau Baru Ditemukan

Penulis utama Sean Maxwell dari University of Queensland mengatakan: “Berapa jumlah emisi yang dilepaskan ketika hutan utuh dihancurkan. Analisis kami mempertimbangkan semua dampak seperti efek tebang pilih, lenyapnya penyerapan karbon, perluasan efek di tepi hutan dan kepunahan spesies hutan.”

Pep Canadell dari CSIRO dan Global Carbon Project, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa temuan itu sangat relevan.

“Temuan itu menunjukkan bahwa jika tujuan akhir kita dari konservasi hutan adalah perubahan iklim, maka ada banyak komponen lagi yang tidak kita perhitungkan dalam penghitungan karbon,” katanya.

“Saya pikir angka atau jumlah [dalam penelitian ini] masuk akal. Mereka telah mengembangkan suatu kerangka kerja di mana kita dapat melihat efek jangka panjang dari konservasi hutan demi iklim planet kita.” (Ay/Guardian)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*