LiputanIslam.com–Minyak goreng secara aman disebutkan hanya dapat digunakan maksimal 3 kali, dengan suhu di bawah 125 derajat celcius. Memasak dengan suhu di atasnya, mempercepat oksidasi dan degradasi minyak goreng. Setelahnya, proses penggorengan menghasilkan berbagai  radikal bebas yang bersifat karsinogen,  diserap dan merusak gizi makanan yang membahayakan kesehatan. Dapat merusak  sel-sel tubuh, membran dan fungsi sel  tubuh, memicu peningkatan risiko stroke, obesitas, jantung, dan lainnya.

Minyak goreng bekas atau jelantah bisa mencemari lingkungan jika dibuang sembarangan, contohnya dibuang ke saluran air yang kemudian akan mencemari air lingkungan sekitar termasuk kualitas  sumber air tanah sebagai air minum  harian. Lainnya teralirkan ke laut dan bisa mengancam biota laut. Belum lagi membuat saluran pipa mampet akibat lemak jelantah yang membeku.

Setiap rumah pasti memproduksi minyak jelantah, jika pernah menggoreng. Ke mana jelantah itu? Daripada mencemari lingkungan, lebih baik mengubah jelantah menjadi sabun atau biodiesel yang bermanfaat.

Di Kota Denpasar, Bali, terdapat Yayasan Lengis Hijau yang mampu mengolah jelantah menjadi biodiesel, pengganti bahan bakar solar. Yayasan tersebut dirintis oleh Caritas Switzerland, lembaga bantuan sosial global dari Swiss bekerja sama dengan pemerintah kota Denpasar.

Saat ini diberi merk BioTech B100, bahan bakar mesin diesel dari bahan bakar nabati. Ini adalah bioenergi yang menghasilkan emisi karbon monoksida lebih rendah dibanding solar minyak bumi.

Pengolahan jelantah menjadi biodiesel tersebut diniatkan sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi karbon penyebab perubahan iklim karena penggunaan solar dan mengurangi paparan limbah jelantah yang dibuang sembarangan ke sumber air.

Jelantah yang langsung dibuang bersama dengan sampah lainnya, nantinya akan terurai melalui proses penguraian anaenerobik menjadi Metana. Metana atau  gas metan adalah salah satu gas rumah kaca yang berbahaya, sekitar 25 kali lebih berbahaya dibandingkan CO2 (karbondioksida). Metana disebut penyumbang terbesar terjadinya perubahan iklim akibat pemanasan global.

Baca juga: Shower: Alat Penghasil Listrik dari Air Limbah

Pengolahan daur ulang jelantah menjadi biodiesel menerapkan teknik filtrasi mekanis dikombinasikan dengan konversi kimia. Memanfaatkan mesin dengan teknologi  modern FuelMatic GSX 3 dari Inggris, dengan kapasitas produksi 1.000 liter per satu kali proses dengan durasi 8 jam.

Biodiesel dihasilkan tak hanya dari jelantah yang mayoritas sawit, juga banyak diversifikasi dari tumbuhan lain. Lebih ramah lingkungan karena terbuat dari sumberdaya hayati, sehingga lebih mudah terurai. Lengis Hijau menyebut biodiesel dapat digunakan langsung untuk mesin diesel atau campuran solar. Tidak dibutuhkan modifikasi mesin untuk penggunaannya.

Selain biodiesel, jelantah juga bisa diolah menjadi sabun. Secara ringkas, bahan yang digunakan adalah Natrium Hidroksida (NaOH) atau lebih dikenal dengan soda api dicampur air kemudian tunggu agar panasnya menguap. Ini adalah bahan alkali, material utama membuat sabun. Di wadah lain, minyak jelantah yang sudah disaring. Ini adalah asam lemaknya. Bisa juga menggunakan lemak nabati lain seperti minyak kelapa atau zaitun.

Bahan alkali dan asam lemak dicampur, diaduk perlahan sampai mengental. Bisa menggunakan pengaduk manual atau mesin asal kecepatannya rendah. Makin rata makin baik, sehingga tak menggumpal.

Ini disebut proses saponifikasi, suatu proses di mana asam lemak direaksikan dengan natrium atau kalium hidroksida untuk menghasilkan garam asam lemak atau sabun.

Ketika menggunakan NaOH maka akan menghasilkan sabun padat. Jika menggunakan kalium hidroksida (KOH) maka akan menghasilkan sabun lembut, dilarutkan ke dalam air menjadi sabun cair. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*