Sumber: National Geographic

LiputanIslam.com — Mikroplastik memiliki dua jenis, primer dan sekunder. Keduanya berbahaya bila masuk tubuh, baik tubuh ikan maupun tubuh manusia seperti memicu kanker, degeneratif, atau gangguan pada sistem hormon.

Mikroplastik terbuat dari senyawa-senyawa anorganik yang tidak selayaknya berada di dalam tubuh.

Pada 2018 lalu, Ecoton [Ecological Observation and Wetlands Conservation] telah melakukan penelitian kandungan mikroplastik pada lambung 132 ikan di Sungai Brantas. Berdasarkan riset tersebut, 80 persen lambung ikan mengandung mikroplastik. Akibatnya, ikan menjadi interseksual atau memiliki jenis kelamin tidak menentu karena adanya Endrocine-Disrupting Chemicals [EDC] yang mengganggu sistem hormon. EDC mengganggu pembuahan ikan yang berlangsung eksternal.

Selain mengganggu sistem pembuahan ikan, pengamat lingkungan Universitas Indonesia Tarsoen Waryono menjelaskan bahaya mikroplastik yang berpotensi mencemari lingkungan perairan secara keseluruhan karena tidak dapat hancur dalam tubuh biota perairan.

“Mikroplastik di perairan laut, banyak tertelan oleh hidupan perairan laut, karena bentuknya mirip dengan hidupan planton makanan ikan,” katanya.

Dalam mata rantai makanan, mikroplastik dimakan ikan kecil, kemudian ikan kecil dimakan ikan besar. Mikroplastik tidak dapat hancur dan akan terakumulasi dalam tubuh biota perairan atau laut. Bahkan mikroplastik mampu menembus peredaran darah para hewan yang tinggal di laut.

Tidak hanya ikan, Ecoton juga meneliti kandungan mikroplastik dalam tubuh manusia melalui uji feses manusia. Total 40 feses [kotoran manusia] yang diteliti, dari target 100 sampel yang diperoleh dari partisipan berbagai kota di Jawa dan Bali.

Hasilnya menunjukkan, tak satu pun sampel luput dari kontaminasi mikroplastik. Bentuknya bermacam, ada fragmen, filamen, fiber, dan granula. Dalam 10 gram feses, atau bila digambarkan setara dengan ukuran ibu jari, jumlahnya berkisar 2 hingga 15 partikel per milimeter.

Baca juga: Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Solar di Madura

Penelitian serupa juga pernah diteliti di Austria. Para peneliti dari Environment Agency Austria dan Medical University of Vienna menganalisis sampel feses dari delapan partisipan negara, meliputi Italia, Jepang, Polandia, Belanda, Rusia, Inggris, Finlandia, dan Austria. Hasilnya, seluruh feses partisipan positif mengandung mikroplastik.

Mikroplastik bersifat layaknya transporter, memiliki kecenderungan mengikat bahan-bahan lain seperti limbah, logam berat, deterjen, pestisida, dan racun.

“Ketika masuk tubuh, akan menyumbang chemical plastiknya sendiri, juga akan melepaskan penumpang-penumpang yang dibawa. Itu semua akan diserap tubuh, sementara fisik mikroplastik akan keluar melalui feses karena tidak tercerna,” terangnya. (Ay/Mongabay/Republika/Kompas)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*