Beijing, LiputanIslam.com—China saat ini tengah terperangkap dalam pertumbuhan ekonomi yang melambat, akibat tingkat utang yang tinggi dan perang dagang dengan AS yang berdampak pada menurunnya tingkat ekspor dari negeri Tirai Bambu itu ke AS.

Meskipun demikian, menghadapi liburan Imlek, warga China masih bersemangat untuk berlibur baik di dalam maupun di luar negeri.

Lebih dari 400 juta warga China diperkirakan akan melakukan perjalanan saat Imlek, naik dari 386 juta pada tahun lalu, menurut data yang dikumpulkan oleh Ctrip. Sekitar 7 juta diperkirakan akan melakukan perjalanan ke luar negeri, naik dari sekitar 6,5 juta pada tahun 2018.

Salah satu maskapai terbesar China, China Southern Airlines, memperkirakan akan mengangkut lebih dari 12 juta penumpang pada periode tersebut, naik 4% dari 2018.

Perusahaan ini sementara melakukan penambahan jumlah penerbangan hingga hampir 5.300, di mana 500 didedikasikan di rute internasional, termasuk penerbangan antara Guangzhou/ Shenzhen dan Asia Tenggara.

China Eastern Airlines juga menambahkan penerbangan tambahan pada bulan Februari, termasuk rute antara Shanghai dan Nagoya, Jepang.

Data dari Ctrip,  platform perjalanan online terbesar China, pelancong keluar China telah memesan tur di lebih dari 96 negara dan wilayah, dengan jangkauan terjauh yaitu Antartika. Thailand tetap menjadi tujuan paling populer di kalangan warga China tahun ini, diikuti oleh Jepang. Menurut agen perjalanan dan otoritas pariwisata di Thailand dan Jepang, pemesanan tahun ini akan menjadi migrasi manusia tahunan terbesar di dunia.

 

Pemerintah Beri Subsidi Konsumsi

Sementara itu, menurunnya konsumsi warga China membuat pemerintah memberikan subsidi bagi konsumen rumah tangga untuk membeli peralatan elektronik. Langkah ini diperkirakan sebagai upaya pertama dari serentetan insentif yang dipercaya akan dikucurkan pemerintah demi menghidupkan kembali konsumsi swasta.

Media pemerintah mengumumkan insentif yang memberi subsidi rumah tangga Beijing hingga US$120 (Rp 1,7 juta) setiap kali mereka membeli televisi atau kulkas. Program subsidi ini akan berlangsung selama tiga tahun. Subsidi ini mencakup 15 kategori peralatan, dengan ketentuan bahwa mereka harus hemat energi, dilansir dari CNBC International, Senin (4/2/2019).

Produk domestik bruto China tumbuh 6,6% tahun lalu, laju paling lambat dalam 28 tahun. Sejalan dengan ekonomi yang lebih lambat, pendapatan per kapita naik 6,5%, dibandingkan 7,3% pada 2017.

Melambatnya perolehan pendapatan terjadi karena biaya hidup, terutama perumahan, terus meningkat sementara utang rumah tangga semakin tinggi juga, dan karena meningkatnya pinjaman hipotek di tengah harga properti yang tinggi. (ra/cnbcindonesia)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*