Vatikan, LiputanIslam.com–Setelah beberapa dekade Gereja Katolik diterpa kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak, Paus Francis berupaya menyelesaikan krisis ini dengan memanggil para uskup senior dari seluruh dunia ke Roma. Dalam konperensi tingkat tinggi (KTT) yang akan berlangsung Kamis hingga Minggu (21-24 Februari) itu, 190 pemimpin Katolik, termasuk 10 wanita, akan berkumpul.  Peristiwa ini menandai pertama kalinya dalam sejarah bahwa seorang Paus telah memanggil para uskup senior untuk membahas pelecehan seksual.

Tekanan terhadap Gereja Katolik ini telah meningkat selama beberapa tahun terakhir, sehingga beberapa uskup senior mengatakan masalah ini mengakibatkan kredibilitas Gereja Katolik sangat dipertaruhkan. Menurut Kantor pers Vatikan, tujuan KTT yang bertajuk “Perlindungan Anak di Bawah Umur di Gereja” ini adalah mencari upaya mencegah dan menangani pelecehan seksual.

KTT berfokus pada berbagi praktik terbaik dalam menangani pelecehan, mendidik para uskup tentang masalah itu, dan pada meningkatkan transparansi, tanggung jawab dan akuntabilitas di gereja. Namun demikian, KTT tidak akan membahas reformasi hukum kanon.

Paus telah meminta mereka yang diundang untuk berdoa untuk pertemuan ini.

KTT ini penting karena setidaknya ada tiga alasan. Pertama, meskipun pertemuan serupa telah terjadi di masa lalu, ini adalah pertama kalinya seorang paus memanggil uskup senior untuk itu. Kedua, Paus Fransiskus telah memberikan perhatian lebih banyak kepada para penyintas pelecehan seksual. Dia telah bertemu beberapa dari mereka dan mendesak para uskup untuk melakukan hal yang sama di negara mereka sebelum berangkat ke Roma. Beberapa korban juga akan memberikan kesaksian mereka di KTT.

Akhirnya, Vatikan telah mengakui bahwa pelecehan seksual adalah masalah global di gereja, dan bukan hanya masalah di beberapa negara tertentu.

Tidak semua orang setuju tentang pentingnya KTT, tetapi kebanyakan orang menyambutnya sebagai perkembangan positif.

“Bagi para penyintas yang telah hidup selama 25 tahun, seperti saya, ini adalah pencapaian yang luar biasa. Bertahun-tahun yang lalu, ini tak terbayangkan,” kata Peter Isely, seorang penyintas, kritikus Vatikan dan anggota pendiri Ending Clergy Abuse (ECA) Global. (ra/aljazeera)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*