LiputanIslam.com–Raja Arab Saudi, Raja Salman telah memulai tur satu bulan ke Asia untuk membangun ikatan dengan negara-negara pengimpor minyak Saudi dan mempromosikan kesempatan investasi, termasuk penjualan saham pada perusahaan minyak raksasanya, Saudi Aramco.

Raja Salman telah memulai rencana reformasi ekonomi sejak dua tahun yang lalu, disebabkan oleh kesulitan ekonomi yang dihadapinya akibat jatuhnya harga minyak dunia. Dalam dua tahun terakhir, Saudi mengalami defisit sangat besar. Pada tahun 2015, jumlah defisit adalah 98 milyar Dollar (15% dari GDP-nya), sedang tahun 2016 sebesar 79 miliar Dollar.

Meskipun Saudi memiliki cadangan minyak yang sangat besar, namun tak pelak lagi, perang minyak yang dilancarkannya untuk mengguncang Iran itu telah membakar devisanya sendiri. Menurut Saudi Arabian Monetary Agency, cadangan devisa Saudi menurun jadi  648 miliar Dollar pada 2015 (tahun sebelumnya adalah 742 miliar Dollar). Pada 2016, menurun lagi jadi 555 miliar Dollar.

Meskipun sumber defisit adalah jatuhnya harga minyak, Arab Saudi tetap menolak untuk mengurangi produksi minyaknya. Saudi sejak awal berharap krisis ekonomi akibat melimpahnya produksi minyak Saudi (sehingga menjatuhkan harga pasar) akan mengguncang Iran dan Rusia. Namun keduanya tetap bisa bertahan, sementara Saudi sendiri semakin kerepotan.

Raja Salman dijadwalkan mengunjungi Malaysia, Indonesia, Jepang, dan China. Menteri Energi Khalid al Falih dan para eksekutif Aramco akan mendampingi perjalanan Raja pertaman kalinya di luar Timur Tengah dan Afrika utara ini, setelah ia mengunjungi AS pada 2015.

Pejabat Saudi ingin mengundang investor Asia dalam penjualan 5% saham di Aramco pada 2018, yang diharapkan menjadi IPO terbesar di dunia dan dalam proses penjualan ini Saudi memiliki penasehat finansial dari bank-bank yang terhubung ke China.

Perusahaan dan perbankan Asia juga diharapkan memainkan peran utama dalam membangun industri non-minyak dan memperluas investasi internasional. Semua ini merupakan upaya kerajaan untuk melepaskan diri dari ketergantungan kepada cadangan minyak.

Pada Agustus 2016 lalu, kerajaan Saudi menandatangani 15 perjanjian pendahuluan dengan China, mulai dari pembangunan rumah di saudi Arabia hingga proyek air dan penyimpanan minyak. Penandatanganan ini dilakukan dalam kunjungan putra Raja Salman, Wakil Pangeran Mahkota Muhammad bin Salman, yang menjadi ujung tombak dalam rencana reformasi ekonomi ini.

Saudi juga menyepakati investasi sebesar 45 milyar Dollar untuk dana teknoologi baru dengan kelompok perbankan Jepang, SoftBank Group.

Sementara mendorong ke arah diversifikasi, Arab Saudi pada saat yang sama memperkuat posisinya sebagai pengekspor minyak terbesar dan meneguhkan dirinya sebagai penyuplai minyak utama di pasar Asia. Di China, yang merupakan konsumen minyak terbesar kedua di dunia setelah AS, Saudi telah menggantikan Rusia sebagai penyuplai minyak terbesar.

Di Indonesia, masih belum jelas, apakah Saudi akan menawarkan pengusaha Indonesia untuk berinvestasi di Saudi, atau Saudi yang akan berinvestasi. Selama ini Saudi sangat sedikit berinvestasi di Indonesia, hanya 0.02% dari total investasi yang masuk ke Indonesia selama 2010-2015. Namun dalam kunjungan Pangeran Al Waleed Mei 2016, Presiden Jokowi sudah menawarkan investasi di bidang infrastruktur dan maritim. (dw/indiatimes)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL