Foto: Detik

Foto: Detikno: 

Jakarta, LiputanIslam.com — Kamar berukuran 2X3 meter itu terasa pengap. Dinding dan pintunya terbuat dari triplek tipis. Atapnya tampak seperti mau rubuh. Terlihat ada sebuah kasur usang dan beberapa bantal terhampar di dalam kamar yang dibangun di trotoar pagar kawasan tugu proklamasi, Jakarta Pusat.

‎Kamar tersebut menjadi tempat tinggal Arsilan, seorang tukang kebun Bung Karno selama 11 tahun. Arsilan yang dulu juga pernah ikut berperang melawan orang Indonesia yang menjadi kaki tangan Belanda. Namun, Arsilan mengaku kamar yang ditempati drinya itu bukan miliknya, tapi ia juga tidak menyewa.

Saat ditemui, Arsilan masih terlihat gagah. Dia mengenakan seragam tentara loreng. Di lengan kanan seragam itu tertulis Yon Serna Trikora. Sementara di lengan kiri tertulis Markas Besar Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia (Mabes PKRI).

Arsilan juga masih mampu memperagakan bagaimana nyanyian tentara Jepang saat baris-berbaris. Lagu jepang itu berjudul ‘Miyoto’.

Arsilan merupakan salah satu saksi mata ketika proklamasi dibacakan pada tanggal‎ 17-8-1945. Pria yang lahir tahun 1924 ini menjadi tukang kebun Bung Karno dengan mengikuti orangtuanya. Saat itu, ia menempati sebuah ruangan di dekat dapur umum di rumah Bung Karno yang kini telah menjadi taman tugu proklamasi.

“Bung Karno bikin lapangan tenis, saya disuruh jaga dan bersihin. Yang main Sutan Sjahrir, Ali Budiarjo sama Wilopo, dulu jaman kabinet sementara, TB Simatupang.‎ Rumah Bung Karno dibongkar tahun 1962. Terus pindah ke Bogor, saya ikut,” katanya saat berbincang di depan kediamannya, Minggu (17/8/2014).

Saat Bung Karno wafat tahun 1970, pria asal Serang, Banten ini menceritakan, Ibu Hartini membeli rumah di depan taman tugu Proklamasi tahun 1972. Arsilan menjadi penjaga malam dan mengasuh anak Bung Karno dengan Hartini, Bayu dan Topan, sejak‎ tahun 1973 sampai 2003.

“Keluar dari rumah Ibu Hartini, saya buka warung di sini, dagang surabi, gak lama,” katanya.

Bapak empat anak ini semula diberi benda kenang-kenangan oleh Bung Karno, yaitu berupa lemari dan jas. Namun terbakar pada peristiwa kebakaran yang melanda rumahnya di Serang pada tahun 2011 lalu.

“Tahun 52 dikasih lemari dan jas (oleh Bung Karno).‎ ‘Ini dek pake’,” kata Arsilan menirukan ucapan Bung Karno.

Menurut Arsilan, perubahan jaman dulu dengan kini hanya dari segi pembangunannya saja. Dia juga tidak menutup mata perihal banyaknya koruptor yang ditangkap. Baginya, perbuatan korupsi itu tidak menghargai perjuangan para pahlawan.

“Satu itu nggak menghargai perjuangan pahlawan. Juga akhlaknya, cinta dunia,” ujarnya.

Arsilan juga sudah bertemu dengan presiden terpilih Joko Widodo saat acara tumpangan di Tugu Proklamasi beberapa waktu lalu. Arsilan juga telah bersalaman mengucapkan selamat dan mendoakan Jokowi. Kendati begitu, ia mengaku belum bisa menilai bagaimana kepemimpinan mantan Wali Kota Surakarta tersebut.

‎”Sama Jokowi ketemu waktu tumpengan, Salaman dan ngucapin selamat, doa.‎ Belum bisa menilai. Karena belum menjabat. Sebab manusia itu bisa berubah-berubah. Bapak hanya bisa membaca yang udah bapak alamin,” ujarnya. (ba/Detik.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL