Tehran, LiputanIslam. Com—Presiden AS Donald Trump telah “plintir” pernyataan President Iran, Hassan Rouhani, terkait rencana pengayaan uranium. Trump menyebut sikap Tehran sebagai balasan atas keluarnya Washington secara sepihak dari kesepakatan nuklir 2015 dan gagalnya anggota JCPOA lainnya untuk menjaga perjanjian tersebut.

Pada Rabu (3/7) kemarin,  Rouhani menyebut akan melampaui batas pengayaan uranium yang telah ditetapkan oleh JCPOA.

“Tingkat pengayaan uranium tidak lagi terbatas di 3,67 persen,” kata presiden Iran. “Komitmen ini [diambil berdasarkan kesepakatan nuklir] akan disisihkan, dan kami akan meningkatkan [tingkat pengayaan] ke jumlah berapapun, yang kami anggap perlu dan butuhkan.”

Baca: Arab Saudi “Sandera” Tanker Minyak Iran

Menanggapi pernyataan itu, Trump menuding Iran sedang mencari “kesepakatan baru.”

Dalam sebuah tweet, ia mengklaim Rouhani telah mengancam untuk meningkatkan pengayaan uranium jika tidak ada “Kesepakatan Nuklir Yang baru.”

Sebelumnya, Trump menarik AS keluar dari JCPOA pada Mei lalu, menyebutnya sebagai “kesepakatan terburuk yang pernah dinegosiasikan. ”

Setelah itu, Washington melancarkan kampanye “tekanan maksimum” pada Iran untuk memaksa Republik Islam merundingkan “kesepakatan baru,” yang akan mencakup kegiatan rudal konvensional Republik Islam dan peran anti-terorisme di wilayah tersebut.

Iran telah berulang kali menekankan bahwa pihaknya tidak akan menegosiasikan kesepakatan apapun dengan AS, mendesak Washington untuk kembali ke perjanjian nuklir, yang telah disahkan oleh Dewan Keamanan PBB.

Dalam tweetnya, Trump juga mengancam Republik Islam agar “berhati-hati dengan ancamannya.”

Baca: Trump Minta Iran “Berhati-hati” dengan Ancaman

Ketegangan telah meningkat tinggi antara Teheran dan Washington sejak tahun lalu, ketika Trump menarik AS dari JCPOA dan mengeluarkan sanksi “terberat” terhadap Iran, terutama pada sektor energinya.

Setelah penarikan Washington, para penandatangan JCPOA lainnya berjanji akan melakukan upaya maksimal untuk menyelamatkan JCPOA dengan cara melindungi Iran Dari sanksi “terberat” Washington. Sayangnya,  upaya ini tak kunjung berhasil.

Pada 8 Mei, setahun setelah Washington keluar, Teheran mengumumkan keputusan untuk mengurangi komitmennya sendiri dan memberikan batas waktu 60 hari bagi para anggota JCPOA lainnya untuk memenuhi janji mereka.

Teheran telah mengatakan akan mengurangi sebagian besar komitmennya, jika mereka gagal membantu Iran keluar dari sanksi AS.

Ancaman baru Trump datang ketika AS telah mengambil sikap semu seperti perang terhadap Iran dan meningkatkan gerakan militer provokatifnya di Timur Tengah.

Bulan lalu, AS mengirim pesawat nirawak mata-mata ke wilayah udara Iran di atas provinsi pesisir Hormozgan menyusul laporan rencana AS untuk meluncurkan “serangan taktis” pada fasilitas nuklir. Namun, pesawat itu ditembak jatuh oleh pertahanan udara Iran.  (FD/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*