Washington, LiputanIslam.com—Dalam sebuah  wawancara terbaru dengan Washington Post, Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa kebijakan AS terkait Timur Tengah tidak dikendalikan oleh kepentingan nasional, tetapi oleh Israel.

Kebijakan Timteng yang dimaksud termasuk diantaranya pendudukan militer AS di hampir 1/3 wilayah Suriah, penjatuhan sanksi yang agresif terhadap Iran, dan respon terhadap pembunuhan jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi.

Pengakuan ini disampaikan Trump ketika ditanya oleh wartawan Post  Josh Dawsey tentang apakah ia mendukung sanksi yang lebih keras terhadap Saudi terkait kasus pembunuhan Khashoggi. Trump menjawab, ia akan mendengar seruan penjatuhan sanksi yang lebih keras.  Tetapi, menurutnya, Arab Saudi merupakan “sekutu besar” yang “tanpa mereka, Israel akan dapat banyak masalah. Kami butuh kekuatan yang menyeimbangi Iran.”

Pernyataan Trump ini mendukung sejumlah laporan terbaru bahwa PM Israel Benjamin Netanyahu mempengaruhi keputusan Trump dalam membela Pangeran Saudi Mohammed bin Salman (MBS) yang diduga mendalangi pembunuhan Khashoggi.

Netanyahu pernah mengatakan kepada Gedung putih bahwa MBS merupakan “sekutu strategis” yang harus didukung meskipun adanya dugaan keterlibatan pembunuhan.

“Sangatlah penting memiliki Arab Saudi sebagai sekutu, jika kita akan bercokol di bagian dunia itu [Timteng],” kata Trump. “Sekarang, [kenapa] kita masih bercokol di bagian dunia itu? Salah satu alasannya adalah Israel. Minyak menjadi semakin tidak berarti karena kami memproduksi lebih banyak minyak sekarang,”

Meskipun Trump sejak lama terbukti pro-Israel, pernyataan ini merupakan pengakuan pertamanya di depan publik bahwa kebijakan pemerintahannya di Timur Tengah dikendalikan bukan oleh kepentingan negaranya, tetapi dari negara luar. (ra/mintpress)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*