Sumber: Tempo

Jakarta, LiputanIslam.com — Aktivis Dandhy Dwi Laksono, pendiri Watchdoc sekaligus sutradara film dokumenter Sexy Killer, ditangkap Polda Metro Jaya diduga memprovokasi terkait isu Papua melalui media sosial sehingga dijadikan tersangka ujaran kebencian.

“Ya tersangka Undang-Undang ITE,,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Iwan Kurniawan saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (27/9).

Peneliti Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Erasmus AT Napitupulu menceritakan bahwa empat aparat menangkap Dandhy di kediamannya Jalan Sangata 2 Blok I-2 Nomor 16 Jatiwaringin Asri, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (26/9) pukul 23.00 WIB.

Mereka membawa surat penangkapan dan membawa Dandhy dengan mobil bernomor polisi D-216-CC menuju Polda Metro Jaya. Kini, Dandhy diperbolehkan pulang meski masih berstatus tersangka.

Kuasa hukum Dandhy memperlihatkan cuitan yang membuat Dandhy ditetapkan menjadi tersangka oleh polisi.

Baca juga: Para Pendemo Ditangkap Polisi, LBH Siapkan 20 Pengacara dan Buka Posko Pengaduan

Kuasa hukum Dandhy, Alghiffary Aqsa, menyebut, cuitan Dandhy yang dipersoalkan ada 1. Cuitan tersebut dipublikasikan Dandhy lewat akun @Dandhy_Laksono pada 22 September. Berikut isinya:

JAYAPURA (foto 1)
Mahasiswa Papua yang eksodus dari kampus-kampus di Indonesia, buka posko di Uncen. Aparat angkut mereka dari kampus ke Expo Waena. Rusuh. Ada yang tewas.

WAMENA (foto 2)
Siswa SMA protes sikap rasis guru. Dihadapi aparat. Kota rusuh. Banyak yang luka tembak.

Dandhy diduga melanggar Pasal 28 ayat (2), jo Pasal 45 A ayat (2) UU No.8 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 14 dan Pasal 15 No.1 tahun 1946 tentang hukum pidana. (Ay/Detik/Antara)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*