RS Al Quds Aleppo

RS Al Quds Aleppo

LiputanIslam.com–Pengeboman terhadap rumah sakit Al Quds di Aleppo pada 27 April 2016 memunculkan reaksi luas dari masyarakat internasional. Minimalnya ada 14 orang terbunuh (sebagian sumber lain menyebut angka 50) dalam serangan itu, termasuk 3 orang dokter. Utusan khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, telah meminta semua pihak dalam konflik ini untuk menghindari efek ‘bola salju’ yang akan menghancurkan upaya perdamaian.

RS Al Quds berada di wilayah utara Suriah yang selama ini dikuasai oleh para militan bersenjata dan dikelola oleh Medecins Sans Frontieres (MSF, Doctors Without Borders) sebuah LSM yang berbasis di Perancis.

Umumnya media Barat dan media lokal pro-jihadis menuduh tentara Suriah atau Russia yang mengebom RS itu. Hal ini telah dibantah oleh Menteri Pertahanan Rusia, melalui juru bicaranya, Major General Igor Konashenkov.

“Menurut data kami, pada malam 27 April di udara di atas Aleppo ada sebuah pesawat dari salah satu negara koalisi anti-ISIS yang beraktivitas di kawasan itu untuk pertama kalinya sejak beberapa waktu terakhir,” kata Konashenkov.

Sementara itu, pihak militer Suriah menyatakan bahwa pesawat milik pemerintah tidak berada di area itu ketika terjadi serangan tersebut. Dengan tegas militer Suriah menolak tuduhan bahwa merekalah yang mengebom Al Quds.

Lalu, siapa kira-kira pelaku sebenarnya? Tentu perlu kita tunggu investigasi PBB.

Namun, yang jelas, pada 10 Februari 2016, pesawat AS terbukti mengebom 9 fasilitas di kota Aleppo, dan pada hari yang sama, AS menuduh Rusia mengebom dua rumah sakit di kota itu.

Saat itu, juru bicara Menhan Rusia, Konashenkov mengatakan, “Kemarin pada 13:55 waktu Moskow (10:55 GMT), dua pesawat AS A-10 memasuki udara Suriah melalui Turki dan terbang langsung ke Aleppo dan mengebom beberapa target di sana.”

Konashenkov mengomentari juru bicara Pentagon, Steve Warren, yang sebelumnya mengklaim bahwa “dengan penghancuran dua rumah sakit di Aleppo oleh Rusia dan rezim Suriah, lebih dari 50.000 warga Suriah tidak punya akses pada bantuan kesehatan.”

Menurut Konashenkov, karena Warren tidak memberikan koordinat rumah sakit, waktu serangan, dan sumber informasi, pernyataan Warren adalah ‘omong kosong’. Konashenkov menegaskan, tidak ada pesawat Rusia yang melakukan serangan ke kota Aleppo pada 10 Februari dan target terdekat operasi Rusia saat itu adalah 20 kilometer dari Aleppo. Namun pihak Rusia tidak memiliki waktu untuk mengklarifikasi, apa saja 9 objek yang dibom oleh pesawat

Rekam jejak AS mengebom Aleppo juga terjadi pada bulan Oktober 2015. Saat itu AS mengebom pusat pembangkit listrik terbesar di kota tersebut sehingga kota padam total. Bahkan, 8 hari sebelumnya, pesawat F-16 melakukan serangan ke dua pusat pembangkit listrik di al-Radwaniye.Serangan ini merupakan pelanggaran terang-terangan atas hukum internasional.

Informasi lainnya, ternyata Medecins Sans Frontieres (MSF) tidak menyediakan koordinat GPS rumah sakit-rumah sakit yang mereka kelola kepada pihak Damascus atau Moscow. Padahal, dengan memberikan koordinat GPS, mereka mencegah terjadinya salah serangan. Sikap menyembunyikan koordinat GPS ini tentu mencurigakan. Menariknya, keputusan MSF menyembunyikan koordinat GPS ini justru berlandaskan aksi AS sebelumnya yang pernah mengebom rumah sakit MSF di Kunduz Afghanistan.

Keanehan lain dari sikap MSF adalah dengan segera mereka menuduh Rusia dan tentara Suriah yang mengebom rumah sakit dengan kata ‘kemungkinan’, meskipun di saat yang sama mereka juga menyatakan tidak memiliki bukti dari tuduhan ini.

Minimalnya, sebelum RS Al Quds, ada enam  rumah sakit di Aleppo yang hancur oleh bom, sebagian besar berada di wilayah yang dikontrol oleh tentara Suriah (dan dilakukan oleh militan bersenjata).

Jadi, siapa yang paling mencurigakan sebagai pengebom RS Al Quds? (dw/21stcenturywire.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL