Saudi-Arabia550liputanislam.com — Sebagaimana halnya dengan Presiden Bashar al -Assad yang telah berkomitmen secara terbuka untuk memerangi terorisme dan ideologi takfiri yang telah mengacaukan Suriah, kini perlahan, Arab Saudi pun menampakkan wajah yang sesungguhnya.

Dukungan Israel dan Arab Saudi kepada pemberontak di Suriah, pada akhirnya akan membuat kita menyadari adanya penghianatan besar dinasti Al-Saud bukan hanya kepada Arab, namun juga umat Islam di seluruh dunia. Mereka yang mengklaim diri sebagai penjaga tempat suci, telah terbukti mendukung dan melaksanakan agenda Israel di Timur Tengah. Mereka memicu perselisihan sekterian, mengimpor teroris takfiri yang dimanapun mereka menginjakkan kakinya, akan meninggalkan jejak berupa pertumpahan darah.

Negara-negara Barat dan agen regional mereka, yaitu Arab Saudi dan Qatar telah menjelma menjadi mesin propaganda yang berjalan secara sistematis, yang menjadikan masyarakat mudah percaya dan mudah tertipu dengan apa yang mereka sampaikan. Contohnya adalah ketika Arab Saudi yang mulai berputus asa karena Assad tidak dapat ditumbangkan setelah lebih dari dua tahun konflik, akhirnya mendorong Amerika untuk melakukan intervensi militer di Suriah dengan alasan bahwa Bashar al-Assad telah menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil. Saat itu, Arab Saudi bersedia menjadi penyandang dana bagi Amerika.

Namun, jauh sebelum serangan senjata kimia meletus, apa yang menjadi rencana jahat Arab Saudi sudah mulai terbaca. Arabi Souri seorang pengamat politik, telah menguraikan bahwa akan ada operasi bendera palsu yang akan  ‘digelar’ di Suriah. Kesimpulan itu berdasarkan laporan dari berbagai sumber bahwa ada sebuah perusahaan di Arab Saudi yang telah dilengkapi dengan 1.400 kendaraan ambulans dengan sistem penyaringan anti-gas & anti-kimia dengan biaya $ 97.000 dolar untuk masing-masing unit, sebagai persiapan untuk serangan senjata kimia yang akan dilakukan pemberontak.

Serangan tersebut,  yang direncanakan akan menggunakan  fosfor putih, sarin dan gas mustard, akan diluncurkan pada sebuah kota padat penduduk dekat perbatasan antara Suriah dan Yordania. Terbukti, pada tanggal 21 Agustus 2013, di Ghouta, terjadi serangan kimia mematikan dan menelan ratusan korban, lalu sembilan hari kemudian Sekretaris Negara Amerika Serikat John Kerry menuduh pasukan pemerintah Suriah telah melakukan kejahatan perang dan AS pun bersiap untuk ‘menghukum’ Assad karena telah melewati ‘red line’. Rusia tidak berdiam diri, dan kemudian terbongkar bahwa arsitek dari false flag serangan senjata kimia di Suriah tersebut adalah Kepala Intelejen Arab Saudi, Pangeran Bandar bin Sultan.

Meski intervensi militer akhirnya dibatalkan, Suriah menghadapi masalah baru. Di wilayah yang dikuasai oleh  takfiri terjadi perubahan drastis yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Dari info media pendukung takfiri, di wilayah yang dikontrol oleh militan, mulai diberlakukan peraturan yang sangat mengikat. Misalnya untuk para wanita diwajibkan menggunakan cadar. Di waktu shalat semua warga kota harus shalat berjamaah di masjid, dan jika terpantau ada yang tidak mengikuti shalat berjamaah di masjid akan dihukum. Bisa dibayangkan seandainya aturan tersebut diberlakukan di Indonesia, berapa banyakkah yang akan dihukum akibat tidak ikut shalat berjamaah mengingat di sini, kecuali saat bulan Ramadhan, masjid tidaklah ramai. Begitu juga halnya dengan cadar, di  Suriah masyarakatnya memeluk berbagai macam agama, wajib cadar ini adalah hal yang sangat sulit diterima.

 

Tanggapan ulama dan tokoh dunia

Seorang ulama Malaysia, Abdul Hadi Awang pernah berkata:  “Arab Saudi telah dipengaruhi oleh permainan politik AS dan Eropa. Selain Saudi, negara-negara Arab lainnya juga telah menjadikan tanah mereka sebagai basis Barat, dan mereka melakukan ini bukan untuk mendukung Islam tapi untuk mendapatkan kekuasaan.”

Awang juga menjelaskan bahwa orang Arab banyak yang tidak mampu ‘membuka mata’ terhadap kebenaran dan mereka terus menerus melakukan provokasi yang menyulut perpecahan dan menodai prinsip- prinsip Islam dengan menghalalkan pembunuhan dan tindakan kejam terhadap sesama muslim. Sesungguhnya, ini adalah agenda plot Barat untuk melindungi kepentingan mereka dan kepentingan Israel. Mereka menggunakan agama sebagai alat dalam permainan ini, juga menggunakan awak media dan tokoh politik sebagai salah satu elemen penguat. Malaysia, termasuk salah satu negara yang banyak terkena pengaruh. Di Malaysia menjamur komunitas dengan label “Peduli Suriah” yang tidak pernah lelah membungkus konflik Suriah yang sesungguhnya murni masalah politik menjadi berbalut sekterian yang menyengat. Hujatan, fitnah dan propaganda terhadap suatu mazhab tertentu gencar ditayangkan setiap harinya. Tentunya, akan ada pihak yang tersenyum puas melihat kejadian ini  dan untuk itulah Awang menekankan agar Sunni Syiah bersatu dan berdiri bersama melawan ketidakadilan.

Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuannya dengan tokoh muslim di dunia di acara Konferensi Persatuan yang digelar di Teheran, mendesak umat Islam untuk bersatu melawan takfiri. Beliau menekankan bahwa para elite politik maupun agama yang telah mendukung kebrutalan takfiri sepertinya tidak menyadari bahwa suatu saat api takfiri akan membakar semuanya. Pecah belah ini merupakan langkah yang diambil oleh para pendukung takfiri, yang bertujuan untuk mencegah adanya kebangkitan Islam. Kebangkitan Islam, akan sangat membahayakan eksistensi dinasti yang menjadi penguasa tunggal di negara mereka

Sebelumnya, Perdana Menteri Irak al-Maliki juga mengecam  atas keterlibatan negara negara Arab yang jahat dan berbahaya atas sikap mereka menyebarkan perselisihan sektarian di negaranya. Irak telah menjelma menjadi negara penuh teror yang setiap saat bom bisa meledak di sembarang tempat, menewaskan penduduk sipil yang tidak berdosa. Bahkan baru- baru ini, Falujjah, salah satu kota di Irak, berhasil dikuasai ISIS dan mereka mendeklarasikan Daulah Islam (atau khilafah?) di kota tersebut.

Di setiap tempat dan waktu dimana ada darah tertumpah di kawasan Timur Tengah, terlihat bayang – bayang Arab Saudi dan sekutunya.  Israel, merupakan negara yang telah berpengalaman dalam peperangan meski pernah dipermalukan Hizbullah di Lebanon. Dan Arab Saudi adalah negara dengan dana tak terbatas. Keduanya, adalah teroris sesungguhnya yang paling aktif di Timur Tengah saat ini. (liputanislam.com/alahednews/khamenei.ir/AF)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL