Ahmad_Adwan

LiputanIslam.com –Ibarat dua sisi mata uang dengan gambar yang berlainan, seperti itulah gambaran umat muslim dalam menyikapi keberadaan Palestina. Pasca Hari Nakba hingga hari ini, rakyat Arab Palestina menanggung derita yang  tidak berkesudahan akibat kekejaman Israel. Dan telah berlalu enampuluh tahun lebih, konflik Israel- Palestina belum menemukan titik terang. Sebagian umat Islam mengambil sikap mendukung Palestina, namun sebagian lagi memilih berdekatan dengan Israel sembari tetap bermanis-manis di bibir menyatakan pro-Palestina.

Jika melihat sejarah dibelakang, negara –negara Arab tempo doeloe pernah menjadikan Israel musuh bersama. Salah satu tanda kebersamaan itu adalah dengan disepakatinya Deklarasi Khartoum.  Pasca kekalahan Perang Enam Hari, negara-negara Arab ternyata tetap teguh sikapnya dalam menolak serta memusuhi negara Yahudi tersebut.  Kurang dari dua bulan setelah  Perang Enam Hari pada tahun 1967, negara-negara Arab dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) berkumpul di Khartoum, Sudan, untuk mendiskusikan konsekuensi dari perang dan menyusun strategi selanjutnya.

Delapan Kepala Negara Arab yang menghadiri Konferensi Khartoum pada 29 Agustus – 1 September, 1967, berasal dari Mesir, Arab Saudi, Sudan, Yordania, Lebanon, Kuwait, Irak dan Yaman. Maroko, Libya, Tunisia dan Aljazair yang diwakili oleh para Perdana Menteri mereka. Perdana Menteri Suriah tidak hadir, tetapi diwakili oleh Menteri Luar Negeri, Dr. Ibrahim Makhous, pada Konferensi Tingkat Menlu yang mendahului KTT dan menyusun agendanya. Organisasi Pembebasan Palestina diwakili oleh Ahmed Shukairy, tapi PLO tidak menandatangani Deklarasi ini, karena tidak menyetujui rumusannya.

KTT ini  menghasilkan resolusi “Tiga Tidak”, yang meliputi :
1.  tidak akan ada pengakuan terhadap Israel,
2.  tidak akan ada perundingan dengan Israel, dan
3.  tidak akan ada perdamaian dengan Israel.

Dengan Resolusi Khartoum tersebut, baik Israel maupun negara-negara Arab tidak berharap untuk tercapainya kesepakatan damai. Masing-masing lalu menyiapkan diri untuk konfrontasi besar selanjutnya. Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, khusus  Kairo menambahkan “satu tidak”  lagi, yaitu dalam memperjuangkan hak-hak yang sah dari rakyat Palestina, tidak akan ada konsesi apa pun bagi Israel. la menegaskan, semua hak rakyat Palestine maupun milik Arab lainnya yang telah diambil paksa oleh Israel dengan kekuatan, hanya akan dapat dipulihkan melalui kekuatan pula. Tidak lebih dan tidak kurang.

Meskipun Deklarasi Khartoum menghasilkan resolusi “3 Tidak”, yaitu tidak akan ada pengakuan terhadap Israel, tidak akan ada perundingan dengan Israel, dan tidak akan ada perdamaian dengan Israel, namun di tengah perjalanannya, satu per-satu negara-negara Arab mulai melupakan Deklarasi tersebut dan melakukan negosiasi dan perdamaian dengan Israel pasca perang Yom Kippur. Sungguh sayang sekali.

Di tahun 1994 kita menyaksikan perjanjian perdamaian antara Israel dengan Yordania yang merupakan  penghianatan terhadap Deklarasi Khartoum dan sekaligus tonggak dari normalisasi hubungan antara Israel dan Yordania. Israel dan Yordania sepakat  menyelesaikan sengketa wilayah di antara keduanya. Konflik antara kedua negara telah menyebabkan kerugian sekitar 18.3 miliar dollar.

20 tahun kemudian sejak perjanjian damai tersebut, kini kita dihadapkan dengan sebuah peristiwa yang lebih menyakitkan.  Seorang yang bergelar Sheikh/ ulama yang berasal dari Yordania, dengan senyum tersungging di bibir melangkahkan kaki bertamu ke Israel untuk menyatakan dukungannya [kepada Israel] dan sekaligus mengutuk Palestina.

Sheikh Ahmad Adwan, begitulah nama ulama Yordania tersebut memberikan pernyataannya sesuai dengan yang dipublikasikan oleh Arutz Sheva;

“I say to those who distort the Koran:  from where did you bring the name Palestine, you liars, you accursed, when Allah has already named it ‘The Holy Land’ and bequeathed it to the Children of Israel until the Day of Judgment,” argued Adwan. “There is no such thing as ‘Palestine’ in the Koran.”

“Your demand for the Land of Israel is a falsehood and it constitutes an attack on the Koran, on the Jews and their land. Therefore you won’t succeed, and Allah will fail you and humiliate you, because Allah is the one who will protect them (i.e. the Jews),” warns Adwan.

“Saya ingin menyatakan ini kepada siapa saja yang telah mendistorsi Al-Qur’an; darimanakah Anda mendapatkan nama Palestina? Anda pendusta, Anda terkutuk. Allah telah menamakan tempat itu sebagai ‘The Holy Land’ dan diperuntukkan bagi anak-anak dari Bani Israel hingga hari penghakiman. Sama sekali tidak disebutkan kata yang menyerupai ‘Palestina’ di dalam Al-Qur’an.

” Klaim Anda untuk Tanah Israel adalah dusta dan hal  itu merupakan tindakan perlawanan terhadap Al-Qur’an, pada orang-orang Yahudi dan tanah mereka. Oleh karena itu Anda tidak akan berhasil , dan Allah akan membiarkan dan mempermalukan Anda  karena Allah-lah satu-satunya yang akan melindungi mereka (orang –orang Yahudi) .

Selain menyatakan dukungannya terhadap Israel menurut pemahamannya sendiri terhadap Al-Qur’an, Sheikh Adwan juga mengutuk Palestina.

“This is their habit and custom, their viciousness, their having hearts of stones towards their children, and their lying to public opinion, in order to get its support,” declared Adwan.

“ Hal seperti ini merupakan adat dan kebiasaan mereka, mereka ganas, mereka juga berhati batu kendatipun terhadap anak mereka sendiri, mereka juga berdusta untuk menggiring opini publik untuk mendapatkan dukungan.”

Menurut Arutz Sheva, dukungan Sheikh Adwan kepada Israel bermula dari keyakinannya terhadap Al-Qur’an, sebagaimana yang tertera ;

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (QS: Al-Maidah Ayat: 21)

Menurut Adwan, kata ‘kaumku’ itu merujuk kepada Bani Israel. Dan orang-orang Yahudi adalah orang-orang damai namun  jika mereka diserang, mereka akan membela diri. Dan kehancuran yang menimpa si penyerang tak lain dan tak bukan merupakan rahmat Allah pada kaum Yahudi sebagai kaum terpilih.

Front pendukung Palestina

Namun pada sisi mata uang yang lain, kita akan mendapati negara-negara di kawasan bersama front perlawanan yang berdiri disamping rakyat Palestina. Adalah Iran dan Suriah, yang karena dukungannya kepada Palestina, kedua negara itu dicap sebagai State Sponsor of Terorism oleh Amerika.

Ayatullah Ruhullah Khomeini pada tanggal 7 Agustus 1979, menyeru seluruh umat Muslim di dunia untuk menjadikan Jum’at terakhir di bulan Ramadhan sebagai hari Al-Quds Internasional. Hari dimana seluruh umat  Islam yang tidak berhalangan untuk turun ke jalan, menuntut terbebasnya umat Islam (Palestina), dan melawan arogansi zionist di muka bumi. Ayatullah Khomeini  menjelaskan bahwa hari Al-Quds tidak semata-mata demo menuntut kemerdekaan  Palestina, tapi hari Al-Quds adalah hari dimana seluruh manusia menuntut kebebasan dan menunjukan perlawanannya terhadap zionisme internasional. Perlawanan atas penindasan yang dilakukan zionis terhadap bangsa Palestina adalah solidaritas lintas madzhab dan agama karena zionisme adalah musuh kemanusiaan. Iran, sampai hari  ini tetap konsisten dalam mendukung rakyat Palestina.

Suriah pun demikian, meskipun satu persatu negara-negara yang menandatangani Deklarasi Khartoum mulai melunak dan akhirnya bersahabat dengan Israel, Suriah tetap konsisten terhadap perjanjian tersebut. Hal ini dibuktikan dengan keberpihakan Suriah kepada Lebanon, ketika Israel menginvasinya pada tahun 1982, yang akhirnya dikenal dengan Perang Lebanon I, yang berlangsung selama 18 tahun. Di samping itu,  hanya Damaskus yang berani menanggung resiko dimusuhi AS-Israel dan sekutu-sekutunya dengan menaungi beberapa faksi perjuangan Palestina, seperti Hamas, Hizbullah, Jihad Islam Palestina, dan PFLP, serta tulus hati memberikan pelayanan kepada rakyat Palestina yang mengungsi di Suriah sebagaimana layaknya rakyat Suriah sendiri. Hanya saja, kini negara yang ramah dan tulus ini telah hancur lebur, akibat konsistensi mereka berdiri di tempat yang berseberangan dengan zionist Israel. (LiputanIslam.com/arutzsheva/AF)

DISKUSI:
SHARE THIS:
Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL