LiputanIslam.com — Media-media Arab Saudi merayakan pemerintahan Raja Salman bin Abdulaziz yang kini telah berusia setahun. Tak ketinggalan, masing-masing media berusaha memanfaatkan momen ini untuk memperbaharui janji setia kepada Raja, kendatipun kondisi orang nomor satu di Saudi tersebut tidak sepenuhnya sehat.

Media Al Hayat Saudi, menurunkan artikel dengan judul “A Year of ‘Decisiveness” dan “Determination’Makes the New Saudi Identity,” memuji Raja Salman yang disebutnya telah mengukir banyak prestasi. Media Sahrq Al Awsat, memuji berbagai kebijakan Raja Salman yang disebutnya luar biasa. Tak ketinggalan media ini juga menyebut Raja Salman sebagai “pendiri negara keempat Saudi”.

Media Okaz, di halaman pertama mempublikasikan foto Raja Salman dengan judul “Salman, di Hati Rakyat dan Negara”, memperlihatkan berbagai perang di Yaman, Suriah, Lebanon dan Irak dan menyebut berbagai bencana kemanusiaan yang disponsori Saudi tersebut sebagai “ketegasan raja” untuk mengembalikan negara-negara tersebut ke “pangkuan Arab”. Media ini juga menerbitkan dokumen yang berjudul “Janji Setia” yang berisikan pujian setinggi langit untuk Raja, dan berjanji untuk setia kepada Raja. Media-media seperti Ar Riyadh, Sabaq, Al Watan Al Yawn, dan As Sharq juga menurunkan artikel-artikel senada.

Inilah gambaran dari media-media Arab, yang secara terstruktur, sistematis dan masif, telah menerbitkan artikel-artikel pujian tentang prestasi Raja. Dan tentu saja, karena mengritik pemerintah di Saudi adalah sebuah kejahatan – tak heran jika pengguna twitter ditahan, dan aktivis yang menuntut reformasi dipenggal. Meski demikian, bukan berarti tidak ada pembangkangan di kerajaan ini. Lalu bagaimanakah nasib mereka?

Pembangkangan dari Para Pangeran

Sebelum jenasah mendiang Raja Abdullah dimakamkan, Istana telah mengumumkan berbagai keputusan yang dianggap revolusioner jika dibandingkan dengan aturan-aturan yang ada. Misalnya, menugaskan Mohammad bin Nayef bin Abdulaziz sebagai Wakil Putera Mahkota, Mohammad bin Salman sebagai Menteri Pertahanan yang secara otomatis menggeser Khaled Tuweijeri yang dekat dengan Mut’ab bin Abdullah. Tidak lama berselang, Muqrin digeser dari jabatannya sebagai Putera Mahkota, dan Mohammad bin Nayef pun naik menggantikannya. Lalu, naiklah Mohammad bin Salman sebagai Wakil Putera Mahkota. Artinya, Raja menjamin agar anaknya menempati posisi yang strategis di dalam pemerintahan, dan berpeluang menjadi orang nomor satu di Saudi kelak. Namun bukan berarti semua pergeseran ini mulus. Justru di internal keluarga kerajaan Saudi, ada persaingan yang panas.

Bagaimana tidak, dengan naiknya Mohammad bin Nayef dan Mohammad bin Salman, otomatis ini adalah akhir dari peluang Mut’ab bin Abdullah untuk menduduki tahta. Selain itu, Raja Salman juga mengisolasi anak-anak dari Sultan dan Bandar, dan memastikan klan Sudairi berkuasa setelah sebelumnya sempat dipinggirkan. Isolasi besar-besaran terjadi pada semua anak-anak dari mendiang Raja Abdullah. Dan mengingat kondisi Raja Salman yang tidak sehat, praktis yang banyak berperan dalam berbagai kebijakan di Saudi adalah puteranya. Sehingga munculah dugaan yang menyebut bahwa Mohammad bin Salman-lah Raja sebenarnya di Saudi.

Tentu saja, keputusan Raja Salman ini mendapatkan pertentangan di internal keluarga kerajaan, seperti dari Ahmad, Abdul Ilah, Mamdouh, Mut’ab, Bandar, Turky, dan Abdul Rahman.

Ketidak-puasan ini muncul dengan beredarnya pesan berantai kepada anggota keluarga kerajaan, untuk mengisolasi Raja. Meskipun demikian, upaya isolasi ini tidak ada kemajuan, kendatipun saat ini terjadi pertarungan sengit antara dua “Mohammad” yaitu Mohammad bin Nayef dan Mohammad bin Sultan.

Perjudian di Yaman

Di awal kekuasaannya, Raja Salman mengumumkan bahwa ia akan tetap “berada di jalan yang disepakati bersama, siap untuk membela Arab dan kamu Muslimin”, namun dua bulan setelahnya, Arab Saudi menyerang Yaman. Serangan ini telah menewaskan lebih dari 8.000 orang, dan telah melukai lebih dari 16.000 orang. Infrastruktur dan tempat-tempat bersejarah di Yaman juga rusak berat.

Dengan klaim “memulihkan legitimasi (penguasa)” di Yaman, pada tanggal 26 Maret 2015 Saudi mengumumkan pembentukan koalisi militer yang terdiri dari 10 negara untuk terlibat dalam perang di Yaman. Namun negara-negara seperti Mesir dan Pakistan menolak untuk terlibat lebih jauh. Akhirnya, agresi yang dipimpin Saudi ini dilakukan oleh negara-negara Arab lainnya, yang menyewa tentara bayaran.

Hanya saja, meskipun Saudi telah merogoh kocek dalam-dalam untuk perang Yaman, namun tidak ada kemajuan berarti yang dicapai hingga hari ini. Justru, setelah berbulan-bulan menggempur Yaman, kini Saudi digiring untuk duduk di meja perundingan. Seorang peneliti AS menyebut bahwa perang Yaman adalah perang yang sangat mahal, berlangsung sangat lama dan hasilnya tidak jelas. The Independent menyebut bahwa Saudi telah membakar miliaran dollar untuk perang di Yaman dan Suriah.

Bulan April lalu, Der Spiegel melaporkan bahwa operasi militer Saudi di Yaman gagal mencapai tujuannya. “Empat minggu sejak agresi terhadap Yaman dimulai, ratusan orang telah tewas dan kini mereka ingin terlibat dalam solusi politik untuk Yaman.” Artinya, jika Saudi bersedia berunding, maka ini adalah pertanda kekalahannya.

Sedangkan The Independent menyebut bahwa Saudi telah terlibat dalam perang brutal di Yaman, namun akhirnya tidak ada hasil yang terlihat.

Sementara itu, penulis Irlandia Patrick Cockburn berpendapat bahwa kebijakan Saudi menyerang Yaman adalah keputusan yang tergesa-gesa. Ia juga menyebut bahwa Saudi berusaha mencari cara untuk melumpuhkan Arab dengan terlibat perang di Suriah maupun Yaman.

Aktivis media sosial yang termasyur, Mujtahidd menilai bahwa saat ini, sudah terlalu terlambat bagi Saudi untuk memperbaiki situasi Yaman, dan hal itu sama mustahilnya bagi Saudi untuk menghentikan perang tanpa mengakui kekalahan. “Berbulan-bulan telah berlalu dengan serangan udara di Yaman. Apa hasilnya?” (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL