Aleppo, LiputanIslam.com–Serangan gas kimia di Suriah biasanya direspon dengan laporan-laporan media Barat dan serangan rudal balasan dari AS dan sekutunya. Namun, serangan kimia pada hari Sabtu (24/11/18) kemarin benar-benar diabaikan. Mengapa itu bisa terjadi?

Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, serangan kimia pada hari Sabtu malam itu terjadi di daerah pemukiman Aleppo. Setidaknya 46 orang, termasuk 8 anak-anak, dirawat di rumah sakit dengan gejala keracunan gas klorin.

Serangan terhadap kota yang telah dibebaskan oleh pemerintah Suriah sejak dua tahun lalu itu diyakini berasal dari kawasan Idlib, yaitu markas terakhir para jihadis yang terafiliasi dengan Al-Qaeda.

Setelah kejadian ini, Dewan Keamanan PBB tidak melakukan rapat darurat, penulis oposisi media New York Times tidak merilis laporan apapun, rudal Tomahawk tidak diluncurkan ke Suriah. Menurut analis hubungan global dan pendiri 21th Century Wire, Patrick Henningsen, dalam wawancara kepada RT, Barat menjadi bungkam karena serangan ini ‘hampir pasti’ dilakukan oleh jihadis, mantan sekutu mereka yang pernah disokong dana jutaan dolar.

“Mereka tidak peduli, karena serangan itu datang dari ‘pihak yang salah’, seperti sebelumnya… Jika Anda memeriksa liputan media arus utama secara global, itu dianggap peristiwa yang tidak menarik,” kata Henningsen.

Meski Barat bungkam, tindakan telah dilakukan bagi pihak yang bertanggungjawab. Pemerintah Moscow mengumumkan pada Minggu bahwa pasukan udara mereka telah menargetkan zona demilitarisasi Idlib di mana serangan kimia berasal. (ra/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*