ketua muiQom, LiputanIslam.com — Sejumlah ulama Indonesia berkunjung ke kota Qom, di Republik Islam Iran dalam rangka memenuhi undangan Lembaga Internasional Pendekatan antar Mazhab Islam Iran sebagai pembicara dalam Dialog antar Mazhab yang diselenggarakan selama 3 hari, Senin-Rabu (22-24/9) yang dihadiri sejumlah ulama dan tokoh Islam dari dua mazhab, Sunni dan Syiah.

KH. Dr. Mustamin Arsyad, MA, salah seorang pembicara selaku Ketua Umum MUI Makassar saat diwawancarai  media setempat menyampaikan rasa bahagianya bisa berkunjung ke Iran dan bersilaturahmi dengan para ulama setempat. Ia turut menegaskan pentingnya silaturahmi yang dalam pandangannya adalah langkah paling strategis dalam mengupayakan terwujudnya persatuan kaum muslimin.

Berikut petikan lengkap wawancaranya:

Silahkan memperkenalkan diri dan tanggapan Anda tentang Iran.

Nama saya, Mustamin Arsyad, Ketua Umum MUI Makassar, dan pimpinan Tarekat Al-Syadzilia Makassar. Saya sangat berbahagia mendapat kehormatan untuk bisa mengunjungi Iran, karena saya sudah lama memendam keinginan untuk bisa kembali mengunjungi Negara ini, khususnya ke kota Qom. Pada tahun 1987 saya pernah ke Iran, hanya saja tidak sempat ke Qom, dan hanya di Tehran saja. Sehingga tidak sempat bersilaturahmi kepada para ulama, maraji termasuk berziarah kemakam-makam Wali Allah yang berada di kota ini. Karenanya dengan adanya kesempatan yang diberikan ini, saya sangat berterimakasih. Dan dalam perjalanan ini, saya melihat banyak hal yang menakjubkan dan benar-benar mengagumkan. Terutama mengenai tradisi keilmuan yang diperlihatkan. Saya melihat kecintaan masyarakat Iran yang sedemikian besar terhadap ilmu-ilmu Islam.  Penghormatan mereka yang sedemikian besar terhadap ulama, begitupulah dengan perhatian dan kecenderungan mempelajari Al-Qur’an yang luar biasa.

Apa peran ulama dalam menciptakan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan semangat persatuan dan persaudaraan?

Sebelumnya saya perkenalkan, bahwa mayoritas muslim Indonesia adalah pengikut mazhab Imam Syafi’i, bahkan bisa dikatakan hampir 100 persen. Hanya saja banyak yang belum tahu, bahwa Imam Syafi’i itu berasal dari keturunan Imam Husain, yang otomatis termasuk dari keturunan Rasulullah Saw juga. Karena tidak ada yang menyampaikan hal ini, umat Islam di Indonesia sangat fanatik terhadap mazhab ini. Ketika kembali dari Mesir, setelah menimba ilmu 20 tahun lamanya disana, saya diperhadapkan dengan masyarakat yang memperbesar-besarkan perbedaan antara NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam besar di Indonesia.  Setelah melakukan banyak pengkajian, saya akhirnya berkesimpulan bahwa setelah Rasulullah Saw, semua aliran Islam yang ada titik puncaknya bermuara dari Imam Ali bin Abi Thalib, khususnya aliran Islam yang bersifat spiritual atau tarekat-tarekat sufi. Jadi semua pada hakekatnya sama saja.

Namun betapa realitas yang kita temukan, pertentangan dan perselisihan terjadi  di tengah-tengah kaum muslimin. Untuk konteks di Indonesia, perselisihan yang terjadi adalah antara NU dan Muhammadiyah. Di awal-awal terbentuknya, pengikut kedua ormas ini gampang untuk terprovokasi untuk saling berselisih satu sama lain. Padahal perpecahan tersebut adalah akibat dari konspirasi musuh Islam. Ada seorang Belanda yang bernama Snouck Hurgenje, yang pura-pura masuk Islam dan menyulut pepecahan dalam tubuh umat Islam Indonesia.  Karenanya ulama berperan besar dalam hal ini, untuk mengajak masyarakat mengenal Islam dengan lebih baik sehingga tidak mudah termakan hasutan musuh-musuh Islam.

Menurut Anda, apa penyebab terjadinya perpecahan dan perselisihan dalam tubuh umat Islam?

Menurut saya ada pihak ketiga yang tidak menginginkan Indonesia secara khusus untuk bangkit. Karena Indonesia yang mayoritas muslim jika bangkit bisa membahayakan eksistensi Negara-negara yang tidak senang dengan Islam.

Menurut Anda apakah gerakan-gerakan anti Syiah di Indonesia memang semestinya harus ada dan dasarnya apa? Serta bagaimana dengan informasi yang Anda dapatkan yang sebenarnya mengenai Syiah?

Saya sudah lama tahu mengenai perjuangan saudara-saudara kami di Iran untuk kejayaan Islam, sehingga ketika ada informasi-informasi yang miring yang bersumber dari manapun mengenai Iran saya secara pribadi tahu bahwa itu sesuatu yang tidak berdasar. Karenanya saya termasuk aktif memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia yang sudah termakan provokasi itu. Dan setelah saya mendapat kehormatan untuk berkunjung ke Negara Iran dan melihat langsung secara dekat, saya pribadi  lebih keras lagi akan memahamkan masyarakat Indonesia mengenai hal ini. Karenanya saya berharap, ini tidak berhenti sampai disini. Tapi berkelanjutan sampai pada tingkat kerjasama yang lebih erat. Dan saya yakin, setelah melihat kekuatan Iran dan jika dipadukan dengan Indonesia, maka itu akan membuat gentar Amerika. Insya Allah.

Syiah adalah mazhab yang tetap diakui sebagai bagian dari umat Islam. Di Universitas al Azhar, kami diperkenalkan prinsip tersebut, tidak ada pengajar disana yang menganggap Syiah itu kafir dan bukan Islam, meskipun tetap ada person-person yang tidak senang dengan keberadaan Syiah. Perbedaan memang ada, tapi bukan hal prinsip yang harus dipertentangkan. Saya sudah mengenal Iran dari teman-teman mahasiswa di Al Azhar yang berasal dari Iran. Meskipun Syiah, mereka tetap bisa menimba ilmu dengan tenang di Al Azhar karena memang Al Azhar moderat dalam hal ini. Saya punya teman sekelas asal Indonesia, namanya Muhsin Alatas, sekarang saya tidak tahu dimana keberadaannya. Dia pengikut Syiah yang fanatik. Bahkan hampir tidak lulus dari Al Azhar karena tetap memberikan jawaban-jawaban ujian dengan keyakinan Syiahnya. Saya kemudian mengatakan kepada dia, “Bukankah kamu bisa bertaqiyah? Kamu menjawab ujian dengan jawaban yang diinginkan dosen, tidak akan merusak keyakinan Syiahmu.” Diapun kemudian menjalankan saran itu, dan akhirnya lulus ujian. Tapi meskipun berbeda, kami tetap bisa menjalin keakraban dengan baik, karena yang kami kedepankan adalah ukhuwah dan akhlak Islam. Dan itu yang diajarkan di Al Azhar. Baru beberapa tahun belakangan ini, setelah masuk pemahaman Salafi dan Wahabi di Al Azhar sudah ada person-person yang suka mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang bisa menyulut perpecahan umat.

Karena itu harapan saya kepada masyarakat Indonesia, untuk tidak mudah terpedaya pada isu-isu yang tidak benar. Kebutuhan umat Islam saat ini adalah persatuan. Dan itu yang seharusnya lebih dikedepankan dibandingkan prasangkaan-prasangkaan yang tidak berdasar.

Salah satu alasan kebangkitan Imam Husain adalah penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Bagaimana dalam pandangan Anda mengenai kebangkitan Imam Husain itu dan seberapa penting penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar dalam ajaran Islam?

Penegakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, adalah salah satu kewajiban setiap muslim yang ditegaskan dalam Al-Qur’an. Hanya saja dalam menegakkannya ada mekanismenya, ada akhlaknya ketika menyampaikan.  Yaitu kita kembali pada prinsip-prinsip Islam yang mengajarkan metode amar ma’ruf. Misalnya ketika menengok pada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan, “Serulah(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (Qs. An-Nahl: 125) begitupun pada beberapa ayat yang lain. Di Indonesia secara khusus Islam berkembang secara pesat dan cepat karena dalam mendakwahkan Islam dengan menggunakan prinsip Al-Qur’an ini. Beda dengan kelompok yang menggunakan kekerasan dalam berdakwah, yang sayangnya di Indonesia gerakan seperti itu juga sudah cukup banyak. Mereka malah membalik ayat, yang seharusnya amar ma’ruf lebih dulu dari nahi mungkar, mereka lebih mengutamakan nahi mungkar itu juga dengan cara-cara yang kasar. Mereka tidak segan-segan menggunakan senjata tajam, bahkan ada masjid yang didalamnya digunakan untuk merakit bom. Inilah yang sangat memprihatinkan, jika amar ma’ruf nahi mungkar yang merupakan ajaran luhur dari Islam justru dipraktikkan dengan cara yang salah. Karenanya saya berharap ada kerjasama yang kelak bisa terjalin, terutama dengan yayasan yang saya dirikan dan pimpin di Indonesia khususnya dalam penyediaan literatur-literatur Syiah, sehingga kesalahpahaman akibat informasi-informasi yang tidak tepat bisa diminimalisir.

Berkenaan dengan Imam Husain, saya sudah mengenalnya justru sebelum saya lahir. Karena ayahnya saya, Kiyai Arsyad adalah salah seorang pecinta Ahlulbait, pecinta al Husain dan memperkenalkannya disaat saya masih dalam kandungan. Beliau seorang penghafal al-Qur’an, dan disaat usia saya 9 tahun, ia mengatakan harapannya kepada saya, untuk bisa menyekolahkan saya ke Mesir, karena di Mesir ada makam Imam Husain. Dan di Mesir saya belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman selama 20 tahun. Dan sekembali dari sana saya mendirikan tarekat al-Syadzilia di Indonesia. Dalam riwayat yang diakui kesahihannya dalam Syiah maupun Ahlusunnah, Imam Husain adalah penghulu pemuda di surga. Dan riwayat lain disebutkan, bahwa Nabi dalam sabdanya menyebutkan Imam Husain kelak akan meraih syahadah dalam perjuangannya. Ini menunjukkan keutamaan besar yang dimiliki Imam Husain.

Mengenai kebangkitan Imam Husain, ia melakukan hal tersebut dalam rangka melawan kezaliman dan penindasan. Pemerintahan saat itu adalah kekuasaan yang cinta dunia, dan tidak lagi mementingkan kepentingan umat Islam. Karenanya Imam Husain bangkit untuk menyerukan perlawanan terhadap itu. Imam Husain kemudian syahid di Karbala, tanpa pertolongan, karena penduduk setempat saat itu, juga lebih mementingkan kepentingan duniawinya daripada memperjuangkan Islam. Dari kebangkitan dan kesyahidan Imam Husain itu, umat Islam harus menjadikannya pelajaran dan menarik hikmah, bahwa perjuangan membela Islam harus lebih diutamakan diatas segala-galanya.

kh.KH Mudrik al-Qari: Persatuan dan Ukhuwah Adalah Fitrah Setiap Insan

Pimpinan Pondok Pesantren al-Ittifaqiyah Palembang, KH. Mudrik al-Qari dalam penyampaiannya pada Dialog antar Mazhab Sunni dan Syiah, menyebutkan, “Persatuan Islam adalah tema yang seksi untuk dibahas dan sering diserukan oleh banyak ulama di dunia Islam. Karena tidak ada yang bisa memungkiri, bahwa agama Islam adalah agama yang menyerukan pada persatuan dan perdamaian.”

“Fitrah setiap manusia menghendaki hidup yang damai, dalam kebersamaan dan persatuan. Namun terdapat sejumlah faktor yang kemudian menjadi penghalang terwujudnya persatuan itu. Salah satu diantaranya adalah kesombongan dan arogansi. Mengenai hal ini kita bisa belajar dari kisah iblis, yang disebabkan karena kesombongan ia akhirnya terusir dari surga. Begitupun pertikaian antara Sayyidina Ali dengan Muawiyah. Perpecahan terjadi karena adanya sikap arogansi dan memaksakan kehendak,” ungkap ulama kharismatik tersebut.

“Faktor kedua adalah cinta dunia. Sebagaimana kisah Habil dan Qabil. Adanya kecintaan terhadap dunia yang berlebihan menjadi penyebab salah seorang dari keduanya terbunuh oleh saudaranya sendiri. Cinta dunia menjadi pendorong terjadinya dosa besar yaitu membunuh dan hilangnya persatuan antara keduanya. Sementara yang ketiga adalah fanatisme sempit. Fanatisme sempit yang hampir semua ada dalam setiap kelompok Islam menjadi penyulut perpecahan, yang sayangnya ini kemudian dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam sehingga umat Islam sulit untuk mewujudkan persatuan ini. Dan faktor terakhir adalah kepentingan sendiri. Organisasi-organisasi Islam baik dalam skala negara maupun dalam lingkup yang lebih kecil bergerak berdasarkan kepentingan organisasinya masing-masing, bukan untuk kepentingan umat yang lebih besar.” Tambahnya.

KH. Mudrik al-Qari dalam penyampaian selanjutnya menyebutkan solusi yang harus ditempuh yang paling pertama adalah melalui jalur pendidikan dan pengentasan kemiskinan.

“Kebodohan dan kemiskinan adalah musuh umat Islam. Lewat pendidikan kita bisa melahirkan generasi Islam yang pandai dan paham akan hakekat dakwah Islam dan melalui pembangunan ekonomi yang kuat, kita bisa menciptakan komunitas muslim yang disegani dan bermartabat. Langkah selanjutnya adalah aktifkan dialog dan perbanyak silaturahmi antar ulama dan tokoh-tokoh Islam. Dan yang lebih utama, adalah membangun sebuah kekuatan Islam berbasis negara yang disegani oleh dunia internasional. Yang saya melihat potensi tersebut ada pada Indonesia dan Iran. Kedua negara ini semoga semakin bisa bekerjasama dengan baik, utamanya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan umat Islam. Dengan demikian, insya Allah persatuan Islam akan terwujud,” ujarnya.

“Harapan kami, keberadaan kami disini dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan baik tentang Syiah maupun tentang  Iran, yang kami kenal sejak kecil, bahwa di abad pertengahan, Persia sebagai sebuah imperium besar. Saya yakin, dengan adanya kerjasama Iran sebagai negara yang penduduk bermazhab Syiahnya terbesar dan Indonesia sebagai negara yang penduduk mazhab Sunninya terbesar di dunia, kedua negara ini akan menjadi negara yang disegani di dunia internasional. AS dan teman-temannya tidak akan berbuat macam-macam lagi terhadap dunia Islam,” tambahnya. (ba/abna.ir)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL