Gaza, LiputanIslam.com–Rezim Israel telah menangkap sekitar 16.500 anak Palestina sejak pemberontakan Intifada Kedua pada akhir tahun 2000. Demikian laporan dari Palestinian Information Center (PIC) pada Minggu (26/5) kemarin.

Intifada Kedua, atau yang dikenal sebagai Intifadah al-Aqsa, dimulai pada 18 September 2000. Pemberontakan ini dipicu oleh kunjungan mantan perdana menteri Israel, Ariel Sharon, ke kompleks Masjid al-Aqsa.

Laporan ini merujuk pada hasil studi oleh mantan napi Palestina dan peneliti dari Detainees and Ex-Detainees Affairs Commission, Abdul-Naser Farwana.

Di dalam hasil penelitian tersebut, disebutkan bahwa selama tahun 2000-2010,  terdapat sedikitnya 700 kasus penangkapan yang terdokumentasi. Sementara itu, selama delapan tahun terakhir, angka kasus meningkat tajam hingga 1.250.

Farwana juga mengungkap fakta dan statistik yang mengkonfirmasikan bahwa rezim Israel memang mengadopsi kebijakan penangkapan yang sistematis terhadap anak-anak Palestina. Kebijakan ini diambil dengan tujuan menghancurkan kehidupan dan masa depan mereka.

Pada bulan Maret lalu, UNICEF mengungkapkan bahwa terdapat sekitar empat puluh anak Palestina yang tewas dan ratusan lainnya terluka selama satu tahun demonstrasi Great March of Return. Mereka menyerukan agar Israel mengakhiri kekerasan terhadap anak-anak di Gaza dan tempat lain di seluruh wilayah pendudukan. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*