pasien kanker anak Iran

Tehran, LiputanIslam.com–Para pasien kanker di Iran menghadapi ancaman nyawa yang besar akibat sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS kepada Republik Islam. Demikian laporan dari profesor farmasi Iran, Dr. Abbas Kebriaee Zadeh.

Dalam artikelnya di Foreign Policy,  pengajar di Tehran University of Medical Sciences itu menulis bahwa sanksi AS terhadap Iran secara tidak langsung menghambat aliran obat-obatan vital untuk pasien kanker.

Meski Washington mengklaim sanksi mereka tidak akan menutup aliran obat-obatan dan kebutuhan kemanusiaan lainnya ke Iran, Dr.  Zadeh mengklaim bahwa sanksi itu sebenarnya meningkatkan harga impor dan  pada akhirnya memblokir rantai pasokan obat.

Mengutip Biro Sensus AS, Dr. Zadeh menulis bahwa di bawah pemerintahan Presiden AS Donald Trump selama dua tahun terakhir, pembatalan ekspor produk farmasi AS ke Iran turun hingga rata-rata $8,6 juta per tahun. Pada era   Barack Obama, sanksi ‘hanya’ menyebabkan penurunan hingga $26 juta per tahun.

Pemerintahan Trump juga mempersulit ekspor obat-obatan dari negara-negara Eropa ke Republik Islam.

“Ekspor farmasi Swiss ke Iran turun 30 persen dari 235 juta franc Swiss pada 2017 menjadi 163 juta franc tahun lalu, menurut data bea cukai Swiss. Meskipun sanksi hanya diberlakukan kembali sepenuhnya pada November 2018, ekspor Swiss tahun itu turun di bawah 173 juta franc ($ 178 juta)…,” tulisnya. Hal yang sama juga terjadi pada Prancis.

Dr. Zadeh juga mengungkapkan keprihatinannya atas risiko kematian para pasien kanker anak. Ia mencarar, sanksi ini telah membuka jalan bagi “penyelundupan obat-obatan palsu dan berkualitas rendah ke Iran melalui rute dari Pakistan, Turki, dan Uni Emirat Arab.” (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*