Sumber: AP

Moskow,LiputanIslam.com—Arab Saudi terpaksa harus menghentikan perusahaan minyaknya—Abqaiq dan Khurais—akibat serangan drone pada 14 September lalu. Insiden ini dilaporkan telah mengurangi produksi minyak kerajaan sebanyak 5.7 juta barel perhari. Kelompok perlawanan Houthi-Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Deputi Kemenlu Rusia, Sergey Vershinin, menyampaikan kepada para jurnalis pada Selasa (24/9) kemarin, bahwa kehadiran militer AS di Timur tengah tidak akan meredakan ketegangan di Teluk Persia, khususnya pasca serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.

“Kami tidak sependapat jika isu-isu semacam itu bisa diselesaikan dengan cara meningkatkan kehadiran militer. Menurut kami, semua detail persoalannya harus diverifikasi, harus ada investigasi objektif,” ujar Vershinin.

Minggu lalu, Menteri Pertahanan Arab Saudi telah menggelar konferensi pers yang isinya adalah tuduhan keterlibatan Iran dalam serangan tersebut. Iran telah menolak tuduhan ini dan menyebut Arab Saudi tak memiliki bukti apapun.

Delegasi khusus AS untuk Iran, Brian Hook, mengatakan pada Senin lalu, bahwa Timur Tengah kemungkinan akan jatuh dalam perang jika komunitas internasional tidak membendung kekuatan Iran.

Baca: Menlu Saudi Nyatakan Ada Opsi Militer untuk Merespon Insiden Aramco

Presiden Iran, Hassan Rouhani, menekankan pada Selasa kemarin, bahwa Amerika terkejut menyaksikan kelompok Houthi telah berhasil menyerang Arab Saudi meski negara itu dilengkapi oleh sistem pertahanan rudal buatan AS. (fd/Sputnik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*