Members of Ansar al-Sharia (Reuters / Stringer)

Members of Ansar al-Sharia (Reuters / Stringer)

Benghazi, LiputanIslam.com – Setelah Khilafah dideklarasikan di wilayah Irak dan Suriah yang dicaplok ISIS, kini kelompok militan radikal yang disebut  Ansar al-Sharia mendeklarasikan  Benghazi, sebagai “Islamic Emirate” atau kepemimpinan Islam. Benghazi adalah kota kedua terbesar di Libya, dan Ansar al- Sharia adalah militan radikal turunan Al-Qaeda yang beroperasi di Libya. Saat ini Al-Sharia mengklaim telah mengontrol Benghazi dan merebut pos-pos militer .

Juru Bicara kelompok ekstremis itu, kepada Radio Tauhid, yang dikutip oleh RT, menyatakan, “Benghazi kini telah menjadi Islamic Emirate.”

Namun, deklarasi ini dikecam oleh pasukan pro-pemerintah Libya.

“Tentara Nasional  Libya yang mengontrol Benghazi, saat ini hanya sedang menarik diri dari posisi tertentu demi sebuah taktik. Sehingga, klaim bahwa Benghazi berada dibawah kendali Al-Sharia, adalah dusta,” ujar Khalifa Haftar, Mantan Jenderal Angkatan Darat, yang pada Mei lalu menyatakan angkat senjata melawan militan radikal.

Ansar al-Sharia terbentuk saat meletusnya Arab Spring di Libya, yang turut menggulingkan pemimpin Libya Muamar Ghadaffi. Dalam aksinya, Al-Sharia dituduh telah menyerang konsulat AS, dan menewaskan stafnya.

Pertempuran di Libya pasca tumbangnya Ghadaffi masih sering terjadi. Dua pekan lalu, 200 orang tewas akibat bentrokan di Tripoli dan Benghazi.

Pada hari Rabu (30/7), Al-Sharia menyatakan tengah menyerbu pangkalan militer di Benghazi dan merebut puluhan box amunisi. Bulan Sabit Merah Libya menyatakan, mereka telah menemukan setidaknya 35 mayat tentara di pangkalan militer.

Sementara itu di Tripoli, dari keterangan Kementerian Kesehatan Libya,  ratusan  orang tewas dalam pertempuran di bandara , dan  400 lainnya terluka. Selama dua minggu terakhir, berbagai bentrokan terjadi untuk berebut kontrol bandara, di bagian selatan kota.

Akibat kekacauan yang meluas, Komite PBB untuk Libya dan Palang Merah Internasional menarik stafnya pada pekan lalu. Hal ini juga diikuti oleh Inggris dan AS yang juga mengevakuasi staf-staf mereka dari Libya. Spanyol pun tak ketinggalan, dan disusul Yunani, yang bergegas menarik kedubesnya dari Libya.

Tiga tahun setelah AS dan NATO, menggunakan militan radikal untuk menggulingkan Muamar Ghadaffi, Libya kini dalam kondisi terpuruk dan hancur. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL