Sumber: UNEJ

Jember, LiputanIslam.com — Rektor Universitas Jember (Unej) Moh Hasan mengatakan pihaknya berupaya untuk melakukan strategi “senyap” dalam menjalankan langkah-langkah pencegahan dan penanganan deradikalisme di kampus Unej.

“Kami sebagai lembaga perguruan tinggi negeri (PTN) ingin menyiapkan SDM Indonesia masa mendatang yang bermanfaat bagi bangsa dan negara, bukan sebaliknya,” kata Moh Hasan di Kampus Unej, Rabu (27/11).

Ia menegaskan bahwa Unej tidak tinggal diam terhadap hasil pemetaan mahasiswa yang terpapar radikalisme meskipun pihaknya belum meyakini kebenaran hasil penelitian tersebut 100 persen benar.

Hasil pemetaan LP3M Unej tersebut menyebutkan bahwa 22 persen dari 15.567 mahasiswa Unej sudah terpapar radikalisme.

“Kami memperhatikan data itu. Namun, upaya pencegahan dan penanganan terhadap radikalisme di Unej dilakukan dengan ‘senyap’, seperti konseling agama yang diberikan kepada salah satu mahasiswa yang terindikasi memiliki benih-benih radikalisme,” ucap Rektor Unej dua periode itu.

Baca juga: Laporan LP3M UNEJ: 22 Persen Mahasiswa Terpapar Paham Radikal

Kalau ada mahasiswa yang teindikasi memiliki potensi radikal, lanjut dia, pihak dosen Unej yang memiliki kemampuan yang memadai soal itu akan mencoba mendekati, kemudian menjalani proses untuk meredikalisasi agar seolah-olah pandangan benar yang mereka sampaikan bisa terimbangi dengan pandangan lain yang referensinya kuat sehingga mahasiswa tersebut bisa menjadi toleran lagi.

Berkaitan dengan hal tersebut, dosen FKIP Universitas Jember (Unej) Akhmad Taufiq diberhentikan dari jabatannya sebagai Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Unej. Taufiq diberhentikan setelah memaparkan hasil pemetaan tahun 2017, yang menyebut ada 22 persen mahasiswa Unej terpapar radikalisme. Paparan Taufiq disampaikan dalam acara Festival HAM yang digelar di Pemkab Jember sepekan lalu.

Kini jabatan Ketua LP3M dijabat oleh Bambang Sujanarko, yang juga menjadi dosen di Fakultas Teknik Unej. Taufiq, yang juga seorang dosen di FKIP Unej, merupakan narsum di acara ‘Strategi Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, dan Kekerasan Esktremisme di Dunia Pendidikan dan Media Sosial’ sepekan yang lalu.

Namun apakah pencopotan jabatan Taufiq itu ada kaitannya dengan paparannya yang dilakukan pada acara forum dialog tersebut, Rektor Unej Moh Hasan saat dimintai konfirmasi sejumlah wartawan enggan memberikan pernyataan. Dia mengaku hasil pemetaan itu untuk konsumsi internal. (Ay/Antara/Detik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*