'No one cares': The tragic truth of Syria's 500,000 refuge children

Anak Suriah di pengungsian. Sumber foto: Al Alam

LiputanIslam.com — Konflik yang mendera Suriah selama tiga tahun, telah menewaskan ratusan ribu lebih jiwa, dan jutaan rakyat Suriah terpaksa mengungsi. Dulunya, Suriah adalah sebuah negara yang merupakan rumah bagi para pengungsi Palestina maupun Irak, dan kini kondisinya terbalik. Setidaknya satu juta jiwa pengungsi Suriah terdapat di Lebanon, yang sebagian dari mereka merupakan anak-anak.

fokus suriah

Anak kecil Suriah di pengungsian. Sumber Foto: Al- Alam

Anak-anak malang itu, hidup di dalam tenda tanpa ada yang terlalu peduli dengan keadaan mereka yang menyedihkan. Fotografer Inggris Ed Thompson yang menghabiskan waktu selama enam hari di tempat pengungsian, sempat mewawancarai para pengungsi di kamp. Di Chhim- Lebanon Barat,  Thompson mendapati anak-anak Suriah yang berusia antara satu hingga lima tahun terancam resiko kematian akibat cuaca yang dingin. Anak –anak itu juga terancam bahaya perdagangan anak, atau mengemis di pinggir jalan, sedangkan  bagi anak perempuan yang telah remaja terancam diperjual-belikan dalam transaksi perdagangan perempuan.

Dalam peperangan, tidak bisa dipungkiri bahwa rakyat sipil yang paling menderita. Mereka menjadi korban atas pertarungan kekuasaan. Barja, seorang ibu dari dua gadis kecil yang berusia delapan dan sembilan tahun, penyandang cacat , yang melarikan diri Suriah ketika rumahnya dibakar. Sementara suami, ayah dari anak –anaknya ditembak. Kini mereka tinggal di sebuah kamar sewa kecil di Lebanon. Dia tidak tahu apakah suaminya selamat ataukah sudah tewas. Wanita malang tersebut tidak punya uang, dan sangat membutuhkan uluran tangan untuk meringankan bebannya.

fokus suriah 2

Sedangkan Wafaa, adalah seorang pengungsi wanita yang kini tinggal di rumah salah satu penduduk Lebanon selama satu setengah tahun yang hingga kini tidak mengetahui dimana suaminya berada. Waffa juga sangat khawatir dengan kondisi anak-anaknya. “Masa depan anak-anak saya telah hilang, mereka adalah mahasiswa kedokteran dan hukum di Suriah. Sekarang, anak saya bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah sakit yang upahnya tidak layak, sedangkan anak saya yang satunya lagi bekerja sebagai buruh tani. Alangkah menyedihkannya, seorang mahasiswa kedokteran dan hukum melakukan pekerjaan ini, sungguh hal ini telah menghancurkan hati saya. Saya seperti orang lain yang menunggu, dan terus menunggu untuk bisa kembali ke Suriah.”

Perang di Suriah terjadi tanpa memandang tempat. Mungkin hanya di Suriah kita bisa mendapati baku tembak terjadi di kamp pengungsi, atau di masjid hingga sekolah dasar. Masjid beralih fungsi menjadi banteng pertahanan, begitu juga dengan kamp pengungsi. Salah satunya, di Kamp Yarmouk sedang terjadi bentrokan antara pasukan pemerintah dengan militan yang disponsori negara asing dan akibatnya, kamp tempat hidup rakyat Palestina tersebut hancur lebur, sebagian dari mereka berhasil keluar dari kamp dan yang masih tertahan, menderita kelaparan akibat blokade.

Di sebuah masjid di Chhim, namanya Amer, dia bercerita; “Saya dan adik, berserta istri dan anak-anak juga orang tua kami memutuskan untuk meninggalkan kota Homs. Kami diserang dari segala penjuru, dan setelah perjuangan berat kami dapat meloloskan diri walaupun saya sempat dipukul keras. Kami tiba di Chhim, dan kami bersyukur masih bisa ditampung di masjid. Adik saya mendaftarkan  kami sekeluarga di PBB, dan mereka sempat membantu kami selama dua bulan. Namun setelahnya bantuan mereka terhenti, dan akibat luka-luka di dalam perjalanan, kaki saya terpaksa harus diamputasi. Hidup saya serasa berhenti..”

Masih dari Chhim, Abu Ahmad bercerita; “Saya melarikan diri dari Suriah di bawah hujan peluru, tembakan dan bom, itu mengerikan. Saya tidak tahu apa-apa lagi tentang keluarga saya, rumah ataupun kota saya. Saya adalah pengungsi yang di hari pertama, saya harus tidur di sebuah gubuk yang terbuat dari karton dan sampah. Beberapa hari kemudian keluarga lain menyusul datang ke sini dan bergabung dengan keluarga kami. Saya tidak punya apa-apa, tidak punya uang, tidak ada air dan tidak ada makanan. Akhirnya ada penduduk kota yang iba melihat kondisi kami, dan ia membantu kami. Sebidang tanah ini atas kebaikan hatinya, kami diizinkan mendirikan tenda dari bahan yang bisa kami temukan ataupun yang diberikan oleh penduduk. Ada 50 keluarga tinggal di sini, dan jumlah mereka sekitar 250 orang. Selama musim panas, kami menderita akibat ke sengatan kalajengking dan ular. Kini di musim dingin, kami harus menghadapi udara dingin dan hujan salju. Sebelumnya PBB membantu kami selama dua bulan dan setelahnya, mereka menghentikannya. Tidak ada lagi yang membantu kami…”

Begitu juga halnya dengan Yaseen Abdulatif El Dos: “Kami menjalani kehidupan yang sangat keras, tidak ada lagi uang untuk menghidupi keluarga seperti halnya kehidupan kami yang sebelumnya sangat indah di Suriah. Di Lebanon, saya membayar sewa sebesar $ 300 dan dalam satu ruangan kami tempati untuk sembilan orang. Di musim dingin ini, kami sangat kedinginan dan tidak ada yang bisa menghangatkan. Kamar mandi terhubung dengan dapur tanpa ada pintu, bahkan lucunya, ketika ada tikus masuk ke ruangan kami, dia hanya diam lalu beranjak pergi. Tikus itu tahu bahwa tidak ada sesuatu yang bisa ia temukan di sini..”

Lalu, Ahmad Taher juga bercerita: “Saya tinggal di sini,  di sebuah ruangan yang terletak di bawah gedung. Bahkan penduduk  Lebanon  yang paling miskin pun tidak ada yang tinggal di tempat seperti ini. Ini berbahaya bagi kedua orang anak saya, saya sudah mencoba melakukan semampu saya, kondisi di sini tetaplah  sulit. Delapan orang tinggal di ruangan ini dan perlahan-lahan keadaan ini akan membunuh kami. Kami lebih miskin daripada semua orang miskin, dan segala sesuatu yang kami miliki merupakan sumbangan dari warga kota. Ketika kami meninggalkan Qusayr, kami ditembaki. Istri saya terluka pada kakinya. Saya membawanya kemari beserta anak-anak agar kami aman di sini, namun kini saya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Tidak akan ada satu orang pun yang bercita-cita untuk tinggal di pengungsian yang jauh dari kata layak sementara mereka sebelumnya adalah keluarga yang berkecukupan di Suriah. Namun itulah harga mahal yang harus mereka tebus. Suriah telah tercabik-cabik. Sebuah resiko yang atas konsistennya pemerintah Suriah dengan sikapnya yang tidak mau tunduk kepada plot zionist. Di tengah embargo, Suriah menjelma menjadi sebuah negara mandiri yang tidak bisa ditekan oleh negara manapun, dan hingga hari ini Suriah masih belum berdamai dengan Israel.

Di saat yang sama rakyat Palestina masih dan  terus menerus mengalami penindasan oleh rezim zionist Israel, namun sayangnya seruan jihad malah di tujukan kepada Suriah. Yang paling menyedihkan, Arab Saudi sebagai tempat lahirnya ajaran cinta kasih yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, adalah pendukung utama pembantaian ratusan ribu kaum muslimin di Suriah. (LiputanIslam.com/alalam/AF)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL