Sumber: nu.or.id

Lamongan, LiputanIslam.com– Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar mengatakan bahwa dalil terkait memperingati Maulid Nabi Saw dan Haul secara implisit sudah dijelaskan dalam Al-Quran. Di antaranya di Surah Maryam ayat 15 yang artinya “Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”

“Kalau kita pahami, ayat tersebut adalah sebuah penghormatan dari Allah Swt kepada Nabi Yahya bin Zakariya pada saat itu, lalu mengistimewakannya dengan salam sejahtera untuknya. Maka Allah Swt berfirman Wa salāmun ‘alaihi yauma wulida wa yauma yamụtu wa yauma yub’aṡu ḥayyā. Artinya Allah Swt memberikan ucapan selamat, salam kesejahteraan atau penghormatan atas kelahiran Nabi Yahya,” terang Kiai Miftah di Lamongan, Jawa Tengah, seperti dilansir NU Online pada Sabtu (16/11).

“Bukan hanya penghormatan saat lahir tapi juga saat kewafatan dan saat Nabi Yahya dibangkitkan atau dihidupkan lagi kelak di hari kebangkitan semua manusia,” tambahnya.

Ayat berikutnya berbunyi “Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 33).

“Maksud kalimat ‘Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku’ adalah keselamatan dari Allah kepada Nabi Isa as. Kemudian kalimat ‘pada hari aku dilahirkan’ adalah keselamatan ketika dilahirkan dan menjalani hidup di dunia. Kemudian kalimat ‘pada hari aku meninggal’ maksudnya di alam kubur. Sedangkan kalimat ‘dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali’ maksudnya adalah ketika di akhirat. Karena sebagaimana semua manusia, Nabi Isa as. juga pasti akan melewati tiga fase ini, yaitu hidup di dunia, mati di alam kubur, lalu dibangkitkan lagi menuju akhirat. Dan, Allah memberikan keselamatan kepada beliau di semua fase ini,” ucapnya.

“Benar, dua ayat diatas adalah dalil perayaan maulid dan haul dari para Nabi. Lantas kita juga harus mengetengahkan bukti atas diperbolehkannya melakukan peringatan haul para ulama. Salah satu ayat yang bisa dijadikan bukti dan dalil adalah ayat lain dalam surat Maryam yang bunyinya, ‘Ważkur fil-kitābi maryam, iżintabażat min ahlihā makānan syarqiyyā’, yang artinya ‘Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.” (QS Maryam: 16),” lanjut Kiai Miftah.

Kelahiran Nabi Muhammad Saw adalah anugerah teragung yang Allah Swt berikan kepada alam semesta, ketika umat manusia mengalami krisis spiritual dan moral yang luar biasa. Maulid merupakan representasi kecintaan kepada manusia terbaik, peringatan maulid juga diharapkan menjadi referensi untuk meneladani sikap dan perilaku Rasulullah.

Baca: Menag Minta Umat Berani Suarakan Kebenaran

Merayakan maulid Nabi dan para ulama, serta haulnya adalah upaya yang sangat baik untuk meningkatkan ekspresi kecintaan terhadap sang manusia terbaik. Kecintaan terhadap para ulama sebagai waratsah al-anbiya’. Maka kalau ada orang atau kelompok yang menuding bahwa peringatan maulid atau haul adalah bi’dah, maka sejatinya ucapan merekalah yang bid’ah. (aw/NU).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*