Habib Luthfi bin Yahya - Ulama Sufi Indonesia

Foto: MMN

Jakarta, LiputanIslam.com – NKRI harga mati, jihad seharusnya dilakukan di bidang ekonomi dan pendidikan, seperti itulah seruan Habib Luthfi bin Yahya, Ra’is ‘Am Jam’iyyah Ahl Thariqah Mu’tabarah an-Nahdhiyah, dalam kicauannya di Twitter. Menurutnya, musuh Indonesia saat ini adalah kemiskinan, kebodohan, fanatisme dan lemahnya keyakinan.

Dikutip dari Muslimedianews, Habib Luthfi mengingatkan bahwa jihad di masa kini bukan lagi dengan mengangkat pedang maupun senapan. “Ayat-ayat tentang perang, seluruhnya bersifat defensif yaitu mempertahankan diri dari serangan nyata, atau yang berpotensi membahayakan,” tulisnya.

Tidak ada dalam sejarahnya Rasulullah Saw membunuh Muslim, ataupun non-Muslim. Rasul menjaga hak hidup bangsa-bangsa, baik non-Muslim,” lanjutnya melalui @HabibluthfiYahy, 4Agustus 2014.

Habib Luthfi juga menyinggung tentang Piagam Madinah, yang menjamin kebebasan beragama bagi kaum  Yahudi, dan juga keyakinan lainnya. “Yang menjadikan sebuah kelompok/ komunitas atau bangsa sah untuk diperangi bukan lantaran dia Muslim atau bukan, melainkan karena ‘al-harabah/ harbi‘; yaitu melakukan penyerangan terlebih dahulu,”kicaunya.

Piagam Madinah, juga dikenal dengan sebutan Konstitusi Madinah, ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad Saw, yang merupakan suatu perjanjian formal antara Nabi dengan semua suku-suku dan kaum-kaum penting di Yathrib (Madinah) pada tahun 622. Dokumen tersebut disusun sejelas-jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani ‘Aus dan Bani Khazraj di Madinah. Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas-komunitas pagan Madinah; sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas.

Lalu, bagaimana pendapat Habib Luthfi mengenai Khilafah Islamiyah atau Negara Islam?

“Kita perlu melihat sejarah, formalisasi syariat dalam sebuah negara – entah apapun namanya, itu tidak efektif. Negara Islam itu hanyalah ilusi, bagaimana mungkin kita menghilangkan batas-batas teritorial dan menggantinya dengan Khilafah? Sedangkan memperebutkan satu pulau saja butuh waktu berpuluh-puluh tahun.”

Menurutnya, persolan semacam ini yang membuat banyak negara-negara berpenduduk mayoritas Islam sangat tertinggal dalam segala aspek, lantaran pemerintah sibuk mengurusi kelompok Muslim radikal. “Energinya habis untuk melawan bangsa sendiri; terorisme, radikalisme, fanatisme dan perang saudara antara Sunni-Syiah. Kapan bisa membangun?”

Baginya, toh umat Islam saat ini di Indonesia bebas melakukan aktifitas keagamaan, UUD menjamin dan negara melindungi. Sehingga, jika ada yang kurang, ia mengajak untuk sama-sama memperbaiki. “Jangan beri kesempatan adanya perpecahan sekecil apapun. Jaga NKRI. Sekali mereka tumbuh, maka akan menambah daftar (dari negara-negara yang chaos akibat terorisme) seperti: Afghanistan, Irak, Suriah dan Mesir.

Ia menilai, perbedaan itu adalah dinamika, dan menggunakan  pedang, senapan maupun bom bukan penyelesaian. “Al-Quran mengajarkan toleransi “Janganlah kalian memaki sesembahan yang mereka sembah..”al-An’am 108. Kerenanya, mari rekatkan persaudaraan dan persatuan. Rajut keutuhan NKRI. Hormati pemimpin, aparat, TNI-POLRI & pemerintah, rawat kebinekaan. Kita jaga negara tercinta ini. NKRI harga mati, teriakkan itu dimanapun, kapanpun,” tutupnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL