Sana’a, LiputanIslam.com–Yaman tengah mendekati titik ekstrem kelangkaan makanan setelah terjadi peningkatan kasus kelaparan sebanyak 25% pada tahun ini dan serangan ke pelabuhan utama di kota Hodeida yang merupakan akses makanan kepada jutaan warga.

Peringatan ini disampaikan oleh berbagai organisasi kemanusiaan pada Senin (23/7/18).

Menurut laporan dari Thomson Reuters Foundation, terdapat tambahan ribuan warga Yaman yang terusir akibat konflik dan tidak mendapat makanan sehingga harus mengemis di jalanan. Sementara, terdapat 8,4 juta warga yang berada di ambang kelaparan.

“Kami melihat negara ini telah berdiri di ujung jurang kelangkaan makanan ekstrem– dan dapat jatuh kapan saja,” kata Suze van Meegen, juru bicara Dewan Pengungsi Norwegia kepada Thomson Reuters Foundation lewat wawancara telepon dari ibukota Yaman, Sanaa.

“Kami menyaksikan keputusasaan semakin membesar– ada lebih banyak orang yang mengemis di jalanan.”

Menurut data dari World Food Programme (WFP) PBB, 4 dari 10 anak di bawah lima tahun kini menderita malnutrisi dan angka warga yang terlantar sejak serangan Hodeida mencapai 200.000.

Kelangkaan makanan ekstrem terjadi ketika lebih dari 20% populasi sebuah negara tidak bisa mendapat makanan sendiri, 30% atau lebih anak-anak di bawah 5 tahun menderita malnutrisi, dan angka kematian bertambah dua kali lipat.

Serangan ke pelabuhan Hodeidah dipimpin oleh militer Arab Saudi dan UAE. Pelabuhan ini pun ditutup, sehingga suplai makanan, minyak, dan bantuan kemanusiaan tidak bisa mencapai warga Yaman. (ra/mintpress)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*