London, LiputanIslam.com–Organisasi HAM Amnesty International melaporkan salah satu karyawannya menjadi target upaya mata-mata lewat software buatan Israel, yang dapat membuat telepon genggam seseorang menjadi alat pengintaian yang kuat.

Pada bulan Juni lalu, karyawan ini menerima sebuah pesan WhatsApp berisi dukungan kepada tahanan politik yang ditangkap oleh Arab Saudi.

Menurut analisis Amnesty International, pesan tersebut berisi link ke sebuah website berita palsu yang jika diklik, ia secara otomatis akan mengunduh sebuah software berbahaya yang dapat mengubah telepon genggam itu menjadi alat mata-mata.

Software ini disebut Pegasus dan diciptakan oleh perusahaan intelijen cyber Israel, NSO Group. Software ini dilaporkan hanya dijual kepada pemerintah.

Ketika diinfeksi software ini, ponsel tersebut dapat mengirimkan data dan informasi kepada pusat mata-mata, termasuk informasi pelacakan gerakan dan lokasi si pemilik ponsel. Software ini pun dapat melakukan screenshot dan menyalakan kamera dan mikrofon, mencuri email, pesan WhatsApp dan password.

“Pesan itu jelas-jelas berupaya memperdaya keyawan kami untuk mengklik link tersebut,” kata Amnesty.

Amnesty juga mengidentifikasi salah satu pembela HAM dari Arab Saudi yang menerima pesan serupa, yaitu pesan informasi tentang isu HAM di Saudi, namun diduga mengandung link berbahaya dari jaringan NSO Group.

Merespon laporan Amnesty, NSO Group pun memberikan pernyataan bantahan: “NSO Group mengembangkan teknologi cyber untuk membantu agensi pemerintah mengidentifikasi dan melawan teroris dan kriminal. Produk kami dimaksudkan untuk dipakai secara khusus untuk investigasi dan pencegahan kejahatan dan terorisme.”

Namun, menurut investigasi dari Citizen Lab Universitas Toronto, alat pengintai Israel yang sama telah digunakan untuk menargetkan jurnalis dan pembela HAM di Panama, Meksiko, dan Uni Emirat Arab. (ra/electronicintifada)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*