Sumber: merdeka.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Kepala Kajian Makro LPEM Universitas Indonesia (UI) Febrio Kacaribu memprediksi neraca perdagangan Indonesia akan terus defisit hingga tahun depan. Defisit tersebut dipengaruhi perubahan harga bahan bakar global.

“Kami memperkirakan tren ini akan berlanjut hingga tahun 2020. Dengan mempertimbangkan bahwa perubahan harga bahan bakar global akan secara signifikan mempengaruhi neraca perdagangan,” kata Febrio di Jakarta, Senin (4/11).

Baca: Neraca Perdagangan Juni 2019 Surplus 200 Juta Dolar AS

Dia mengatakan, perdagangan minyak dan gas pada kuartal II 2019 mengalami defisit sebesar 3,2 miliar dolar AS. Defisit tersebut lebih dalam dibandingkan pada kuartal sebelumnya sebesar 2,2 miliar.

“Kondisi ini menunjukkan kita bahwa peningkatan CAD pada kuartal I 2019 kemungkinan hanya sebuah anomali,” ujarnya.

Dia menyampaikan, minyak impor bukanlah penyebab utama melebarnya defisit neraca transaksi berjalan karena neraca perdagangan minyak dan gas tetap defisit selama lima tahun terakhir dan hanya berfluktuasi seiring dengan dinamika harga minyak mentah.

Dia menyebutkan, faktor yang membuat defisit perdagangan melebar adalah berkurangnya neraca perdagangan non-migas akibat kinerja ekspor yang payah.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengaku masih sulit untuk mengatasi defisit neraca perdagangan Indonesia. Sebab, permintaan pada sektor minyak dan gas setiap tahunnya terlalu tinggi.

“Kalau dilihat dari neraca migas yang nefatif, memang transaksi perdagangan sulit untuk positif,” ucapnya.

Dia menerangkan, pemerintah sudah membuat langkah untuk mengatasi defisit neraca perdagangan dengan menerapkan B20 atau campuran 20 persen minyak sawi pada solar.

“Penerapan B20 untuk mengatasi ini. Yang lain meningkatkan ekspor di sektor lain,” kata dia. (sh/merdeka/liputan6)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*