Foto: Liputan6

Foto: Liputan6

Jakarta, LiputanIslam.com — Pertamina telah menetapkan kenaikan harga elpiji 12 kg mulai hari ini, Rabu, 10 September 2014, mulai pukul 00.00 WIB. Dengan adanya kenaikan harga elpiji 12 kg sebesar Rp 1.500 per kg, maka harga jual Elpiji 12 kg di pasaran sebesar Rp 114.300 per tabung.

Mengapa harga elpiji naik?

Sebagian besar kebutuhan elpiji mesti diimpor. Tahun ini kebutuhan Elpiji kita mencapai 6 juta metrik ton. Sedangkan produksi di dalam negeri hanya menghasilkan 2,3 metrik ton. Untuk menutupi, Indonesia impor dari Timur Tengah.

Sebenarnya, sebelum adanya konversi minyak tanah ke Elpiji pada tahun 2007, Indonesia sempat mengalami surplus elpiji. Saat itu, produksi elpiji mencapai 1,2 juta metrik, sedangkan kebutuhan nasional hanya 800.000 ton.

“Kilang elpiji terbatas, sedangkan kebutuhan bertambah sehingga kita harus impor,”ucap Direktur Gas MPH Migas, Djoko Siswanto, seperti dilansir Majalah Detik, 8-14 September 2014.

Menurut Djoko, nilai impor elpiji pertahun, menembus angka 75 triliun. Dan lantaran impor, harga elpiji tidak hanya dipengaruhi oleh pasar internasional, tetapi juga oleh kurs rupiah. Saat rupiah jatuh, maka biaya impor pun melejit.

Padahal dilain pihak, Indonesia adalah negara yang kaya akan gas alam. Itulah sebabnya, Joko menyarankan agar beralih ke gas alam untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Keluarga Ana, tidak pernah ambil pusing dengan kenaikan harga elpiji. Rumahnya telah tersambung dengan pipa  Perusahaan Gas Negara. Harga gas alam yang ia gunakan untuk masak sehari-hari menjadi sangat murah.

“Memakai gas pipa alam lebih murah dan aman dibandingkan elpiji, setiap bulan juga ada petugas yang datang mengontrol,” jelasnya.

Setiap bulan, ia hanya membayar seniai 27.000 rupiah, dan paling mahal saat penggunaanya naik, ia membayar tidak lebih dari 35.000 rupiah. Meski Indonesia sangat kaya gas alam, penggunaannya untuk rumah masih terlalu sedikit. Indonesia lebih banyak menggunakan elpiji, yang diimpor besar-besaran.

Gas murah ini tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Berbeda dengan elpiji yang bisa dikemas dalam tabung, gas alam harus disalurkan ke rumah-rumah melalui pipa. Jaringan pipa transmisi (dari  tambang sampai pusat distribusi) hanya terentang di Sumatera sampai Jawa Barat dan jaringan lain lagi ada di Jawa Timur. Sedangkan jaringan pipa distribusi—yang bisa sampai ke rumah—hanya ada di segelintir kota besar dan sekitarnya.

Dan guna membangun pipa gas untuk 4.000 pelanggan, diperlukan biaya sekitar 20 miliar, sehingga para perusahan gas lebih senang menanamkan modal di sektor industri ketimbang memasok gas untuk rumah tangga yang membutuhkan waktu lima tahun untuk balik modal.

Ironisnya, gas alam yang terdiri dari metana (CH4) yang melimpah di Indonesia, dijual murah ke negara lain, terutama China. Lalu, Jusuf Kalla, yang kala itu menjabat sebagai wapres, ‘memaksa’ rakyat untuk beralih menggunakan elpiji. Sedangkan untuk menggunakan elpiji, pemerintah harus menggelontorkan 75 triliun per tahun.

Dilo Seno Widagdo, Presiden Direktur PT PGAS Solution, mengatakan harus ada dukungan pemerintah  untuk memangkas proses perizinan dalam  pembangunan infrastruktur jaringan pipa gas. Sebagaimana pemerintah Iran, yang ‘memaksa’ rakyatnya untuk menggunakan gas alam untuk keperluan rumah tangga dengan melakukan pembangunan pipa gas. (ph)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL