foto kompas

foto kompas

Sampang, LiputanIslam.com — Secercah harapan tumbuh kembali dari pengungsi Syiah Sampang, saat  Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin mengunjungi salah satu ulama terkemuka di Kabupaten Pamekasan, KH. Ali Karrar Shinhaji. Ia datang guna membicarakan solusi terkait permasalahan Syiah di Kabupaten Sampang.

Dikediaman Ali Karrar, Lukman menyampaikan beberapa perkembangan penanganan kasus Syiah Sampang dimana saat ini warga Syiah sedang menjalani masa penampungan di Sidoarjo.

Menurut laporan Kompas, pemerintah memiliki rencana untuk memulangkan warga Syiah ke kampung halamannya di Desa Bluuran dan Desa Karang Gajam, Kecamatan Omben, Sampang. Namun sebelum rencana tersebut dilaksanakan, Lukman mengaku penting untuk mendatangi beberapa tokoh penting.

“Kiai Karrar merupakan salah satu tokoh penting yang tahu tentang perkembangan Syiah Sampang. Sebagai Menteri Agama yang baru, saya patut meminta masukan kepada beliau,” ujar Lukman, 5 Agustus 2014.

Ia merasa penting untuk mendapatkan masukan dari berbagai kalangan, baik itu dari ulama, tokoh masyarakat dan masyarakat di kampung Syiah sendiri.  “Saya akan dialog dengan warga di Desa Bluuran dan Karang Gajam guna mencari informasi yang detil dan dalam,” imbuhnya.

Ali Karrar sendiri mengaku setuju dengan rencana pemerintah untuk memulangkan warga Syiah ke kampung halamannya dengan syarat, yakni mereka keluar dari aliran Syiah dan kembali kepada ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Ali Karrar menegaskan bahwa persoalan Syiah Sampang itu secara keagamaan sangat tegas berbeda dengan ajaran para sesepuh di Madura. “Kalau masih mau menganut Syiah, sebaiknya tidak dikembalikan ke kampung halamannya,” tandasnya.

Menag Bersua Pengungsi di Sidoarjo

Lukman Hakim Saifuddin, juga  mengunjungi pengungsi Muslim Syiah di Jemundo Sidoarjo. Hadir juga beberapa pejabat Pemprov Jawa Timur, seperti Asisten III Gubernur, pejabat di Birokesra, dan Kanwil Kemenag. Dilansir dari situs ahlulbaitindonesia.org, pihak Polres dan  Dr. Abdul A’la dari IAIN Sunan Ampel juga menyertai rombongan.

Dari pihak pengungsi, empat wakil pengungsi diberi kesempatan menyampaikan unek-unek dan harapannya selama dua tahun teraniaya dan menjadi pengungsi di hadapan Menteri Agama. Keempatnya adalah Ustad Iklil Al-Milal selaku koordinator pengungsi, dan tiga pengungsi lainnya, Nur Kholis, Muhlisin dan Muhammad Zaini.

Pemda Dan Pemprov Menghalangi Islah, Mengapa?

Nur Kholis, menyampaikan bahwa sebenarnya baik pengungsi dan warga kampung sudah sama-sama ingin islah dan berdamai. Hanya segelintir kiai dan pemerintah daerah baik kabupaten dan propinsi yang entah mengapa menghalangi proses islah. Fakta ini berbeda dengan dalih yang selama ini dikemukakan pihak pemerintah daerah tersebut bahwa mereka bermaksud melindungi pengungsi dari kemungkinan berulangnya tindak kekerasan jika pulang kampung sebab ancaman warga setempat masih kerap terjadi.

“Sebenarnya kami sudah berdamai dengan masyarakat di sana dan menandatangani pakta perdamaian (islah). Kami menjawab perdamaian warga dengan perdamaian juga. Tapi pemerintah tidak memanfaatkan modal itu malah kami yang disalahkan,” keluh Nur Kholis.

Hal senada diungkapkan oleh Ali Ridha Assegaf, pengurus DPW ABI Jawa Timur yang mendampingi pengungsi bahwa sebenarnya modal perdamaian ini di akar rumput sudah ada. Namun patut disayangkan Pemkab dan Pemprov serta segelintir kiai malah menghalangi terjadinya proses islah.

Sementara Ustadz Iklil Al-Milal, koordinator pengungsi Syiah Sampang, sekaligus kakak dari Ustadz Tajul Muluk yang hingga saat ini masih dipenjara, berharap masalah pengungsi ini cepat diselesaikan pemerintah. “Harapan saya ada penyelesaian masalah ini secepatnya. karena dengan berlarutnya masalah ini ada pihak tertentu yang ingin terus memprovokasi dan mengadu-domba kami sesama warga negara,” terang Ustad Iklil.

Lantas bagaimana tanggapan Menteri Agama?

Lukman, seusai mendengarkan keluhan dan aspirasi para pengungsi Muslim Syiah Sampang optimis bisa menyelesaikan masalah ini karena pengungsi memiliki keinginan kuat kembali ke kampung halaman. “Yang paling penting adalah toleransi kedua belah pihak,” ujar Lukman Hakim.

Tragedi Syiah Sampang terjadi pada Agustus 2012, saat itu, berdatangan massa yang melakukan tindak kekerasan kepada warga Syiah, membakar dan mengusir mereka dari kampung halamannya. Dari laporan Suara Pembaruan, setidaknya 60 unit rumah hangus terbakar, dan seorang warga tewas dibacok. Warga penganut mazhab Syiah ini dianggap sesat atau bukan Islam.

Seperti diketahui bersama, Syiah Ja’fari dan Zaidi diakui sebagai mazhab yang sah dalam Islam menurut  Risalah Amman.  Sementara itu, Habib Ali al-Jufri, ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, juga menyatakan dengan tegas, bahwa musuh Sunni – Syiah adalah pihak-pihak yang menghendaki keduanya (Sunni-Syiah)  bermusuhan. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL