LiputanIslam.com—Sudah 32 minggu berlalu sejak rakyat Palestina di Jalur Gaza meluncurkan aksi protes massal menyerukan berakhirnya blokade Israel di wilayah Palestina serta dikembalikannya hak mereka yang telah terusir dari kampung halaman masing-masing.

Tiga kementerian Palestina pun telah mengumumkan paket bantuan, termasuk bantuan darurat senilai $ 5 juta untuk 50.000 keluarga, $ 200 per bulan untuk 5.000 keluarga orang Palestina yang terbunuh atau terluka parah selama berlangsungnya aksi Great March of Return, pembayaran 60 persen gaji bulan Juli untuk pegawai negeri, serta penciptaan 10.000 lapangan pekerjaan yang ditujukan untuk lulusan universitas.

Sementara itu, Duta Besar Qatar untuk Gaza Mohammed Al-Emadi mengumumkan pada hari Selasa (6/11) bahwa dia telah mengunjungi Jalur Gaza untuk menindaklanjuti proyek-proyek lama atau pun baru yang dibiayai oleh pemerintah Qatar. Kunjungan ini dilakukan seminggu setelah bahan bakar Qatar mulai mengalir ke satu-satunya pembangkit listrik di Gaza yang memungkinkan bertambahnya waktu penggunaan listrik bagi rakyat Palestina di wilayah itu.

Sementara itu, Analis politik Naji Al-Zaza, yang dekat dengan para pembuat keputusan Hamas, mengatakan: “Keputusan untuk mengakhiri blokade akan berdampak positif bagi rakyat Palestina di Gaza, seperti tersedianya gaji untuk 43.000 karyawan, pekerjaan untuk 10.000 lulusan universitas, $ 5 juta untuk 50.000 keluarga miskin, pembayaran bulanan $ 200 untuk keluarga para martir dan yang terluka, perluasan zona penangkapan ikan dari tiga hingga 12 mil, serta berbagai keuntungan lainnya. ”

Mantan anggota biro politik dan wartawan Hamas, Mustafa Al-Sawwaf, menegaskan bahwa keputusan ini hanyalah keputusan awal dan tentu saja keputusan-keputusan lainnya akan segera dibuat.

Di lapangan, Komite Populer Gerakan Great March of Return dan Penghentian Blokade telah mengambil langkah-langkah untuk menurunkan aktivitasnya. Ini sangat jelas, dalam perintahnya kepada para pengunjuk rasa bahwa mereka tidak harus mendekati pagar atau mengubah protes damai dengan kekerasan. Sikap yang demikian akan  meminimalisir jumlah korban seperti yang telah terjadi pada Jum’at lalu. Sumber-sumber medis di Gaza melaporkan bahwa hanya 32 orang demonstran yang terluka, termasuk 25 dengan gas air mata dan tujuh orang yang menderita luka ringan akibat tembakan peluru. Channel TV 14 Israel mengatakan pada Selasa malam: “Tujuh hari berlalu tanpa balon pembakar dan layang-layang yang diluncurkan dari Gaza.”

Pengamat urusan Arab Israel Zvi Barel mengatakan aksi Great March of Return akan berujung pada berakhirnya kependudukan Israel di Palestina serta memaksa rezim tersebut agar melakukan perundingan, serta mengadakan gencatan senjata.

Namun Fatah mengatakan bahwa apa yang kini terjadi di Palestina merupakan bagian dari implementasi rencana Amerika yang dikenal dengan “Deal of the Century“. Pejabat senior Fatah, Azzam Al-Ahmad, mengatakan kepada stasiun radio lokal bahwa melakukan konfrontasi kekerasan secara langsung dengan Israel adalah tindakan yang didorong oleh kesepakatan Deal of the Century ini. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa Hamas dan apa yang disebut faksi-faksi perlawanan di Gaza tidak lagi memerangi Israel, tetapi justru berdiri di sampingnya dalam perang melawan legitimasi Palestina – PLO. ”

Pemimpin Senior Front Populer untuk Pembebasan Palestina di Gaza Rabah Muhanna memperingatkan bahwa semua faksi di Palestina telah jatuh ke dalam perangkap Deal of the Century tersebut.

“Pendudukan Israel dan pemerintah Arab mencoba untuk menggunakan langkah-langkah ini, diumumkan semalam, untuk memisahkan Gaza dari Tepi Barat dan mengubur ambisi nasional Palestina melalui kesepakatan Deal of the Century,” tegasnya.

Sementara pemimpin Jihad Islam, Khaled Al-Batsh, mengatakan: “Fasilitasi ini adalah buah dari pengorbanan orang-orang Palestina di Gaza.” Dia menekankan bahwa perlawanan Palestina, termasuk gerakannya, tidak akan pernah menyerah untuk mewujudkan berdirinya negara Palestina seutuhnya. ”

Kepada kantor berita MEMO, Ali Hussein, seorang warga Gaza yang menganggur, mengatakan: “Kami menerima semua tindakan yang meringankan situasi kami karena kami percaya ini adalah langkah pertama untuk melanggar pengepungan Israel. Seribu mil dimulai dengan satu langkah, tetapi bagaimana dengan jaminan yang memastikan Israel akan menghormati janji-janjinya? ”

“Jaminan,” Dr Salah Abdel-Ati mengatakan kepada MEMO, “akan dipertanggungjawabkan oleh Mesir dan PBB bahwa Israel akan tetap berkomitmen untuk ikrarnya.”

Anggota komite Palestina yang bertugas mengakhiri blokade Israel mengatakan bahwa blokade Israel di Jalur Gaza adalah “kejahatan dan itu harus benar-benar dicabut cepat atau lambat.”

Palestina, ia menekankan, “tidak akan tetap menjadi budak untuk kebijakan Israel,” menekankan bahwa mereka akan menemukan cara-cara baru untuk mendorong pendudukan untuk tetap berkomitmen pada komitmennya.

Great March of Return” akan terus seperti yang direncanakan, Abdel-Ati mengatakan, dengan damai  demi tercapainya keuntungan yang lebih besar. (fd/memo)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*