Kelompok pro ISIS di Bundaran HI

Kelompok pro ISIS di Bundaran HI

Jakarta, LiputanIslam.com – Tidak banyak yang sadar, bahwa organisasi teroris transnasional ISIS telah lahir di Indonesia. Kemunculannya mulai terlihat saat ISIS menggelar deklarasi baiat.

Dari pantauan Liputan Islam, baiat kepada ISIS ditunjukkan pertama kali pada bulan Februari 2014, yang merupakan imbas dari jatuhnya kota Fallujah di Irak ke tangan ISIS. Saat itu juga, ISIS mengumumkan Islamic Emirat (kepemimpinan Islam) pada bulan Januari 2014.

Seperti dilansir Shotussalam, bertempat di Jakarta, ratusan orang yang tergabung dalam Forum Aktifis Syariat Islam (FAKSI) menggelar multaqod da’awi mendukung Daulah Islamiyyah di Iraq dan Syam (ISIS) di masjid Fathullah Universitas Negeri Jakarta (UIN) pada Sabtu malam (08/02/14). Dengan semangat dan penuh euforia kemenangan mereka hadir dari ibu kota Jakarta dan sekitarnya untuk membacakan deklarasi dukungan kepada ISIS dan siap berbai’at kepada Amirul Mukminin ISIS, Syaikh Abu Bakar al-Baghadadi.

Bai’at ini lantas diikuti di berbagai tempat, seperti yang berlangsung di Jakarta, Ciputat, Solo, Malang, hingga Makassar.

Dalam acara “ISIS Masuk Ke Indonesia?” di Metro TV, Kamis 31 Juli 2014, KH Alawi Al-Bantani, seorang ulama muda NU yang keras menentang ISIS, menyatakan bahwa kelompok ISIS menganut ideologi Takfiri ekstrim, yang mengkafirkan kelompok lain yang tidak sepaham dengan mereka.

KH Alawi Al Bantani (foto:LiputanIslam)

KH Alawi Al Bantani (foto:LiputanIslam)

“Islam tidak mengajarkan pembunuhan, genosida. Sedangkan bagi kelompok Takfiri, mereka mengkafirkan pihak lain, menghalalkan darah dan hartanya. Mereka adalah ancaman bagi Islam, dan bagi seluruh agama di dunia, termasuk ancaman bagi keutuhan bangsa,” ucapnya.

Kyai Al-Bantani juga menyorot Nineveh, saat ini telah ditinggalkan oleh penduduk yang beragama Kristen, karena ISIS memaksa mereka untuk masuk Islam. Padahal, menurut dia, Islam tidak mengajarkan pemaksaan untuk masuk Islam.

Seperti yang telah diberitakan Liputan Islam, Kota Mosul di provinsi Nineveh, Irak utara, dilaporkan memang telah kosong sepenuhnya dari keberadaan warga Kristen pada Ahad (20/7) setelah militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengusir seluruh penduduk Kristen dari kota tersebut.

“Kota ini tampaknya sudah kosong dari warga Kristen setelah tenggat waktu yang ditetapkan oleh ISIS habis. Dalam tenggat waktu itu ISIS meminta seluruh warga Kristen meninggalkan Mosul atau menyatakan masuk Islam atau membayar jizyah,” lapor reporter kantor berita Anadolu setelah memasuki Mosul, sebagaimana dikutip Rai al-Youm.

Dan, apa solusi yang ditawarkan Kyai Al-Bantani?

“Pemerintah Indonesia harus menindak tegas kelompok-kelompok ekstrim ini,” tegasnya.

WNI Bergabung Dengan ISIS, Kok Bisa?

Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri RI, menyatakan bahwa pihaknya telah bertemu dengan pejabat pemerintah di berbagai negara, dan mengakui bahwa memang ada aliran jihadis dari negara-negara di dunia ke Suriah dan Irak, untuk berjihad.

“Saya nyatakan, memang ada warga negara Indonesia yang berada di Suriah dan Irak, untuk berjihad. Namun, keberangkatan mereka dilakukan tanpa sepengetahuan kementrian luar negeri, “ terangnya.

Bagaimana mengontrol WNI agar tidak bepergian ke daerah konflik? Berikut ini adalah pola masuknya jihadis ke Suriah, yang dilaporkan BBC.

BBC, dalam artikelnya yang berjudul “Syria Conflict: Foreigns Jihadis Use Turkey as Safe House” mengungkapkan bahwa jihadis-jihadis ini menggunakan Turki sebagai “tempat penyeberangan”, sekaligus “rumah yang nyaman” sebelum menuju Suriah. Disebutkan juga, bahwa rute jihadis Turki-Suriah ini sudah sangat terorganisir.

Salah satu jihadis yang berhasil dihubungi BBC, di kawasan Reyhanli, menuturkan bahwa di “rumah nyamannya” telah dihuni oleh sekitar 150 orang dalam 3 bulan terakhir. Atas undangan teman-temannya, 15-20 orang diantaranya berasal dari Inggris.

Para jihadis ini, setibanya di Turki, terlebih dahulu tinggal selama satu atau dua hari di tempat tersebut sebelum menuju Suriah. Sebaliknya, jihadis yang hendak pulang ke negara asalnya, juga menetap di “rumah nyaman” itu sambil menunggu keberangkatan pesawatnya.

Artinya, darimanapun jihadis ini berasal, mereka menggunakan cara yang sama yaitu tidak langsung menuju daerah konflik. Jika di Suriah mereka menggunakan Turki, Yordania,  dan Lebanon sebagai jalan keluar masuk, maka hal serupa pun terjadi di Irak.

Polri Siap Menindak Tegas

Dan Humas Polri Kombes Pol Agus Rianto,  menyatakan bahwa beredarnya video jihadis asal Indonesia yang bergabung di ISIS, akan ditindak lanjuti dengan melakukan pengawasan ketat pada kelompok ini.

“Kita di Indonesia kan membebaskan warga negara untuk berserikat dan berkumpul, jadi tidak mungkin kami melarang mereka. Tapi, kami akan mengawasi kelompok ini dengan ketat, dan tidak akan segan-segan menindak tegas jika melakukan aksi anarkis,” ucapnya, seperti ditayangkan di Kabar Malam Metro TV, 1 Agustus 2014.

Alwi Shihab, cendekiawan Muslim dan pakar politik Timur Tengah juga menyatakan bahwa   ISIS sesungguhnya menyimpang dari Islam. Hal senada juga diungkapkan Irfan Idris, Direktur Deradikalisasi BNPT, juga menyatakan bahwa ISIS itu adalah organisasi ilegal yang memiliki misi utama yaitu mendirikan negara Islam. Menurutnya, di Indonesia, masyarakat dibebaskan untuk berpikir apapun, atau berpendapat apapun, tapi jangan bertindak anarkis.

Menurut Metro TV, peran masyarakat, pemerintah, dan ulama harus digiatkan guna menolak ISIS. Sebagaimana yang terjadi di Malang, deklarasi baiat ISIS sulit dilaksanakan karena adanya penolakan keras dari masyarakat setempat, yang ditindak langsung oleh aparat keamanan. Selain itu, Kementrian Agama RI, juga harus menggandeng ulama moderat, untuk mengajak kelompok radikal ini kembali kepada Islam Indonesia ( Islam yang ramah, toleran – red).

[ba]

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL