isaisis.jpegLiputanIslam.com — Minyak yang diproduksi oleh kelompok teroris transnasional Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) digunakan untuk membiayai aksi ‘haus-darah’ mereka. Tetapi, bagaimana cara minyak tersebut diekstrak, lalu siapa yang menyalurkan atau bertanggungjawab pada transportasi, dan siapa yang menjual? Siapa yang membeli? Dan bagaimana minyak itu bisa mencapai Israel? (Baca bagian pertama: Liku-liku Minyak, Berawal dari ISIS Berakhir di Israel)

Sebelum melintasi perbatasan, mafia ini mentransfer minyak mentah ke salah satu perusahaan minyak swasta, untuk olah terlebih dahulu sebelum melintas ke Ibrahim Khalil, wilayah Turki perbatasan. Penyulingan sederhana ini diperlukan karena pemerintah Turki tidak mengizinkan minyak mentah menyeberangi perbatasan jika tidak ada lisensi dari pemerintah Irak.

Tahap awal pemurnian dilakukan semata-mata agar bisa mendapatkan dokumen-dokumen, untuk bisa lolos melintasi perbatasan. Dan untuk memuluskan hal ini, para pejabat di kawasan perbatasan menerima uang suap yang besar dari para mafia.

Setelah tiba di Turki, minyak ini dikirimkan kepada seseorang yang disebut dengan nama alias Dr. Farid, atau Haji Farid atau kadang disebut Paman Farid.

Yang disebut Paman Farid adalah seorang yang berusia 50 tahun, memiliki dua kewarganegaraan yaitu Israel dan Yunani. Ia selalu ditemani oleh dua orang pengawal dan mengendarai Jeep Cherokee berwarna hitam.

Setelah masuk ke Turki, minyak curian ISIS dibedakan dengan minyak yang dijual oleh Pemerintah Daerah Kurdistan. Meski demikian, keduanya disebut minyak ‘ilegal’, ‘sumber yang tidak diketahui’ dan ‘tak berlisensi’.

Perusahaan yang membeli minyak dari Pemerintah Daerah Kurdi juga membeli minyak curian ISIS.

Rute Menuju Israel

Setelah membayar para pengemudi, tengkulak, dan suap, ISIS mendapat sekitar 15 hingga 18 dollar per barrel. Dengan demikian, mereka mendapatkan rata-rata sekitar 19 juta dollar per bulan.

Paman Farid memiliki lisensi bisnis untuk melakukan ekspor-impor yang dia gunakan untuk menengahi kesepakatan antara mafia yang membeli minyak curian ISIS dan tiga perusahaan minyak yang mengekspor ke Israel.

Al-Araby memiliki nama-nama perusahaan tersebut, termasuk rincian perdagangan ilegal mereka. Salah satu perusahaan tersebut didukung oleh salah satu pejabat Barat yang memiliki kedudukan tinggi.

Perusahaan ini membeli minyak selundupan, lantas mentransfer ke Israel melalui pelabuhan Turki yaitu Mersin, Dortyol dan Ceyhan.

Al-Araby juga telah menemukan beberapa mafia yang melakukan bisnis seperti yang dilakukan oleh Paman Farid, namun, sampai hari ini, Paman Farid-lah yang paling berpengaruh.

Sebuah paper yang ditulis oleh George Kioukstsolou dan Dr Alec D Coutroubis dari University of Greenwich juga telah melacak perdagangan minyak di pelabuhan Ceyhan, dan menemukan beberapa korelasi antara keberhasilan operasi militer yang dilakukan ISIS dengan minyak-minyak di pelabuhan.

Pada bulan Agustus, Financial Times (FT) melaporkan bahwa Israel mendapatkan 75% suplai minyak dari Kurdi Irak. Lebih dari sepertiga ekspor tersebut telah melalui pelabuhan Ceyhan, dan FT menyebut bahwa Ceyhan adalah gerbang potensial untuk menyelundupkan minyak curian ISIS.

Lalu Israel, yang tidak memiliki kilang canggih, lantas melakukan pemurnian minyak sekali atau dua kali. Lalu minyak tersebut di jual ke negara-negara di kawasan Mediterania, dengan harga 30 hingga 35 dollar per barrel.

“Minyak ini dijual dalam satu atau dua hari ke sejumlah perusahaan swasta. Sebagian besar minyak ini sampai ke kilang Italia yang dimiliki oleh salah satu pemegang saham terbesar di klub sepakbola Italia…”

Israel memiliki cara untuk menjadi pemasar utama minyak ISIS. Tanpa mereka, minyak ISIS mungkin hanya akan tetap berada di Irak, Suriah, dan Turki. Bahkan, tiga perusahaan minyak tidak akan mau membeli minyak ini jika mereka tidak memiliki pembeli di Israel.

Ada beberapa negara yang berusaha menghindari berurusan dengan minyak selundupan ini meskipun harganya sangat menggiurkan karena khawatir terbelit masalah hukum, ataupun karena tengah memerangi terorisme.

Pembayaran Minyak

ISIS menggunakan beberapa cara untuk menerima pembayaran dari minyak selundupan ini, dan biasanya, mereka menggunakan cara-cara yang kerap dipakai oleh jaringan kriminal internasional.

Pertama, ISIS menerima uang tunai (10-25%) dari total harga minyak dari para mafia yang beroperasi di sekitar perbatasan Turki.

Kedua, pembayaran dari perusahaan perdagangan minyak yang kemudian ditransfer dan disimpan ke akun bank di Turki. Pemilik rekening ini adalah orang Irak, dan kemudian melalui orang-orang seperti Paman Farid, dilakukan pencucian uang, lalu ditranfer ke Mosul dan Raqqa.

Ketiga, uang pembelian minyak ini digunakan untuk membeli mobil yang kemudian diekspor ke Irak, lalu mobil ini dijual oleh ISIS di Baghdad dan kota-kota lainnya.

Respon ISIS

Beberapa jam sebelum laporan investigasi ini diumumkan, al-Araby berbicara melalui Skype kepada seseorang yang dekat dengan ISIS di Raqqa. Ia menolak disebut bahwa ISIS menjual minyak kepada Israel.

“Agar adil, ISIS menjual minyak dari wilayah kekhalifahan tetapi tidak memiliki tujuan untuk menjualnya ke Israel ataupun negara lainnya. Minyak ini diproduksi, lalu dijual melalui perantara. Dan perusahaan tersebut yang memutuskan kepada siapa minyak itu dijual.” (ba)

___
Tulisan ini diterjemahkan dari laporan Al-Araby al-Jadeed di Globalresearch.ca

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL