hermanKiev, LiputanIslam.com — Uni Eropa mengeluarkan sanksi tambahan kepada Rusia terkait dengan konflik di Ukraina. Sanksi baru itu mencakup pembatasan kepada perusahaan migas Rusia untuk melakukan transaksi besar di pasar-pasar keuangan Eropa.

Namun realisasi sanksi tersebut baru akan dilakukan “dalam beberapa hari ke depan”, bukan hari ini (9/9) sebagaimana disebutkan sebelumnya.

Presiden Dewan Uni Eropa Herman van Rompuy mengatakan bahwa sanksi tersebut ditujukan untuk “mendorong terjadinya perubahan atas langkah-langkah Rusia yang telah mendestabilisasi Ukraina timur”. Demikian laporan BBC News, Selasa (9/8).

Pemerintah Ukraina dan negara-negara barat telah sering menuduh Rusia terlibat dalam konflik di Ukraina, termasuk dengan mengirimkan pasukan dan persenjataan. Namun Rusia menolak tuduhan-tuduhan itu.

Rusia sebaliknya telah mengingatkan barat akan memblokir penerbangan internasional di atas wilayah Rusia jika Uni Eropa melanjutkan rencana sanksi tersebut. Sebelumnya Rusia telah menghentikan impor produk-produk makanan dari negara-negara barat sebagai langkah balasan atas sanksi yang dikenakan barat kepada Rusia.

Para diplomat mengatakan sanksi baru ini akan memukul bisnis perusahaan-perusanaan migas Rusia seperti Rosneft dan Transneft serta Gazprom. Akses perusahaan-perusahaan ini di pasar keuangan Eropa akan dibatasi, menghambat restrukturisasi keuangan Rosneft yang baru saja meminta bantuan keuangan kepada pemerintah senilai $42 miliar.

Sementara itu situasi gencatan senjata secara umum berlangsung sesuai harapan, meski organisasi kerjasama dan keamanan Eropa (OSCE), pada hari Senin (8/9) menyebut situasinya “mencekam”. Sebelumnya sempat terjadi tembak-menembak di pinggiran kota Donetsk dan Mariupol paska kesepakatan gencatan senjata hari Jumat (5/9).

Pada hari Senin (8/9) Presiden Ukraina Petro Poroshenko mengatakan bahwa pemberontak separatis telah membebaskan 1.200 tawanan perang, sesuai kesepakatan gencatan senjata yang meliputi tukar menukar tawanan perang. Namun tidak disebutkan berapa tawanan yang dibebaskan pihak pemerintah Ukraina.

Poroshenko berada di kota pelabuhana Mariupol untuk menginspeksi kondisi di kota strategis yang tengah terancam oleh kepungan pasukan pemberontak beberapa hari terakhir. Ia mengatakan bahwa pertahanan di kota itu akan ditingkatkan dan mengatakan bahwa pemberontak separatis akan mengalami kekalahan hebat jika menyerang kota ini.

Sebagaimana dilaporkan oleh BBC, Mariupol adalah kota terakhir di Provinsi Donetsk yang masih berada di bawah kekuasaan pasukan pemerintah. Kota ini juga memiliki posisi strategis karena menjadi penghubung antara wilayah Krimea dengan Rusia. Menguasai kota ini berarti memegang kendali atas kawasan Laut Azov.(ca)  

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL