Jakarta, LiputanIslam.com–Setelah diperiksa, penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan asisten pribadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Miftahul Ulum, selama 20 hari pertama di Rutan cabang KPK di belakang gedung Merah Putih.

“Ditahan 20 hari pertama di Rutan cabang KPK di belakang gedung Merah Putih,” kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Jakarta, Rabu malam (11/9).

Ulum adalah asisten pribadi Menpora Imam Nahrowi yang bertugas pada 2015-2019. Dalam sidang 25 April 2019 Wakil Bendahara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lina Nurhasanah mengaku memberikan uang Rp3 miliar ke Ulum, namun hal tersebut dibantah Ulum.

Sedangkan dalam dakwaan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menyatakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) KONI Ending Fuad Hamidy berkoordinasi dengan Ulum selaku asisten pribadi Imam Nahrowi terkait jumlah commitment fee sebesar 15-19 persen yang harus diberikan KONI kepada Kemenpora agar dana hibah segera dicairkan.

Dari informasi yang dihimpun, Ulum sudah berstatus sebagai tersangka terkait pengembangan perkara dugaan suap dana hibah dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) ke Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Dalam kasus tersebut, KPK menjerat sejumlah pihak yaitu mantan Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy divonis 2 tahun dan 8 bulan penjara, Bendahara KONI Johny E Awuy divonis 1 tahun dan 8 bulan penjara; sedangkan mantan Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana dituntut 7 tahun penjara dan dua pegawai Kemenpora Adhi Purnomo serta Eko Triyanto dituntut 5 tahun penjara.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menyebut Menpora Imam Nahrawi, asisten pribadinya Miftahul Ulum, dan Staf Protokoler Kemenpora Arief Susanto melakukan permufakatan jahat yang dilakukan secara diam-diam (sukzessive mittaterscrfat).

Baca juga: Presiden Jokowi Teken dan Kirim Surpres Revisi UU KPK ke DPR Hingga Alasan Penolakan dari Ketua KPK

“Dari keterangan saksi dan alat bukti berupa buku tabungan bank atas nama Johny E Awuy besera rekening koran dan kartu ATM yang diserahkan Johny kepada Ulum serta alat bukti elektronik berupa rekaman percakapan maka bantahan yang dilakukan saksi Miftahul Ulum, Arief Susanto dan Imam Nahrawi menjadi tidak relevan dan bahkan menurut pandangan kami menunjukkan adanya keikutsertaan para saksi dalam suatu kejahatan yang termasuk ke dalam permufakatan jahat yang dilakukan secara diam-diam atau dikenal dengan istilah ‘sukzessive mittaterscrfat’,” kata JPU KPK Ronald F Worotikan di pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (14/8). (Ay/Antara)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*