Pyongyang, LiputanIslam.com—Korea Utara kemungkinan akan menghadapi “krisis pangan total” akibat hawa panas yang merusak ladang padi, jagung, dan tanaman lainnya, berdasarkan laporan dari Federasi Internasional Red Cross dan Red Crescent Societies (IFRC).

IFRC, sebagai jaringan bantuan bencana terbesar di dunia, memperingatkan isu ini di Geneva pada Jumat (10/8/18).

Menurut mereka, krisis pangan di Korut semakin mengkhawatirkan setelah adanya sanksi keras dari PBB akibat uji coba rudal yang diluncurkan Pyongyang pada Juli dan September tahun lalu. AS dan Uni Eropa juga memboikot negara Asia itu secara unilateral.

Berdasarnya data IFRC, Korut tidak mendapatkan hujan sejak awal Juli dan temperatur udara naik hingga rata-rata 39 derajat Celsius. Akibatnya, populasi Korut sebanyak 25 juta merasa tertekan karena malnutrisi anak dapat memburuk.

“Ini masih belum digolongkan sebagai kekeringan, namun padi, jagung, dan tanaman lainnya telah layu di ladang, dengan potensi menghancurkan bagi rakyat DPRK,” kata manajer program IFRC, Joseph Muyamboit.

“Kita tidak boleh membiarkan situasi ini menjadi krisis keamanan pangan total. Kami tahu bahwa kekeringan serius yang terjadi sebelum ini telah menganggu pasokan makanan sehingga telah menyebabkan masalah kesehatan dan malnutrisi di seluruh negeri,” tambahnya.

Pada bulan Mei lalu, World Food Programme (WFP) PBB menyatakan bahwa sekitar 70 persen warga Korea Utara menghadapi “ketidakamanan pangan,” yang berarti kelaparan berkepanjangan. Menurut data mereka, 1 dari 4 anak di bawah lima tahun mengalami hambatan pertuumbuhan akibat malnutsi yang kronis. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*