Cia-lobby-sealLiputanIslam.com–AS sebagai negara yang gemar menyuarakan ‘demokrasi’ dan ‘kebebasan pers’ sesungguhnya adalah negara dengan media massa yang dikontrol oleh CIA. Kanal-kanal televisi besar, khususnya CBS, memiliki jejak sejarah keterkaitan dengan CIA. Jurnalis Katherine Graham dari Washington Post, jurnalis di Washington Times, serta New York Time, juga terkait dengan CIA. Penelitian terhadap operasi “Mockingbird” CIA akan mengungkap betapa media AS secara luas dikontrol oleh agen mata-mata tersebut, termasuk 400 editor top dan jurnalis. Hari ini pun, ‘tangan’ CIA, Anderson Cooper (CNN-CBS) dan Robert Baer (CNN) secara teratur ‘melaporkan fakta’ kepada jutaan warga AS.

Jurnalis Robert Parry mencatat contoh-contoh kasus rekayasa informasi yang dilakukan media-media mainstream untuk menutupi berbagai skandal pemerintahan Reagan, termasuk penyelundupan narkoba di Nikaragua dan skandal Iran-Contra.

Minimalnya, sejak 1980-an, New York Times (NYT) telah melaporkan secara salah atau ‘memoles’ banyak isu internasional yang akan membawa AS tampak negatif (bila diberitakan apa adanya). Sebagai contoh,  NYT tidak hanya melewatkan skandal kokain dalam kasus Kontra-Nikaragua, tetapi juga secara aktif menutupi kesalahan pemerintahan Reagan dalam kasus ini pada rentang 1980-an hingga 1990-an.

NYT juga kedodoran dalam menyelidiki operasi rahasia yang dikenal dengan nama the Iran-Contra Affair. NYT yang “mudah tertipu” oleh sanggahan-sanggahan para pejabat menjadi penghalang bagi kita yang ingin menggali lebih dalam mengenai krisis konstitusional ini dan berbagai pelanggaran lain yang dilakukan Reagan.

Pada era yang sama, The Washington Post juga tidak lebih baik. Leonard Downie, direktur eksekutif editor pada masa skandal Contra-kokain terus menyangkal realitas bahwa milis ‘kesayangan’ Ronald Reagan, Contras, telah menyelundupkan kokain. Padahal pada 1998 CIA Inspektur Jenderal CIA, Jenderal Frederick Hitz menemukan bahwa banyak orang Contras yang terlibat dalam perdagangan kokain dan pemerintah Reagan menutupi kriminalitas mereka demi alasan geopolitik.

Media mainstraem hampir keseluruhannya dimiliki oleh enam konglomerat, kita bisa mulai untuk melihat bagaimana koordinasi dan kontrol, yang sering diolok sebagai ‘teori konspirasi’, sekarang telah terbukti. Pada 1983 ada 50 pemilik media besar, dan saat ini hanya tersisa 6, yang menguasai media arus utama di 3 benua. Oleh orang-orang yang abai, fakta ini sering dipandang sebagai bagian dari teori konspirasi. Padahal, sangat terang-benderang terlihat bertapa mereka melakukan koordinasi penuh dan penipuan informasi terkait pilpres AS 2016, mulai dari kecurangan dalam pemilu internal hingga pengungkapan Wikileaks tentang 6o lebih media top yang secara langsung mempromosikan Hillary.

Ketika media mainstream dan CIA mengklaim bahwa Saddam memiliki senjata pembunuh massal, mereka sesungguhnya telah menyebarkan berita bohong. Kebohongan ini telah menimbulkan kematikan ratusan ribu warga Irak akibat perang konyol yang dipicu oleh kebijakan luar negeri AS dan  Israel. Ketika kini terbukti bahwa isu senjata pembunuh massal itu bohong, terbukti pula bahwa senjata kimia yang pernah dimiliki Saddam ternyata disuplai oleh CIA dalam rangka mendukungnya melawan Iran.

Bahkan Saddam sendiri sebenarnya adalah alat CIA, seperti ditulis dalam laporan UPI :

Pada pertengahan 1980an, Miles Copeland, seorang mantan CIA, mengatakan kepada UPI bahwa CIA memiliki “hubungan dekat” dengan Qasim, tokoh Partai Baath, sebagaimana CIA juga dekat dengan agen rahasia dalam pemerintahan Mesir, Gamel Abd Nassar. Dalam sebuah statemen, Roger Morris, mantan staf Dewan Keamanan Nasional AS pada 1970-an mengkonfirmasi klaim ini dan mengatakan bahwa CIA telah memilih Partai Baath yang otoriter dan anti komunis “sebagai instrumen”-nya.

Irak bukanlah satu-satunya perang yang didasarkan oleh kebohongan (semua perang adalah bohong, kata Jenderal Smedley Butler). Keseluruhan kisah  9/11 tidak pernah dipertanyakan oleh media mainstream, bahkan memang disandarkan pada disinformasi yang terkoordinasi. Hanya dalam hitungan menit, semua media top meyakinkan publik bahwa “Osama bin Laden” adalah penjahatnya, padahal dia, sebagaimana juga Saddam, adalah aset CIA yang “disingkirkan”. Teori konspirasi versi pemerintah ini menggelikan, apalagi diperparah dengan berita tentang “serangan, menangkap dan eksekusi” bin Laden yang tidak disiarkan televisi, tidak difoto, atau diberitakan selain oleh media mainstream. Direktur CIA bahkan mengakui bahwa banyak dari foto yang dimunculkan adalah foto hasil rekayasa di studio.

Menyusul tragedi 9/11, proposal ekspansi ke Afghanistan disodorkan kepada penduduk Amerika, padahal Afghanistan tidak ada hubungannya dengan 9/11 atau Irak. Tuduhan kacau dan kontradiktif mengenai siapa sebenarnya penjahat 911 disebarkan, entah bagaimana Irak disebut-sebut oleh George W. Bush, seiring dengan media arus utama yang bekerja penuh waktu untuk mendukung kebijakan luar negeri yang konyol ini. Bahkan lebih tidak masuk akal, selama AS menduduki Afghanistan, peningkatan produksi opium  justru meningkat dan TV  Fox bahkan pernah menunjukkan tentara AS sedang menjaga ladang opium itu! Tak satu pun dari semua invasi itu bisa dilakukan AS tanpa didahului oleh penipuan terkoordinasi besar-besaran yang didalangi oleh CIA dan dilakukan media-media mainstream. Kebohongan mereka di Suriah jauh lebih sukses dan menimbulkan kehancuran yang jauh lebih masif. (fa/globalreseacrh)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL