Rani Andriani (foto:liputan6.com)

Rani Andriani (foto:liputan6.com)

Jakarta, LiputanIslam.com–Besok, 18 Januari 2015, Kejaksaan Agung akan mengeksekusi lima terpidana mati dalam kasus peredaran narkoba. Salah satu di antaranya bernama Rani Andriani alias Mellisa Aprillia, perempuan asal Cianjur, Jawa Barat.

Rani terjerumus dalam peredaran narkoba oleh sepupunya sendiri, Meirika Pranola alias Ola, serta seorang lurah di Cianjur bernama Deni Setia Marhawan. Deni juga sepupu Ola. Rani, Ola, dan Deni sama-sama dijatuhi hukuman mati pada tahun 2000. Namun, Ola dan Deni mendapat grasi dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012. Mereka kemudian dihukum seumur hidup. Sebaliknya, grasi yang diajukan Rani malah ditolak oleh Presiden Joko Widodo berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 27/G 2014.

Rani dan Para Perempuan Pengedar Narkoba

Kisah Rani diawali oleh nasib tragis sepupunya, Meirika Pranola alias Ola yang tergoda pria asal Nigeria. Ola menikah dengan pria yang ternyata pengedar narkoba itu. Ia kerap dipukuli suaminya dan bahkan dipaksa membawa heroin. Ola tertangkap ketika akan menyelundupkan 6,5 kilogram heroin dan kokain ke London. Ia menyimpan benda haram itu di rumah kontrakannya di Bogor. Akhirnya, Ola divonis hukuman mati oleh PN Tangerang pada Agustus 2000. Sementara Tajudin, suaminya, tewas tertembak dalam penggerebekan oleh petugas.

Seperti dilansir situs hukumonline.com (25/2/2003), majelis hakim menyatakan alasan Ola bahwa ia mengalami KDRT bukanlah alasan yuridis untuk melepasnya dari tindak pidana yang dilakukannya. Hakim berpendapat, seharusnya Prn melaporkan tindakan suaminya kepada aparat yang berwenang.

Dalam operasinya, Ola merekrut Rani. Rani yang takut Ola dipukuli oleh suaminya, menerima tawaran Ola. Akhirnya Rani tertangkap di bandara Soekarno-Hatta saat akan menyelundupkan 3,5 kilogram heroin.

“Terdakwa merupakan bagian dari salah satu mata rantai sindikat peredaran narkotika,” ujar Mursidi, jaksa yang menuntut hukuman mati, pada saat itu. Alasannya, beberapa kali Rani disuruh membawa heroin dan kokain dari Thailand dan Pakistan ke Indonesia. Saat tertangkap di bandara, Rni menggunakan paspor Singapura.

Tertipu Asmara Pria

Tertipu oleh jeratan asmara juga menjadi awal mula kisah tragis terpidana mati lainnya. Merri Utami (Mut) terpikat oleh keramahan pria berinisial J yang baru dikenalnya di sebuah mal di Jakarta. Keramahan J telah membius Mut, sehingga pertemanan itu berlanjut ke hubungan asmara. Mut mau saja saat diajak J ‘jalan-jalan’ ke Nepal. Ternyata, Mut malah ditinggal di Nepal karena ada teman J yang mau menitip barang. Sementara, J pulang lebih dulu ke Indonesia karena ada urusan bisnis.

B dan M, teman J, menitipkan tas kepada Mut dengan alasan tas Mut sudah jelek. Mut memang sempat menanyakan mengapa tas baru itu berat. Namun, akhirnya ia diam saja ketika dijawab tas baru itu terbuat dari kulit. Ketika sampai di bandara Soekarno-Hatta, Mut langsung diciduk petugas Kantor Pelayanan Bea Cukai (KPBC) karena dalam tasnya terdapat 1.1 kilogram heroin. Ia pun divonis hukuman mati oleh PN Tangerang pada 20 Mei 2002.

Edith Yunita Sianturi (EYS) bernasib sama dengan Merri Utami. Ia berkenalan dengan laki-laki asing berinisial W dan mereka pun berpacaran. Pada April 2000, W yang mengaku memiliki toko di Tanah Abang, Jakarta Pusat, ini meminta EYS mengantarkan uang ke temannya yang berinisial B di Bangkok.

Di Bangkok, EYS tinggal  selama seminggu EYS dan saat pulang, B memberikan tas baru untuk EYS sebagai contoh di toko W di Jakarta. Ternyata tas itu berisi heroin 1 kilogram dalam tasnya. EYS pun akhirnya diamankan petugas bandara dan akhirnya dijatuhi hukuman mati pada November 2001.(fa)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*