BaluchiLiputanIslam.comMake the lie big, make it simple, keep saying it, and eventually they will believe it (Adolf Hitler)

Rasanya bukan hal yang mudah  untuk menjelaskan kepada sebagian masyarakat yang telah tercuci otak atau telah terdoktrin oleh propaganda yang berulang-ulang diserukan kepada mereka. Apalagi kendalanya, yang menebar propaganda kebencian ini, tidak jarang merupakan tokoh agama ataupun lembaga yang menjadi rujukan umat.

Oleh pers dan tokoh  Barat, Iran disebut sebagai negara teroris yang berbahaya (di AS sendiri Iran dimasukkan sebagai salah satu State Sponsor of Terorism), dan program nuklir Iran bertahun- tahun menjadi topik panas di seluruh penjuru dunia. Masyarakat disuguhi informasi bahwa Iran adalah negara yang sangat berbahaya – dengan nuklir yang dimilikinya akan mengancam keamanan negara lain. Meskipun, berkali-kali Iran menjelaskan bahwa negerinya bukanlah negara agresor, dan nuklir yang dikembangkan semata-mata hanya untuk tujuan damai.

Sedangkan oleh Arab Saudi dan aliansi dengan paham wahabinya, Iran di gembar- gemborkan sebagai  Syiah – tokoh jahat  yang membantai Sunni, yang akan menyerang Ka’bah, yang merupakan saudara dari  Yahudi dan berbagai macam isu lainnya. Pastinya, segala bentuk propaganda terhadap Iran tersebut dikondisikan sesuai dengan latar belakang masyarakat yang akan dipengaruhi. Contohnya di Indonesia, di tengah-tengah masyarakat yang berjiwa nasionalis, Iran dituduh menyusupkan agen-agen yang merencanakan makar untuk menggoyang negara berdaulat demi membangun ‘negara Syiah’, meskipun tuduhan tersebut dibangun hanyalah berdasarkan prasangka, bukan data yang valid. Sayang sekali, tuduhan tidak berdasar seperti ini justru diserukan dari mimbar masjid, ‘rumah Allah’ yang seharusnya digunakan untuk menebar perdamaian dan cinta.

Namun, terpilihnya seorang wanita yang bernama  Baluchzehi dari etnis Baluchi yang bermazhab Sunni sebagai walikota di kota Kalat – salah satu kota di provinsi Sistan – Baluchistan seolah memberikan angin segar. Meski peristiwa ini tidak disebarluaskan besar- besaran,  Al Monitor telah membuat laporanya secara ekslusif. Wanita Baluchi ini baru  berusia 26 tahun, seorang insinyur, dan juga seorang Master dalam pengelolaan sumber daya alam dari Islamic Azad University di Teheran. Dia berasal dari keluarga kaya yang berpengaruh dan memiliki hubungan yang dekat dengan para ulama di wilayahnya.

Iran meskipun merupakan negara dengan mayoritas bermazhab Syiah,  terpilihnya seorang wanita dari etnis Persia dan bermazhab Syiah sebagai walikota masih jarang terjadi.  Dan terpilihnya wanita Baluchi yang bermazhab Sunni sebagai walikota merupakan hal yang baru pertama kali terjadi. Baluchzehi memimpin wilayah di daerah konservatif yang cukup  bermasalah. Para pendukung Salafi  ektrem bersenjata al-Qaeda, seperti Jaish al – Adl, yang merupakan cabang dari Jundallah,  juga beraktivitas aktif di sana. Dari waktu ke waktu ada konflik berdarah antara kelompok-kelompok ini dan angkatan bersenjata Iran. Militan ini, karena konservatisme agama dengan pemahaman radikal mereka, sangat menentang gagasan naiknya perempuan sebagai anggota aktif di ruang publik .

Baluchzehi sebagai walikota,  terlepas dari berhasil atau tidaknya kepemimpinannya kelak, setidaknya telah memberikan harapan baru. Pertama, naiknya seorang dari mazhab Sunni di dalam negara yang mayoritas Syiah seolah mengikis anggapan bahwa di Iran, Sunni dibantai Syiah. Faktanya tidak demikian, di Iran semua agama dihormati dan diperlakukan dengan adil. Agama Kristen, Yahudi, Majusi dan termasuk mazhab Sunni yang minoritas dihormati hak-haknya, dijamin keselamatannya dan mereka memiliki perwakilan di jajaran parlemen Iran.

Kedua, terpilihnya seorang wanita sebagai pemimpin di Iran, lagi-lagi mementahkan propaganda Barat yang menyebutkan bahwa gerak wanita di Iran dibatasi oleh sistem pemerintahan Islam yang ketat. Sebelum revolusi Islam Iran, Raja Iran Syah Reza Pahlevi memberikan kebebasan pada rakyatnya, yang didukung penuh oleh AS dan Inggris. Sehingga pada masa itu Iran merupakan negara yang sangat toleran terhadap terhadap nilai-nilai Barat yang kemudian diadopsi dengan nama modernisasi. Akhirnya pada tahun 1979 Revolusi Islam meraih kemenangan yang dipimpin Imam Khomeini yang sebelumnya bertahun-tahun hidup dalam pengasingan di Perancis. Setelah Syah Reza tumbang dan diadakan referendum yang diawasi oleh PBB dan 98,2 persen rakyat menerima sistem Islam, Republik Islam Iran pun berdiri. Apakah dengan digantinya sistem pemerintahan di negara Iran, yang kini berlandaskan atas hukum Islam menjadikan wanita-wanita Iran terpenjara? Tidak. Dengan tetap tersembuyi di balik hijabnya mereka bangkit, mereka membuktikan bahwa hukum Islam bukanlah penghalang untuk berprestasi ataupun bekerja untuk umat.

Naiknya Beluchzehi ini tentu sangat menohok Barat yang selama ini selalu mengkampanyekan Islam sebagai agama kolot yang menindas perempuan. Hak waris yang lebih sedikit, kewajiban berhijab hingga poligami  yang dianggap mengintimidasi wanita sering dijadikan senjata untuk menyerang Islam, dan tidak sedikit wanita muslimah yang latah menyuarakan ‘suara Barat’ atas nama feminisme ataupun kesetaraan gender, yang acapkali kebablasan.

 

Nama Khalifah Umar di Iran.

Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, pernah mengeluarkan fatwa tentang haramnya segala bentuk pelecehan, penghinaan ataupun penistaan pada simbol-simbol yang dimuliakan Sunni. Fatwa itu dibuat berdasarkan keluhan akan adanya pihak yang mengklaim dirinya sebagai Syiah Ahlul Bait yang sangat gemar melakukan pelecehan, caci maki dan penghinaan tersebut. Rahbar pernah menyampaikan, bahwa dengan mencaci maki Sunni maupun tokoh yang dihormati mereka, itu sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang Syiah, dan sama sekali tidak membela Syiah. Saling hujat dan pertikaian yang terjadi di dalam tubuh Islam hanyalah menguntungkan plot zionist yang tidak perlu mengotori tangannya untuk menumpahkan darah kaum muslimin.

Sebagai bukti bahwa Iran konsisten dengan persatuan umat, di salah satu sudut kota di Iran, ada sebuah jalan yang bernama Hazrat Omar ra. Nama jalan, seringkali diambil dari nama para pahlawan atau nama seorang tokoh yang memiliki jasa ataupun pengabdian yang besar semasa hidupnya. Dan nama khalifah kedua yang diabadikan di Iran, bertentangan dengan serangkaian fitnah yang selalu di lancarkan oleh kelompok Syiahphobia. (LiputanIslam.com/almonitor/AF)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL