logo NULiputanIslam.com — Wajah-wajah teror seperti Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), Al-Qaeda dan kelompok teroris lainnya selalu mengatasnamakan Islam, dan hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan: benarkah Islam yang menganjurkannya? Lalu, apa yang dilakukan ummat Islam terhadap fenomena ini?

Faktanya, dalam dunia Muslim global kita bisa menemukan gerakan anti-ekstremis, seperti gerakan pemimpin dan cendekiawan Muslim yang menolak kelompok ISIS dan kelompok teroris lainnya. Di Inggris, Liga Pemuda Muslim mendeklarasikan ideological holy war yang menentang ekstremisme, dan YouTube pun mencoba untuk merekrut Muslim Amerika Serikat untuk menghadang produk-produk ekstremis.

Dan di Indonesia, yang merupakan negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia juga tengah melakukan gerakan masif untuk melawan ekstremisme.

Nahdlatul Ulama (NU), adalah organisasi Islam terbesar di dunia, dengan jumlah anggota sekitar 50 juta orang. Organisasi ini bergelut dalam bidang amal, keagamaan, dan gerakan politik, yang dibentuk 90 tahun yang lalu, pada tahun 1926 sebagai respon atas gerakan Wahabi.

Wahabi adalah gerakan pembaharu ultra-konservatif yang berbasis di Arab Saudi yang mendukung hukum-hukum puritan dari penafsiran mereka terhadap Islam. Wahabi menolak gagasan bahwa agama adalah ranah privat. Wahabi juga menolak pemisahan antara urusan agama dengan kenegaraan. ISIS merupakan salah satu contoh kelompok yang menganut paham Wahabi, yang lalu menggunakan teks-teks agama sebagai legitimasi atas kekerasan, ataupun pembunuhan terhadap orang-orang –orang yang dianggap kafir.

Tujuan NU adalah untuk menebarkan pesan tentang Islam yang toleran, menghadang gerakan radikalisme, ekstremisme dan terorisme di Tanah Air. Gerakan ekstremis ini diyakini berawal dari kesalahan memahami ajaran Islam. Karenanya, NU akhirnya mencanangkan gerakan anti-ekstremis global pada tahun 2014.

Setelah serangan terorisme di Paris, Perancis beberapa waktu yang lalu, Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla (JK), yang juga merupakan Dewan Penasehat NU, mengutuk terorisme tersebut dalam konferensi tiga hari yang dilaksanakan di Malang, Indonesia. Konferensi ini digelar oleh International Conference of Islamic Scholars (ICIS), yaitu gerakan anti radikalisme di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2002, yang merupakan respon atas peristiwa 9/11. JK berkata, “Serangan tersebut tidaklah terkait dengan agama, karena Islam tidak pernah membenarkan hal itu.”

NU juga telah ‘go international’. Pada Desember 2014, NU mendirikan organisasi nirlaba yang disebut Bayt ar-Rahmah di Winston Salem, California Utara, untuk melayani aktivitas internasional. Rencananya, Bayt ar-Rahmah akan menggelar konferensi internasional dan even budaya di Washington, pada musim semi tahun 2016, seperti yang diungkapkan oleh Yahya Cholil Staquf, Sekretaris Jenderal NU.

NU juga membangun ‘pusat pencegahan’ di Indonesia, untuk mendidik murid-murud belajar Bahasa Arab untuk menangkis retorika jihadis bersama-sama dengan teolog NU. Lalu, NU menjalin kerjasama program dengan University of Vienna, Austria, yang kemudian dinamai Vienna Observatory for Applied Research on Radicalism and Extremism (VORTEX). Proyek ini didanai oleh Kementrian Dalam Negeri, bekerja untuk menangkis ide-ide radikal dan menyebarkannya secara global. Selain itu, menurut Staquf, pada proyek mendatang NU juga akan bekerjasama dengan pemerintah Swedia dan Inggris.

Dalam upayanya ‘go international’, NU tetap concern pada kepentingan domestik. Tentu saja, di Indonesia sendiri pencegahan terhadap ekstremisme sangat dibutuhkan. Indonesia telah menghadapi serangan teroris dalam beberapa tahun terakhir, seperti serangan di resort dan hotel mewah. NU menyebutkan, kampanye anti-radikalisme ini dicanangkan karena adanya gerakan radikal di Indonesia sendiri. NU menunjukkan perbedaan spesifik antara Islam Indonesia, yang dipercaya jauh lebih moderat dibandingkan dengan Islam di Timur Tengah, harus didorong perkembangannya baik di dalam maupun luar negeri. “Saat kita memahami bahwa ancaman terorisme ini sifatnya global, maka kita butuh konsolidasi yang juga berskala global untuk menghadapinya,” ujar Staquf.

Indonesia adalah salah satu ‘rumah’ terbesar bagi bagi ummat Islam di dunia. Pada November 2014, Majelis Ulama Indonesia, bersama-sama dengan NU mengumumkan rencana untuk memobiliasasi 50.000 pengkhotbah untuk menyebarkan Islam yang moderat.

Berkaitan dengan pluralisme, gagasan besar Islam Indonesia bisa dibawa ke kancah internasional sebagaimana yang ditunjukkan dalam artikel tahun 2012 (Indonesian policy journal Strategic Review). Meskipun penduduk di Indonesia mayoritas beragama Islam, mereka bisa hidup berdampingan dengan pemeluk agama Hindu dan Budha. Semboyan Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika yang bermakna persatuan dalam berbedaan, telah melekat dalam benak Muslim Indonesia. Hal inilah yang kemudian melatar-belakangi Islam Nusantara, yang merupakan perwujudan Islam Ahlussunah Wal Jamaah (Sunni) yang toleran dan anti kekerasan.

Dalam film Rahmat Islam Nusantara berdurasi 90 menit yang dirilis NU, terlihat bahwa cendekiawan Muslim Indonesia menolak dan mengkritik kebarbaran ISIS yang mengklaim tengah mengamalkan Al-Quran dan hadist.

Film tersebut menggarisbawahi ruang lingkup/ platform NU yang anti ekstremisme. “Di tingkatan hulu, maka tugas ulama untuk memerangi embrio terorisme. Sedangkan di hilir, maka perang terhadap terorisme merupakan tugas dari institusi penegak hukum,” jelas Hasyim Muzadi, Sekretaris Jenderal ICIS. (ba)

___

Tulisan ini diterjemahkan dari Huffingtonpost.com, yang berjudul ‘World’s Largest Islamic Organization Tells ISIS To Get Lost’

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL