Limufti saudi syeikh abdul azizputanIslam.com — Siapa yang tidak mengenal Mufti Agung Arab Saudi Sheikh Abdulaziz bin Abdullah? Ia kerap menjadi  di media-media internasional karena fatwanya yang kontroversial. Berikut ini rangkumannya:

Fatwa kontroversial pertama: semua gereja harus dihancurkan

Awalnya, Parlemen Kuwait menyerukan larangan pembangunan gereja, namun kala itu, inisiatif tersebut belum disahkan menjadi Undang-Undang. Lantas Society of Revival of Islamic Heritage, salah satu LSM, meminta agar Syeikh Abdulaziz menjelaskan bagaimana hukum Islam terkait masalah tersebut.

Dan jawabannya sunggung mengejutkan. Syeikh Abdulaziz menyatakan bahwa semua gereja di Semenanjung Arab harus dihancurkan. Ia menambahkan, bahwa Semenanjung Arab adalah untuk satu agama saja. [1]

Tentu saja pernyataannya ini memicu kemarahan dan kecemasan dari orang-orang Kristen di seluruh Timur Tengah, seperti di Lebanon, Mesir, Yordania, dan lainnya. Bagi Arab Saudi sendiri, semua agama selain agama Islam dilarang, tidak ada gereja, meskipun ada minoritas Kristen yang secara teoritis diperbolehkan menjalankan ajaran agamanya atau beribadah di ranah privat atau di rumah mereka sendiri.

Fatwa ini banyak menuai kritik. Diantaranya dari Raymond Ibrahim dari Jihad Watch. “Mengingat histeria yang muncul di Barat setiap kali non-otoritatif menyinggung Islam (misalnya seorang pendeta yang tidak dikenal), maka bayangkan apa yang akan terjadi jika misalnya pembesar Kristen – katakanlah Paus, membuat pernyataan bahwa semua masjid di Italia harus dimusnahkan. Bayangkan hiruk pikuk media di Barat akan mengguncang, dan teriakan seperti “fanatik”, “intoleransi” akan melengking. Lalu ada tuntutan untuk meminta maaf, jikalau tidak—harus mengundurkan diri.”

Fatwa kontroversial kedua: wanita tidak boleh mengemudi

Larangan bagi wanita untuk mengemudi di telah menjadi isu hangat sejak bertahun-tahun yang lalu. Tak heran, pada tahun 2011, sekelompok perempuan Saudi menyelenggarakan Woman2Drive, sebuah gerakan yang mendorong perempuan utnuk mengabaikan larangan tersebut, lalu mengunggah gambar/ video mereka saat mengemudi di media sosial. Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran kaum perempuan agar berani melakukan perubahan. Tetapi gerakan itu tidak sukses.

Wartawan Arab Talal Al Harbi menyampaikan kritiknya. Menurutnya, perempuan Saudi seharusnya diizinkan mengemudi, tetapi dibatasi hanya untuk keperluan mengantar anak ke sekolah atau mengantar keluarga yang tengah sakit. Menurutnya, perempuan harus diberikan haknya untuk melakukan hal-hal yang sederhana seperti itu.

Syeikh Abdulaziz pun tidak ketinggalan mengeluarkan fatwanya. [2] Ia menyebutkan bahwa seorang perempuan yang mengemudi akan “expose them to evil” atau cenderung mengarahkan mereka pada kejahatan. Selain itu, Syeikh juga menyebut bahwa pria yang memiliki obsesi dan iman yang lemah, bisa membuat pengemudi perempuan berada dalam bahaya. Menurut The Independent, perempuan yang mengemudi sendirian juga bisa menyebabkan masalah bagi keluarga karena keberadaannya akan sulit untuk diketahui.

Fatwa kontroversial ketiga: dilarang bermain catur

“Bermainan catur membuang-buang waktu, dan memungkinkan orang untuk menghambur-hamburkan uang. Hal ini menyebabkan permusuhan dan kebencian di antar masyarakat,” jawab Syaikh Abdulaziz, saat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh warga. [3]

Syaikh Abdulaziz membandingkan permainan catur dengan permainan warga Arab sebelum kedatangan Islam, yang disebut “maisir,” yang mengandung unsur perjudian dan dilarang dalam al-Quran.

Fatwanya tersebut tidak serta merta menjadikan permainan catur dilarang di Saudi, karena fatwa tersebut tidak berkekuatan hukum. Meski demikian, fatwa haram terhadap catur menimbulkan perdebatan dalam masyarakat Saudi saat ini.

Fatwa kontroversial keempat: Twitter adalah sumber dari segala kejahatan

Bercengkrama dengan teman-teman dari berbagai penjuru dunia, berbagi informasi dan pengetahuan, tidak bisa dipungkiri memang membuat banyak pengguna media sosial seperti Twitter lupa waktu. Namun yang memanfaatkan Twitter untuk hal-hal positif juga tidak sedikit, misalnya untuk melakukan dakwah, hingga mencari nafkah.

Bagaimana pandangan Syaikh Abdulaziz terkait Twitter?

“Twitter adalah sumber dari segala sumber kajahatan dan kehancuran. Jika digunakan dengan benar, bisa menjadi manfaat yang nyata, tetapi sayangnya Twitter digunakan untuk hal-hal yang sepele,” komentar dia, dalam salah satu acara televisi. [4]

Syeikh juga menyebutkan bahwa Twitter digunakan untuk mengkampanyekan kebohongan, gosip, dan fitnah terhadap Islam.

Namun netizen Arab Saudi tidak terlalu menganggap serius fatwa tersebut, terbukti dari tagar #WhydidTwittersucceedinSaudiArabia yang digunakan oleh para pengguna Twitter menjadi trending topic. Banyak diantara mereka yang membantah dengan nada sarkasme, apalagi bagi warga Saudi yang hidup di bawah kerajaan monarkhi absolut, dimana lagi mereka bisa menyalurkan ekspresinya selain di media sosial?

“Orang-orang perlu wadah untuk mengekspresikan diri, untuk memulai untuk mengungkapkan apa yang tersembunyi, menanggalkan topeng tanpa rasa takut atau karena perintah, atau sensor dari siapapun,” cuit seorang netizen.

Fatwa kontroversial kelima: anak perempuan usia 10 tahun boleh dinikahi

Lazimnya, anak perempuan usia 10 tahun masih senang bermain boneka dengan teman-temannya. Namun Syaikh Abdulaziz menyatakan bahwa anak perempuan usia 10 tahu boleh dinikahi. Dan menurutnya, siapapun yang menganggap bahwa mereka masih terlau muda, ia telah melakukan ketidak-adilan.

“Wanita yang belum menikah pada usia 25 tahun, sesungguhnya mereka telah mengikuti jalan yang buruk,” tambah dia.

Pernyataannya ini disampaikan saat kelompok hak asasi manusia di Arab Saudi meminta pemerintah untuk mengakhiri pernikahan dini di negara tersebut dengan menetapkan usia minimum untuk menikah. Banyak yang menyorot terkait pernikahan gadis-gadis yang masih muda belia dengan pria yang usianya jauh lebih tua.

“Kamu mendengar banyak tentang pernikahan di bawah umur di media. Namun kita tahu bahwa hukum Islam tidaklah membawa ketida-adilan bagi perempuan. Untuk itu harus dikatakan bahwa tidak mengizinkan menikahkan anak perempuan yang belum berumur 15 tahun adalah sesuatu yang salah. Perempuan yang berusia 10 atau 12 tahun boleh dinikahi. Ibu kita, nenek kita, dan generasi sebelum mereka, menikah ketika usia mereka hampir menginjak 12 tahun,” paparnya. (ba)

Referensi:

[1] https://www.rt.com/news/peninsula-saudi-grand-mufti-701/

[2] http://www.dailymail.co.uk/news/article-3534591/Saudi-Arabia-s-cleric-defends-ban-women-driving-expose-evil.html

[3] http://nypost.com/2016/01/21/chess-is-evil-says-saudi-arabias-grand-mufti/

[4] http://www.bbc.co.uk/newsbeat/article/29722810/twitter-source-of-all-evil-says-saudi-arabia-cleric

[5] http://www.brisbanetimes.com.au/articles/2009/01/15/1231608834052.html

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL