Sumber: kompas.com

Cirebon, LiputanIslam.com– Keraton Kasepuhan Cirebon pada Senin (4/11) menggelar tradisi pencucian pusaka dan membuat makanan khas dalam rangka menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Siraman panjang atau pencucian pusaka meliputi 9 piring tabsi, 40 piring pengikut, 2 guci, dan 2 gelas yang semuanya diyakini telah berusia ratusan tahun.

Benda pusaka yang bertulisan kaligrafi tersebut hanya dicuci setahun sekali, tepatnya pada lima Maulud. Pusaka-pusaka itu akan digunakan pada acara jamuan upacara Panjang Jimat, puncak peringatan Maulid Nabi pada Minggu 10 November 2019 mendatang. Tradisi ini pertama kali digelar pada masa Sunan Gunung Jati tahun 1479.

Pencucian diawali saat sekitar 20 orang berpakaian adat membawa pusaka itu dalam balutan kain putih. Ketika disiram air, mereka berselawat dan memanjatkan doa. Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat turut memimpin pencucian pusaka di sebuah ruangan di belakang keraton.

Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati (PRA) Arief Natadiningrat mengatakan, makna pencucian pusaka adalah setiap orang harus membersihkan diri untuk memulai sesuatu, dalam hal ini menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. “Air ini mencuci kaligrafi, kalimat toyiban, dan selawat. Diharapkan air pencucian pusaka itu punya berkah,” katanya.

Baca: Awal Pekan, Harga Bahan Pangan Serempak Naik

Setelah pencucian pusaka, keluarga Keraton Kasepuhan menggelar tradisi buka bekasem, yakni potongan ikan yang telah dimasukan ke dalam gentong sebulan lalu. “Dulu, para wali biasanya tidak makan daging, tetapi ikan. Makanya, bekasem-nya ikan. Cirebon juga terkenal sebagai daerah pesisir sehingga lauknya ikan,” terang Sultan. (aw/kompas/detik).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*