penyidik charlie hebdo2Paris, LiputanIslam.com — Kepala penyidik insiden serangan Charlie Hebdo ditemukan tewas di rumahnya, Kamis (8/1), atau sehari setelah terjadinya serangan tersebut.

Polisi menyebut kematian ini adalah karena bunuh diri. Namun bagi para pengamat dan media massa independen, kematian ini semakin menambah kecurigaan bahwa serangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo adalah aksi yang telah disetting.

Sebagaimana dilansir infowars.com, Senin (12/1), Helric Fredou (45 tahun) ditemukan tewas di kantornya saat tengah mempersiapkan laporan tentang aksi serangan tersebut. Sehari kemudian polisi menyatakan penyebab kematian tersebut adalah bunuh diri.

“Menurut organisasi polisi, komisaris (Helric Fredou) menderita depresi,” tulis media India Medhaj News.

Kematian Fredou juga dilaporkan oleh sebagian media mainstream meski semuanya memberikan sudut pandang yang sama, tanpa menyinggung kemungkinan adanya upaya untuk menyembunyikan fakta sebenarnya tentang serangan Charlie Hebdo.

“Ia (Fredou) ditugaskan untuk menyelidiki salah satu keluarga salah satu korban, namun meninggal sebelum menyampaikan laporannya,” tulis situs the independent.

“Ia dikabarkan telah mewawancarai keluarga-keluarga korban serangan Charlie Hebdo beberapa jam setelah terjadinya serangan. Tidak diketahui apakah keputusannya untuk bunuh diri karena terkait dengan serangan Charlie Hebdo,” tambah the independent.

“Apakah benar karena bunuh diri, atau karena ia tahu terlalu banyak?” tulis infowars.com.

Serangan majalah Charlie Hedbo semakin mengundang kecurigaan setelah diketahui bahwa pelakunya memiliki kaitan dengan agen inteligen AS, Anwar al-Awlaki, yang menjadi pemain kunci dalam sebagian besar aksi serangan terhadap negara-negara barat, termasuk serangan WTC 9/11, demikian infowars.com melaporkan.

“Saya dikirim oleh Al Qaida Yaman. Saya bergabung dengan mereka dan Anwar al-Awlaki lah yang telah membiayai saya,” kata seorang pelaku serangan kepada sebuah televisi sebelum kematiannya.

Menurut infowars.com Al-Awlaki memiliki kedekatan khusus dengan para pejabat inteligen AS. Ia bahkan pernah mendapat jamuan makan di Pentagon.

“Ia diduga bekerja untuk merekrut para pelaku aksi serangan teror yang ditujukan ke negara-negara barat,” tambah infowars.com dalam laporannya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*