Tentara Israel di Golan

Tentara Israel di Golan

LiputanIslam.com — “This is a playoff situation in which you need both teams to lose, but at least you don’t want one to win — we’ll settle for a tie. Let them both bleed, hemorrhage to death: that’s the strategic thinking here. As long as this lingers, there’s no real threat from Syria.”

Kalimat tersebut terlontar dari Alon Pinkas, Mantan Konsulat Jenderal Israel di New York, yang dipublikasikan oleh the New York Times pada tanggal 5 September 2013. Kala itu, Presiden Amerika Barack Obama berencana akan melancarkan intervensi militer untuk ‘menghukum’ Presiden Suriah Bashar al-Assad atas tuduhan telah melanggar ‘red line’ dengan menggunakan senjata kimia di Ghouta, Suriah.

Akibat serangan senjata kimia pada tanggal 21 Agustus 2013 tersebut, dikabarkan sekitar 300 warga sipil tewas termasuk anak-anak. Pemerintah dan pemberontak saling tuduh. Walau demikian, Obama merasa punya bukti kuat untuk bahwa pemerintah Suriah merupakan pelaku dari serangan mematikan tersebut, dan karenanya pantas untuk dihukum.

Dimanakah posisi Israel saat itu? Mungkin pernyataan Alon Pinkas cukup mewakili. Tergambar dengan jelas bahwa pihaknya adalah yang paling diuntungkan dengan adanya perang Suriah yang telah berlangsung selama tiga tahun. Menurut Pinkas, posisi Israel dalam perang Suriah adalah “menghendaki  kedua tim kalah, dan tidak ingin melihat salah satunya menang. Dengan membiarkan mereka [umat Islam yang sedang berperang di Suriah] berdarah-darah, maka dipastikan tidak akan ada ancaman yang datang dari Suriah.”

Mungkin kita akan dibuat bertanya-tanya, apakah Suriah merupakan ancaman bagi Israel?

Melihat kisah perseteruan Israel dengan Suriah sejak awal negara Israel berdiri, dan mendapati fakta bahwa Suriah tidak pernah berdamai dengan Israel dan posisi mereka hanya gencatan senjata, sangat wajar bila Israel khawatir, bahwa sewaktu-waktu, akan ada ancaman terhadap eksistensi mereka dari Suriah. Sepertinya, hal ini memang sudah tercium oleh Israel, dan dari khotbah Grand Mufti Suriah saat pemakaman anaknya yang tewas dibunuh oleh pemberontak, sangat besar kemungkinan bahwa suatu saat Suriah akan bertatap muka kembali dengan Israel di medan pertempuran.

“Saya serukan kepada semua ibu para syuhada, semua anak dari para syuhada, semua ayah para syuhada, atas nama semua istri para syuhada, untuk berkata kepada semua orang yang membunuh:  Berhentilah kalian. Berhentilah kalian membunuhi anak-anak bangsa ini.  Kami tidak mempersiapkan pemuda-pemuda kami untuk dibantai oleh bangsa sendiri. Sesungguhnya kami persiapkan mereka untuk syahid di tanah Palestina. Dengarkanlah wahai para pemimpin Arab! Saya mempersiapkan anak saya untuk syahid di Palestina.”

Ucapan seorang alim ulama yang  berhasil ‘mengurus’ kehidupan beragama dari 23 juta rakyat Suriah, cukup layak untuk dipercaya. Sheikh Ahmad Hassoun jujur menyatakan bahwa pemuda-pemuda Suriah, dipersiapkan untuk syahid di Palestina. Artinya, selama masih ada Suriah, maka Israel akan terancam. Apalagi dukungan Suriah yang tidak terbatas terhadap kelompok perlawanan seperti Hamas, Hizbullah, dan Jihad Islam. Dengan membiarkan Suriah terjebak dalam perang yang berkepanjangan, maka Israel aman dari ancaman ‘jihad ke Palestina’ yang berpotensi melenyapkan Israel dari peta dunia.

Dengan pesatnya perkembangan tekhnologi saat ini dan mudahnya mengakses informasi, rasanya sangat tidak mungkin bahwa pihak-pihak yang berseteru di Suriah tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Bukankah sangat mudah sekali membaca bahwa Israel menghendaki kehancuran Suriah, baik di kubu Bashar al-Assad maupun di kubu pemberontak?

Namun peristiwa yang terjadi hari ini di Suriah sungguh memprihatinkan.  Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel dengan ringan melangkahkan kakinya menuju rumah sakit di Dataran Tinggi Golan yang disediakan untuk merawat para pemberontak Suriah yang terluka. Dengan senyum penuh arti, Bibi bersalaman dengan salah satu tentara pemberontak. Tentu, bagi siapapun yang mampu berpikir dengan logika sehat akan bertanya-tanya, tidak tahukah mereka [pemberontak ] bahwa Israel sama sekali tidak menghendaki mereka menang? Atas kunjungan yang penuh perhatian ini, Muhammad Badie, pemimpin oposisi yang bertempat di Turki sangat berterima kasih kepada Netanyahu.

netanyahu fsa golan

Bibi menyalami pemberontak Suriah.

Tersiar pula kabar bahwa komandan baru Free Syrian Army yaitu Abdul – Ilah al – Bashir,  merupakan hasil didikan Israel. Al – Bashir menggantikan mantan komandan FSA sebelumnya yaitu  Salim Idris yang telah dipecat. Untuk mengelabui publik, al-Bashir dikabarkan telah meninggal dunia dan dimakamkan di provinsi Daraa, sehingga keberadaannya di Israel untuk dilatih tidak terendus.

Memiliki telinga namun tidak mampu mendengar, memiliki mata namun tidak mampu melihat, mungkin tepat untuk menggambarkan kondisi pemberontak di Suriah hari ini. Kemenangan Israel adalah ketika umat Islam saling bunuh satu sama lain sehingga tidak ada terlintas kembali dipikiran mereka untuk membebaskan Palestina. Ada informasi yang beredar, bahwa Israel sangat menikmati pertunjukan demi pertunjukan yang diperlihatkan dalam perang saudara di Suriah, dan mereka menyaksikan drama tersebut dengan ditemani secangkir kopi dan snack yang gurih. Sungguh sayang, kitalah aktor – yang sedang di tonton oleh mereka dengan penuh antusias. Tidak hanya di Suriah, namun juga di negara Timur Tengah lainnya seperti Mesir dan Irak.

Dan karena Tuhan berfirman bahwa Dia tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang berusaha untuk mengubah nasibnya, alangkah baiknya jika mulai detik ini, kita mulai mawas diri dan memperdalam ilmu. Dengan begitu, kita bisa membedakan mana kawan dan mana lawan. Salah mengidentifikasi lawan, bukan hanya merengut jiwa-jiwa yang tidak berdosa, atau menghancurleburkan sebuah negara berdaulat, tetapi juga meniadakan cinta kasih yang merupakan rahmat Tuhan. Sudah terbukti dengan sangat jelas di negeri Syam – bagi kelompok yang telah salah mengenali musuhnya, saat berhadapan dengan yang dianggap lawan, tidak ada lagi cinta dan pengampunan. (LiputanIslam.com/AF)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*